Menuju konten utama

Asa Tukang Duplikat Kunci: Menolak Tumpul Tergerus Zaman

Menduplikasi bentuk kunci saja tak lagi cukup. Sebab, dibutuhkan alat pembaca kode chip yang harganya jauh melampaui peralatan tukang kunci konvensional.

Asa Tukang Duplikat Kunci: Menolak Tumpul Tergerus Zaman
Lapak kunci Hendrinof, Cinere, Depok. FOTO/Khaila Adinda
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tepat pukul sebelas, ketika matahari memanjat ke atas kepala dan memancarkan silau yang membakar, Hendrinof (64) tetap bergeming. Di bawah naungan cahaya itulah, ia tekun merapikan deretan gerigi logam--perkakas usang yang mengisi kesehariannya.

Tak lama sebelum saya menyapa, ia baru saja menuntaskan pekerjaannya. Satu set casing kunci mobil Pajero berhasil diganti sesuai permintaan seorang pelanggan yang mempercayakan kunci kendaraannya kepada tangan-tangannya. Perkakas yang sedari tadi berserakan kini kembali tersusun rapi, menandai jeda sejenak sebelum pelanggan berikutnya datang.

Sudah lebih dari tiga dekade Hendrinof menekuni diri sebagai tukang duplikat kunci. Di tepi jalan raya Cinere, Depok, Jawa Barat tepat seberang mall Cinere yang hampir kehilangan nyalanya, Hendrinof bercerita jauh mengenai asalnya. Dia mulai akrab dengan logam sejak 1991 dari seorang kenalan sesama rantau asal Padang dirinya belajar.

Ia hanya butuh waktu tiga bulan memberanikan diri membuka lapak di Menteng. Waktu satu tahun ternyata tak langsung membuat seseorang jadi mahir. Bahkan mereka yang sudah belajar lebih dari setahun pun, sesekali masih suka tersendat dan belepotan

“Saya tiga bulan sudah berani buka. Jadi waktu saya buka pertama itu di Menteng,” cerita Hendrinof saat dikunjungi di lapak kuncinya, Cinere, Depok, Kamis (23/7/2026).

Seperti hidup pada biasanya, jalan Hendrinof tak selalu mulus. Lapak pertamanya di Menteng sepi karena posisi yang dinilai tidak strategis. Ia tak menyerah, lantas pindah ke Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Akhirnya pindah ke Pasar Minggu.” kenang Hendrinof sebelum sempat merambah di Depok dan Karawang lalu akhirnya menetap di Cinere sejak tahun 2000.

***

Bergeser ke sisi Barat Daya, kisah serupa datang dari Abdullah (40) nyaman disapa Abdul. Dalam lapak yang tak lebih dari dua meter persegi, bergantung puluhan anak kunci berbagai ukuran serta jenis, yang saya sendiri tak terlalu paham. Dirinya bercerita mengenai usaha dan keterampilan kakeknya dalam menyalin logam yang kini ia teruskan.

“Dari satu kampung itu awalnya satu orang itu kakek saya. Jadi silsilahnya saya generasi ketiga,” ujar Abdul di lapak kunci miliknya, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Kamis (23/7/2026).

Ketika Kunci Perlahan Kehilangan Lubangnya

Di balik lika-liku dua sosok ini, terdapat satu benang merah yang menjadi tantangan keduanya: menjamurnya kendaraan tanpa lubang kunci alias sistem keyless.

Meski bukan dengan tangannya sendiri, Hendrinof mengaku, dirinya masih bisa melayani permintaan replika kunci yang mengandalkan sinyal nirkabel itu.

“Bisa, tapi anak yang ngerjain. Ada alatnya punya kita, tapi yang ngerjain anak. Beda generasi sih ya,” katanya sambil menunjuk lapak sang anak yang ternyata letaknya bertetangga.

Ia pun turut mengakui dampak dari maraknya sistem kunci berbentuk remote pada pendapatan dan keuntungan hariannya.

“Memang ada penurunan, soalnya pemain keyless sudah banyak kan. Jadi, harga itu sudah mulai bersaing begitu. Pasti mereka cari yang lebih murah begitu. Sekarang enggak bisa kita ngambil untung-untung gede,” ujarnya.

Strateginya kini bertahan dengan membanting harga jual yang menjadi dasar tarifnya. “Kalau orang telepon ya kasih saja harga ini kan, harga paling bawah lah gitu biar orang itu nyangkut di kita,” katanya.

Di seberang, Abdul berada di posisi yang jauh lebih sulit. Dirinya bilang belum siap melayani duplikasi kunci keyless sama sekali. “Kalau keyless ya alat bantunya itu, ada alat khusus, bisa cuman kita kan belum bisa kebeli alat-alatnya,” tuturnya.

Baginya, kemampuan yang dimiliki saat ini masih sebatas melayani duplikasi kunci untuk kendaraan yang menggunakan kunci fisik.

"Masih istilahnya yang manual-manual, yang masih ada kuncinya," tuturnya sambil menunjuk sepeda motor saya sebagai contoh kendaraan yang masih mengandalkan kunci konvensional.

Bersamaan dengan waktu, teknologi kendaraan terus bergerak maju. Banyak sepeda motor dan mobil keluaran terbaru yang telah menggunakan sistem immobilizer, teknologi pengaman yang menanamkan chip transponder kecil di dalam badan anak kunci. Chip ini mengirim kode elektronik ke unit kontrol mesin kendaraan.

Jika kodenya tak cocok, mesin tidak akan menyala sekalipun kunci berhasil diputar secara fisik. Artinya, menduplikasi bentuk kuncinya saja tak cukup. Dibutuhkan alat pembaca dan penulis kode chip yang harganya jauh di atas peralatan tukang kunci konvensional.

“Sekarang kan modelnya model imo, kunci imo yang ada chip-nya. Orang lainnya sudah pada pakai, kita mah sebenarnya belum naik kelas sedikit atas terkendala alat. Tapi kalau masih bisa diakalin tetap kita buat kunci,” jabar Abdul penuh upaya.

Gerusan Zaman, Ketidakpastian Pendapatan

Lapak Duplikat Kunci

Abdul dan lapaknya di seberang Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan. FOTO/Khaila Adinda

Pendapatan mereka jauh dari kata pasti. Hendrinof mengaku biasanya mengantongi rata-rata Rp500 ribu, meski angkanya sering kali naik turun. Nasib Abdul bahkan terasa lebih pelik. Hingga siang itu, ia sama sekali belum mengantongi rupiah.

"Kalau ditanya hari ini, saya belum dapat apa-apa, bingung juga," ungkap Abdul jujur. Bagi Abdul, mendapat tiga hingga lima pelanggan dalam sehari saja sudah syukurnya tak terhingga, sebab tidak jarang ia harus pulang dengan tangan hampa.

Meski begitu, keduanya memilih tetap bertahan dengan modal yang sama, keterampilan yang tak dimiliki semua orang.

“Bertahan ya pertama kita skill-nya dari tukang kunci, nggak bisa nyari yang lain, nggak bisa banting setir lain. Ya harus bisa apa yang orang lain nggak bisa,” kata Abdul.

Bagi Hendrinof, bertahan juga merupakan tanggung jawab dalam menopang keluarganya. “Kita alhamdulillah buat biaya sehari-hari ya masih ketutup. Ya bisa juga nyekolahin anak sampai kuliah gitu,” ujarnya tersisip rasa bangga.

Ironisnya, Abdul sendiri mengaku tak berharap keahliannya dapat diwariskan pada keluarga terutama anak. “Ya kalau berharap mah anak-anak ya jangan ngikutin lah. Lebih lebih ada peningkatan yang lain sih. Kalau orang tua mah ya kan istilahnya nggak harus ngikutin orang tua, punya skill yang lain lebih baguslah. Ya terkecuali mentok-mentok itu buat terakhirnya kayak generasi saya,” ucap Abdul penuh harap pada sorot matanya.

Waktu mungkin terus menggerus peluang bisnis mereka, namun tidak dengan harapan keduanya. Menyikapi makin banyaknya pesaing di jalanan, Abdul menyerahkan semuanya pada garis takdir. Bagi mereka, selama langkah belum berhenti, rezeki akan selalu punya jalannya sendiri.

Baca juga artikel terkait PROFESI atau tulisan lainnya dari Khaila Adinda

tirto.id - Side Job
Reporter: Khaila Adinda
Penulis: Khaila Adinda
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama