STOP PRESS! Menteri Perhubungan Umumkan Revisi Taksi Daring di Tujuh Kota

Kolumnis
Peneliti di Departemen Sejarah, UGM, Alumnus Pascasarjana Leiden University, akan menerbitkan buku tentang KAA

Ali Sastroamidjojo, Pencetus Konferensi Asia-Afrika 1955

Kolumnis: Wildan Sena Utama
18 April, 2017dibaca normal 3 menit
Peran besar Ali Sastroamidjojo dalam mendorong terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung, 62 tahun lalu, tenggelam di bawah bayang-bayang nama besar pemimpin Dunia Ketiga seperti Sukarno, Jawaharlal Nehru, dan Gamel Abdul Nasser. Mereka mendapat panggung dan menjadi sorotan internasional di KAA dan setelahnya. Sedangkan peran vital Sastroamidjojo sebagai inisiator dan “pembangun infrastruktur” KAA terabaikan.

Ali Sastroamidjojo adalah tokoh besar diplomasi Indonesia yang dilupakan dalam historiografi KAA dan solidaritas Asia-Afrika yang ditulis oleh banyak sejarawan Barat dan non-Barat. Banyak orang lebih mengingat bahwa Sukarno berperan besar terhadap kemunculan gagasan KAA. Padahal, bung besar bukanlah inisiator utama di balik munculnya peristiwa historis tersebut. Sastroamidjojo, waktu itu menjabat Perdana Menteri Indonesia, adalah figur utama yang dengan karisma dan kematangan berdiplomasinya meyakinkan negara Asia-Afrika harus bersatu untuk mencari solusi atas permasalahan yang menimpa dunia saat itu.

Keinginan Sastroamidjojo untuk menyelenggarakan KAA sebagian besar muncul sebagai respons atas Perang Dingin yang semakin memanas di Asia. Namun, bila ditelusuri secara genealogis, gagasan Ali Sastroamidjojo tentang KAA sebetulnya tidak muncul secara tiba-tiba. Visi internasionalisme Ali Sastroamidjojo tentang pentingnya pembentukan kerjasama politik negara Asia-Afrika telah dibentuk sejak lama oleh perjalanan politiknya semenjak mahasiswa-aktivis di Belanda sampai menjadi duta besar Indonesia di Amerika Serikat.

Sastroamidjojo, Anak Gaul Asia-Afrika

Sejak berkuliah di Belanda pada 1923, Ali Sastroamidjojo telah mengamati dan bertemu dengan banyak aktivis anti-kolonial Asia dan Afrika yang membangun gerakan politik transnasional di Eropa. Saat menjadi mahasiswa hukum di Leiden, ia memutuskan untuk menjadi anggota Perhimpunan Indonesia (PI), simpul utama pergerakan anti-kolonial Indonesia di Belanda. Pada 1925, PI mempunyai strategi politik baru: agar perjuangan politik lebih kuat dan efektif maka PI akan berkonsentrasi mempropagandakan pandangan politiknya dalam dunia internasional.

Salah satu programnya adalah menjalin kontak dengan organisasi dan aktivis anti-kolonial di Eropa, baik yang berasal dari negara jajahan ataupun negara Eropa, dan mempunyai perhatian pada perjuangan kemerdekaan negara jajahan. Untuk mendorong misi tersebut, PI mulai aktif membangun jejaring politik dengan para aktivis dan intelektual dunia jajahan lain serta mengikuti konferensi internasional yang digelar di ibukota imperial Eropa.

Paris adalah salah satu metropolis anti-imperial yang paling sering dikunjungi oleh para aktivis PI untuk membangun kontak dengan gerakan anti-kolonialisme global Asia dan Afrika. Seperti para aktivis PI lainnya, Sastroamidjojo yang beberapa kali mengunjungi Paris terkesima meresapi geliat aktivitas pergerakan anti-kolonialisme para aktivis Asia-Afrika di sana. Pengalamannya tentang aktivisme Paris dituangkan dalam otobiografinya Tonggak-Tonggak di Perjalananku (1974).

“Pertukaran ide antara para pemuda Indonesia dan para pemuda Asia dan Afrika membantu dan memperkaya gagasan perjuangan anggota-anggota PI. Dari kontak-kontak yang terbangun ini, keyakinan politik kita menjadi bertambah kuat,” tulis Sastroamidjojo.

Salah satu konferensi penting yang diikuti oleh PI adalah 'Konferensi Melawan Penindasan Kolonial dan Imperialisme' di Brussels pada 1927. Saat itu delegasi PI diketuai oleh Mohammad Hatta yang, dalam kesempatan tersebut, untuk kali pertama bertemu dengan Nehru muda dan para pemimpin muda pergerakan Asia dan Afrika. Sastroamidjojo memang bukan salah satu delegasi PI yang berangkat, tetapi ide-ide yang disampaikan oleh konferensi itu serta pengalamannya berinteraksi dengan aktivis Asia dan Afrika memengaruhi visi politiknya mengenai pentingnya membangun kerjasama antara pergerakan anti-kolonial Asia dan Afrika. Nilai penting Konferensi Brussels sebagai akar terbentuknya solidaritas Asia-Afrika diingatkan kembali oleh Sukarno dalam pidato pembukaannya di KAA.

Mewujudkan Visi lewat KAA

Setelah Indonesia merdeka, Ali Sastroamidjojo selalu mendapatkan posisi yang berhubungan dengan dunia internasional. Ia tergabung dalam delegasi Indonesia yang dikirim untuk mengikuti Konferensi Antar-Hubungan Asia di New Delhi pada 1947. Banyak sejarawan menyebut konferensi ini sebagai tonggak penting yang berdampak signifikan memuluskan terselenggaranya KAA. Bagi Sastroamidjojo secara pribadi, sebagaimana ditulis dalam biografinya, konferensi ini menyingkap kesadaran politis bahwa Indonesia tidak berdiri sendiri dalam memperjuangkan aspirasi nasionalnya. Ia merasakan bahwa bangsa-bangsa Asia lain, yang diwakili dalam konferensi itu, sedang berjuang pula seperti Indonesia.

Kesempatan emas untuk memperluas dan merekatkan hubungan diplomatik dengan negara-negara Asia dan Afrika dilakukan oleh Sastroamidjojo ketika menjabat duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat antara 1950-1953. Ia mengakui hubungan baik dengan duta-duta besar Asia dan Afrika dipupuk dengan mengadakan pertemuan rutin sebulan sekali secara bergiliran di kediaman mereka.

Pengalaman sebagai duta besar ini tidak hanya memperdalam kemampuan diplomatiknya tetapi juga semakin meyakinkannya untuk segera membangun kerjasama antara negara Asia dan Afrika. Dalam pidatonya di parlemen, saat dilantik menjadi Perdana Menteri Indonesia pada 1953, Ali Sastroamidjojo menekankan ketegangan yang diakibatkan oleh Perang Dingin tidak bisa diredakan apabila Indonesia hanya menjalankan diplomasinya sendiri tanpa melibatkan negara-negara yang kedudukan dan keadaannya sama. Oleh sebab itu, menurutnya, kerjasama politik dengan negara Asia dan Afrika akan memperkuat usaha tercapainya perdamaian dunia.

Perang Vietnam yang memanas pada 1954 mendorong para perdana menteri Asia untuk bertindak mencari solusi guna meminimalisir kemungkinan meluasnya konflik. John Kotelawala, Perdana Menteri Sri Lanka, kemudian mengusulkan kepada negara-negara Asia yang baru merdeka, seperti India, Indonesia, Pakistan, dan Burma, untuk berkumpul dan membahas bahaya Perang Dingin di Asia. Saat diundang menghadiri konferensi inilah Sastroamidjojo membalas undangan dengan menyatakan agar Indonesia diberi kesempatan untuk mengusulkan sebuah konferensi yang melibatkan negara-negara Asia-Afrika.

Kotelawa memberikan lampu hijau. Dalam Konferensi Kolombo pada akhir April sampai awal Mei 1954, untuk pertama kali Sastroamidjojo mengemukakan ide penyelenggaraan KAA. Gagasan ini tak langsung bersambut. Empat perdana menteri lain skeptis untuk menjalankan konferensi internasional besar seperti itu. Namun, dengan menyatakan momentum menyelenggarakan konferensi ini sangat tepat, ditambah kesanggupan Indonesia untuk menjadi tuan rumah, Nehru dan Perdana Menteri Burma U Nu akhirnya menerima dan mendukung usulan itu.

Sastroamidjojo pun mengundang kembali empat perdana menteri lain ke Istana Bogor. Dalam Konferensi Bogor pada Desember 1954 inilah tujuan dari KAA disepakati oleh kelima negara pemrakarsa penyelenggaraan KAA. Ali Sastroamidjojo kemudian bertanggungjawab melaksanakan persiapan KAA dan, yang paling penting, mengirimkan undangan kepada negara-negara Asia dan Afrika. Keberhasilan penyelenggaraan KAA di Bandung pada 1955 sedikit banyak ialah buah pikiran dan kerja keras dari Ali Sastroamidjojo.

Gagasan yang dikemukakan Ali tentang KAA, lagi-lagi, tidak dibentuk seketika sebagai respons semata terhadap Perang Dingin. Ia lahir dari buah perjalanan politik dan kejelian Ali menangkap benih-benih solidaritas antar bangsa terjajah.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Keyword