Menuju konten utama
AKBP Ipung Purnomo

Jelang Asian Games, "Infrastruktur Jakarta Selesai Mei atau Juni"

Pemerintah masih bekerja ekstra keras untuk mengatur para atlet bisa lancar menembus jalanan Jakarta, salah satu kota paling macet sedunia.

Jelang Asian Games,
AKBP Ipung Purnomo, Deputi Keamanan dan Transportasi Inasgoc. tirto.id/Sabit

tirto.id - Penyelenggaraan Asian Games 2018 sudah di depan mata: 18 Agustus hingga 2 September mendatang. Mata internasional akan melihat kesiapan Indonesia. Sayang, hingga kini, masih banyak pekerjaan rumah yang masih belum rampung. Termasuk pembangunan sejumlah arena cabang olahraga; tak hanya di Jakarta tapi juga di tempat lain seperti di Jawa Barat dan Palembang.

Presiden Joko Widodo bahkan mengeluarkan Instruksi Nomor 3 Tahun 2018 (PDF) pada 3 April kemarin, yang intinya mempercepat proses persiapan, dari anggaran "sesuai kemampuan negara" hingga arena, dari wisma atlet hingga kelancaran transportasi.

Dari sejumlah problem yang terus diselesaikan ini, kemacetan Jakarta menjadi salah satu sorotan utama panitia pelaksana Asian Games (Indonesia Asian Games Organizing Committee/Inasgoc) dan pemerintah sendiri. Sejak tahun lalu, segala macam resolusi telah disiapkan, termasuk pencanangan pembangunan LRT dan MRT yang diharapkan jadi solusi kemacetan ibu kota.

Namun, karena kedua mega proyek tersebut belum juga selesai, Inasgoc harus tetap menyiapkan jalur alternatif lain.

Erick Thohir, ketua panitia Asian Games 2018, pernah berkata tetap akan memakai jalur arteri sebagai opsi utama. Karena itulah mereka melakukan beberapa kali simulasi transportasi guna mengukur waktu tempuh yang diperlukan bus-bus Asian Games mengarungi kemacetan Jakarta. Salah satunya test event pada awal Februari lalu, yang turut dihadiri Presiden Joko Widodo.

Kala itu, target tempuh 30 menit yang disarankan Dewan Olimpiade Asia (OCA) masih belum tercapai. Ini disebabkan kemacetan dan kondisi cuaca Jakarta yang sering hujan. Inasgoc masih terus mencari solusi agar kemacetan tak jadi noda dalam perhelatan empat tahunan olahraga akbar se-Asia ini.

Aulia Adam dari Tirto menemui AKBP Ipung Purnomo, Deputi Keamanan dan Transportasi Inasgoc, untuk membahas masalah jalanan Jakarta selama Asian Games nanti. Ipung, yang baru pulang dari Palembang sehari sebelumnya, tampak sibuk dalam acara Technical Delegate Meeting Asian Games ketiga di Ballroom Hotel Luwansa, Kuningan, Jakarta, Rabu, 4 April kemarin.

Seperti apa kesiapan mereka dalam kurun waktu yang semakin mepet? Simak wawancaranya berikut ini.

Presiden sampai mengeluarkan Inpres karena masih banyak yang belum selesai. Tanggapannya?

Saya sih berharap minimal pemerintah daerah yang terlibat dalam persiapan Asian Games ini benar-benar all out dalam membantu kami. Karena kami juga kekurangan anggaran untuk ini. Kami juga sangat berharap pada pemerintah DKI Jakarta, pemerintah Jawa Barat, pemerintah Palembang agar membantu juga masalah infrastruktur.

Karena kayak yang di Majalengka juga kemarin jalan masih ada yang rusak menuju venue. Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah Majalengka—mereka tidak memperbaiki sekarang, karena kalau diperbaiki sekarang nanti dilindas-lindas angkutan berat, malah nanti pas pelaksanaan Asian Games hancur. Sama kayak di Subang juga; di situ ada galian pasir, dan dilintasi truk-truk berat. Jadi kalau diperbaiki sekarang, nanti hancur lagi, ya mubazir. Jadi, [kami] berjanji sebulan sebelum pertandingan, jalan-jalan itu sudah baik lagi.

Mudah-mudahan kami bisa melaksanakan acara ini. Saya berharap sukses penyelenggaraannya, sukses juga prestasinya. Penonton juga benar-benar ingin menyemarakkan Asian Games.

Apakah jalur transportasi sudah sesuai target 30 menit?

Insyaallah. Karena kemarin ada sedikit hambatan ... prasarana jalan masih dalam tahap pembangunan. Tapi nanti dalam bulan Mei atau Juni, infrastruktur di Jakarta selesai. Jadi akan membantu proses percepatan pergerakan atlet dari venue ke venue. Baik itu venue di GBK, di JCC, di JIEXPO Kemayoran, ataupun venue-venue di luar itu. Misalnya di Pulomas, Rawamangun, Taman Mini, Cibubur, dan Pondok Indah.

Kami sudah ujicoba. Kami dapat waktu tempuh kurang lebih antara 26-28 menit dari Wisma Atlet ke GBK. Nanti, Insyaallah, kami akan lakukan simulasi lagi dengan situasi jalan yang berbeda, baik itu pagi, siang, ataupun sore hari. Kami lihat nanti, dengan situasi arus lalu lintas yang berbeda, kami dapat simulasi waktu tempuh yang seminimal mungkin, yang sesuai ditargetkan OCA.

Kapan?

Kami lihat perkembangannya nanti. Mungkin setelah Lebaran, lah. Mungkin Mei atau Juni, struktur jalan bisa selesai semua pembangunannya.

Rutenya sudah ditentukan atau akan berubah-ubah?

Rute sudah enggak. Kalau rute ada tiga alternatif: pertama, lewat tol; kedua, lewat jalur arteri—arteri itu jalur biasa; ketiga, lewat jalur busway. Yang jalur busway itu nanti marka jalannya khusus untuk jalan Asian Games. Kalau yang jalur utama, kami lewat tol semua. Karena lewat tol ini kami bisa meminimalisir waktu. Kalau arteri, kan, banyak hambatan, banyak gangguan.

Demi kelancaran transportasi, kabarnya sekolah-sekolah di daerah jalan yang akan dilalui atlet selama Asian Games akan diliburkan?

Bukan cuma sekolah-sekolah di sekitar situ. Kemungkinan, kalau di Jakarta—kami sudah berkoordinasi dengan Kemendikbud—bukan diliburkan, tapi kayak homeschooling. Jadi, mereka tetap ada kegiatan di rumah. Tapi, untuk keadaan-keadaan tertentu, anak-anak sekolah di dekat venue akan dilibatkan sebagai penonton. Karena ada kekhawatiran ada beberapa cabang olahraga yang kurang favorit—penontonnya tidak ada. Jadi kami arahkan anak-anak ini untuk bisa nonton. Jadi kalau diambil di teve, tetap kelihatan meriah.

Itu khusus Jakarta saja?

Jakarta, Palembang, dan Jawa Barat. Kami sudah mengimbaulah. Dan kelihatannya gayung bersambut.

Parkiran di venue-venue tertentu kabarnya juga tidak disediakan untuk mengubah mindset orang Jakarta tentang jalan kaki. Apa ini bagian upaya mencegah kemacetan?

Iya. Saya berharap masyarakat nanti dalam menonton pertandingan untuk tidak membawa kendaraan (pribadi). Karena, jujur, di venue-venue pertandingan itu, lahan-lahan parkir atau kantong-kantong parkir memang tidak ada. Sebenarnya kita ingin mengubah mindset penonton supaya jalan kaki.

Jumlah bus yang disediakan?

Jumlah bus cukup banyak, kurang lebih sekitar 600-an.

Benar pakai mesin yang lebih ramah lingkungan?

Itu khusus di dalam areal GBK saja, buat shuttle. Karena ada kemungkinan kayak di Palembang nanti pakai bahan bakar hidrogen, sama golf car. Saya baru pulang dari Palembang semalam. Kami juga melihat kondisi kendaraan di sana, kami juga menyiapkan seperti apa yang diharapkan oleh atlet—yang ramah lingkungan. Dalam arti kata, tidak ada polusinya.

Di Palembang sempat diantisipasi oleh Kementerian LHK tentang ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Takut seperti kejadian 2015. Sejauh ini bagaimana?

Kami sudah antisipasi. Beberapa tahun belakangan ini memang terjadi kebakaran hutan, tahun 2016, tahun 2017 itu tinggal satu-dua kejadian. Insyaallah tahun 2018 ini kemungkinan itu udah kecil. Kemarin ke Palembang juga bahas ini. Karena sesuai dengan apa yang disampaikan Bapak Gubernur Alex Nordien, yang bikin statement bahwa dia ingin meminimalisir kebakaran hutan. Kebakaran hutan, kan, mengganggu para atlet.

Yang dilakukan apa?

Antisipasinya dengan sosialisasi kepada masyarakat, kepada perusahaan-perusahaan untuk tidak melakukan pembukaan lahan baru dengan pembakaran hutan. Pemantauannya ketat, dari pihak Polisi, TNI, Kementerian Lingkungan Hidup sendiri berpartisipasi.

Dana tambahan Rp1,1 triliun yang diminta Inasgoc sudah dicairkan pemerintah?

Belum, belum.

Kalau transportasi menghabiskan berapa dana keseluruhan?

Kalau di transportasi kami cuma dapat anggaran Rp47 miliar. Tapi kami dapat bantuan kendaraan dari Kementerian Perhubungan maupun Pemerintah DKI, berupa bus.

LRT-MRT yakin akan selesai tepat waktu?

Kalau LRT dan MRT sebenarnya untuk mengantisipasi orang-orang di hari-hari kerja, yang menggunakan kendaraan pribadi. Nantinya, kami alihkan memakai moda transportasi yang sudah baik. Karena kayak TransJakarta sekarang ini semakin diperbaiki terus dengan memakai kendaraan yang baru. Dulu kami memakai kendaraan Cina, sekarang sudah pakai Eropa. Ada Mercy, Volvo. Jauh lebih bagus deh sekarang ini.

Kalau LRT sih dalam target; sebelum Asian Games, sudah selesai. Karena kami lihat beberapa ruas jalan, terutama dari arah Bogor ke Jakarta, atau dari arah Bekasi menuju Jakarta, sudah terpasang jalannya.

Kalau MRT itu Juni sudah selesai. Jadi dapat membantu pergerakan masyarakat menuju GBK atau venue-venue yang lain.

LRT di Palembang target selesainya?

Rencananya akhir April akan diuji coba. Mereka dapat dua set rangkaian (kereta) dari Madiun. Itu satu rangkaian ada satu loko, ada tiga gerbong. Satu gerbong itu muat 200 orang. Jadi satu rangkaian itu sekali narik bisa 600 orang. Itu sudah sangat menolong sekali. Jadi, kalau di Palembang sudah aman. Karena di Palembang—di Jakabaring—venue-venue pertandingan hanya di dalam aja. Kecuali kalau yang menginap di luar. Tapi hotelnya juga tidak jauh-jauh sekali.

Jalanan menuju Jakabaring juga masih ada yang rusak dan bolong-bolong. Keadaannya sekarang bagaimana?

Betul. Kemarin saya juga melakukan pengecekan, pemantauan di sana memang masih ada, karena memang belum selesai (perbaikan) jalan. Tiang-tiang panjang masih ada beberapa yang dirapikan sehingga konstruksi jalan yang tadinya sudah mulus ada yang bolong-bolong lagi. Pak Gubernur Alex Noerdin sudah membahas masalah ini. Jadi bulan Juni nanti masalah ini sudah tuntas.

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 2018 atau tulisan lainnya dari Aulia Adam

tirto.id - Olahraga
Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam