tirto.id - Gelaran festival seni kontemporer tahunan, Artjog 2026, resmi dibuka pada 19 Juni 2026 di Jogja National Museum (JNM). Perhelatan yang dikenal sebagai “Lebaran Seni” ini diresmikan oleh Gusti Kanjeng Ratu Bendara yang mewakili Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya seni sebagai ruang dialog produktif yang mampu melintasi sekat zaman dan generasi.
“Kebudayaan dan seni yang terus hidup adalah yang mampu bergerak dinamis, melintasi sekat zaman, berkembang dari satu tangan generasi ke generasi,” katanya dalam sambutan pembukaan acara di fasad gedung, Jumat (19/06/2026).
Direktur Artjog, Heri Pemad, menegaskan bahwa bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, berkesenian adalah kebutuhan. “Berkesenian, melaksanakan laku budaya, menjadi sebuah kebutuhan kita di dalam hidup sehari-hari,” katanya.
Kurator tamu, Farah Wardani, menjelaskan bahwa seni kontemporer menjadi medium penting bagi masyarakat saat ini. “Kita ini masyarakat yang terluka dan seni kontemporer itu kemudian juga menjadi salah satu cara untuk proses penyembuhan luka,” paparnya dalam konferensi pers di hari yang sama.
Tahun ini, Artjog mengusung tema besar Ars Longa: Generatio, yang menjadi seri pertama dari rangkaian Ars Longa Trilogia hingga tahun 2028 mendatang. Tema yang diusung mendorong dialog antargenerasi dalam praktik seni, sekaligus membayangkan kembali peran dan relevansi sosial seni di berbagai rentang usia, serta menjadi upaya memaknai ulang praktik seni kontemporer di tengah ketidakpastian, baik sebagai bentuk perlawanan, produksi pengetahuan, maupun proses penyembuhan.
Sebagai wadah ekspresi bagi talenta baru, Artjog juga kembali menghadirkan Young Artist Award (YAA), yaitu sebuah program penghargaan bagi seniman muda yang telah konsisten dilaksanakan sejak 2013. Ajang ini bertujuan mendorong riset dan penciptaan karya yang lebih mendalam bagi para seniman di awal karier mereka. Dari 19 nominator yang masuk melalui jalur panggilan terbuka (open call), dewan juri menetapkan tiga pemenang terbaik yang masing-masing mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp30 juta.
Para pemenang tersebut di antaranya Eldin Syifa dengan karya “Laboratory of Play”, yang mengeksplorasi konsep bermain sebagai metode belajar melalui susunan material logam dan plastik daur ulang; Irmandy Wicaksono lewat karya “Nor”, yang menampilkan lima panel kain rajut besar untuk membayangkan hubungan masa depan antara manusia, teknologi, dan alam; serta Oberlan Luna melalui karya “Your Recovery is Not Required”, sebuah refleksi atas tuntutan produktivitas modern yang divisualisasikan dengan elemen menyerupai peralatan medis.
Tema besar Ars Longa: Generatio sendiri dimaknai sebagai “seni itu panjang”, sebuah refleksi kuratorial dari Farah Wardani tentang ketahanan para pekerja seni yang terus berkarya melampaui berbagai dinamika zaman.
Farah menegaskan semangat ini dengan mengatakan, “Arslonga itu seni itu panjang; negara ini jatuh bangun, dukungan semuanya, tapi seniman tetap berkarya, kita tetap melanjutkan kerja-kerja kesenian itu.”
Secara garis besar, pameran ini dibingkai melalui dua pendekatan utama, yakni Dialogus, yang mengedepankan kolaborasi dan transfer pengetahuan lintas generasi. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana para seniman telah memperluas perannya melalui jejaring yang mereka bangun, terutama bagi generasi yang lebih muda. Sejumlah perupa dalam segmen ini antara lain Alyakha Kolektif (Jayapura), Atreyu Moniaga Project (Jakarta), serta Dolorosa Sinaga & Kelas Aktivisme Seni (Jakarta).
Kemudian Prāctica menampilkan respons individu seniman terhadap isu-isu urgensi saat ini, mulai dari ketahanan pangan, identitas, hingga trauma dan penyembuhan. Jessica Soekidi (Banten) mempresentasikan The Disco of Roots: A Rhizomatic Collective yang memosisikan umbi-umbian sebagai arsip hidup pengetahuan tentang sejarah, mobilitas, dan ketahanan pangan.
Radi Arwinda Experience (1985–2025, Bandung) menelusuri gagasan akulturasi budaya yang lekat pada praktik seniman Radi Arwinda melalui perpaduan simbol budaya Cirebon dengan elemen khas budaya populer, presentasi ini menjadi bentuk penghormatan Artjog atas praktik kesenian Radi Arwinda yang menandai semangat zaman.
Sementara itu, TEMPA mempresentasikan karya hasil riset artistiknya di Palu, Sulawesi Tengah, mengenai peran kain kulit kayu sebagai artefak budaya yang menyimpan nilai-nilai spiritualitas, ekologi, dan sejarah, dengan dukungan dari Pertamina.
Karya Komisi Roby Dwi Antono
Kehadiran seniman komisi Roby Dwi Antono yang membawa instalasi ikonik di ruang utama, Artjog 2026 mengajak publik untuk melihat bagaimana seni menjadi saksi sekaligus penggerak dari semangat zaman yang terus tumbuh.
Ia menerjemahkan tema Ars Longa: Generatio melalui serangkaian instalasi patung dan ruang imersif bertajuk GENERATIO: CYCLUS VITAE, yang menyoroti bagaimana luka dari generasi sebelumnya menjadi warisan yang membentuk identitas baru bagi generasi berikutnya.
Karya ini terbentang dalam tiga bagian: Vulnera: Bekas Luka Antargenerasi yang ditampilkan pada fasad utama gedung; Rahim Kolektif dan Generasi Alien di ruangan pertama, serta Generatio Continua: Kematian sebagai Katalis Kelahiran Kembali Sebuah Generasi pada ruang berikutnya. Melalui instalasi ikonik pada fasad gedung ini, Artjog 2026 mengajak publik untuk melihat bagaimana seni menjadi saksi sekaligus penggerak dari semangat zaman yang terus tumbuh.
Performa Artjog dan Serangkaian Kolaborasi
Performa ARTJOG, dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, menghadirkan berbagai seni pertunjukan melalui panggilan terbuka serta sejumlah pertunjukan spesial untuk mengintegrasikan tema festival. Berkolaborasi dengan IFI Yogyakarta, program ini menampilkan permainan musik bernuansa elektro-pop oleh musisi Violet Indigo (Prancis), serta sajian tekstur dengan resonansi tajam oleh unit jazz eksperimental Watchdog (Prancis).
Melalui kerja sama dengan Project Eleven Australia, Performa ARTJOG juga mempresentasikan pertunjukan kolaboratif antara musisi Australia dan Indonesia yang hanya berlangsung pada malam pembukaan Artjog 2026, menghadirkan komposer Monica Lim (Australia), komposer Patrick Hartono (Vietnam/Indonesia), musisi Morgan May (Australia), dan Serenata Choir ISI Yogyakarta.
Selain itu, hadir pula proyek seni multidisiplin bertajuk Daughters of the Sea oleh Artistique Théâtre (Prancis) yang menelusuri hubungan antara perempuan dan masyarakat dalam lanskap sosial yang beragam, serta karya seni performans bertajuk Ma'Bua' karya koreografer Densiel Lebang yang menyoroti praktik ritual Ma'Bua' dalam masyarakat Toraja. Panggung Performa ARTJOG x Bakti Budaya Djarum Foundation ini akan berlangsung setiap akhir pekan selama penyelenggaraan Artjog.
Selain rangkaian pertunjukan tersebut, Artjog 2026 juga akan menyajikan program-program lain seperti Exhibition Tour, Meet the Artist, Love x ARTJOG, ARTCARE Indonesia, dan The Others Lab.
Independensi Kuratorial dan Dukungan Penyelenggaraan
Menanggapi kontroversi yang beredar luas, Artjog kembali menegaskan prinsip independensi kuratorial yang telah dipertahankan sejak awal penyelenggaraan. Heri Pemad menyatakan konsisten menghadirkan festival seni kontemporer sebagai medium perjumpaan yang inklusif setiap tahun, dan menyadari bahwa untuk menjaga keberlanjutan dampaknya, diperlukan keterlibatan dan dukungan substansial dari berbagai pihak.
Pada tahun ini, Artjog 2026 terselenggara atas dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, Didit Hediprasetyo Foundation (DHF), Bank BRI, Pertamina, serta para mitra dan sponsor pendukung lainnya.
Heri Pemad, selaku Direktur Artjog, memberikan tanggapan saat sesi tanya jawab dalam konferensi pers mengenai isu keriuhan di media sosial atau protes yang muncul menjelang pembukaan Artjog 2026. Ia menekankan bahwa pihaknya mempertimbangkan masukan dari publik dan para seniman terkait dinamika yang terjadi.
“Kaitannya dengan keterlibatan DHF di Artjog, sebenarnya memang sama seperti saya ketika mencari sponsor, sebatas itu. Konsentrasi dari DHF sama seperti dulu, visinya juga sama, ada kesamaan visi di wilayah seniman dan ekosistem seni,” pungkasnya.
Informasi lebih lanjut mengenai pelaksanaan Artjog 2026 dapat diakses melalui kanal media sosial resmi dan situs web Artjog di www.artjog.id.
Masuk tirto.id






























