Arcandra Tahar Beberkan Mahalnya Eksplorasi Minyak

Oleh: Yuliana Ratnasari - 20 Oktober 2016
Dibaca Normal 1 menit
Biaya eksplorasi minyak untuk menemukan cadangan baru diperkirakan hingga Rp13 triliun. Mahalnya pencarian. Bahkan, perusahaan hebat dengan teknologi canggih dan orang-orang terbaik dalam mencari minyak pun hanya satu kali berhasil mendapatkan minyak setelah lima kali mencarinya.
tirto.id - Tingkat kesulitan yang tinggi dan penggunaan teknologi mutakhir menjadi alasan mahalnya biaya eksplorasi minyak. Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar bahkan menyebutkan total biaya mencari cadangan sumber daya yang kerap diistilahkan “rahasia tuhan” itu hingga Rp13 triliun.

"Sekali mencari minyak di laut dalam, satu bor biayanya bisa sampai 250 juta dolar Amerika Serikat, biasanya dibutuhkan tiga sampai empat kali pencarian dengan total biaya mencapai Rp13 triliun," papar Arcandra di Padang, Kamis (20/10/2016), seperti diberitakan Antara.

Karena itu, perusahaan hebat dengan teknologi canggih dan orang-orang terbaik dalam mencari minyak pun hanya satu kali berhasil mendapatkan minyak setelah lima kali mencarinya. Jika dalam prosesnya ternyata tidak ditemukan minyak, Arcandra menjelaskan, uang Rp13 triliun tadi tidak berbekas sama sekali.

"Pertanyaannya apakah ada orang Indonesia yang berani menanamkan uang Rp13 triliun dengan asumsi kalau dapat minyak oke, kalau tidak ketemu tidak apa-apa, hampir dipastikan tidak ada yang mau!"

Sebab biaya yang harus dikeluarkan untuk mencari minyak sangat mahal, pihak yang berani melakukan itu dan siap dengan risiko kehilangan uang luar biasa banyak jika minyak tidak ditemukan adalah perusahaan asing. "Kita butuh minyak, tapi tidak mau menanamkan uang diawal sebagai investasi, akhirnya pilihan jatuh pada investasi asing," ujar Arcandra.

Dia mengungkapkan, ada 70 eksplorasi minyak di Indonesia pada 2012, namun hingga 2016 turun sampai 16. Penyebab turunnya eksplorasi itu, tutur Arcandra, adalah pembubaran BP Migas dan PP 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang Dapat Dikembalikan dan Perlakuan Perpajakan Bagi Industri Hulu Migas.

"Jadi sewaktu kegiatan eksplorasi yang memiliki risiko tinggi, belum tentu perusahaan minyak (yang) dapat minyak sudah dikenakan pajak sehingga perusahaan asing memilih hengkang," katanya. Oleh sebab itu, ia menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan merevisi PP 79 tahun 2010 tersebut agar eksplorasi meningkat."

Dia menyebutkan saat ini Indonesia memiliki cadangan minyak 3,8 miliar barel dengan produksi 800 ribu barel per hari. "Beranjak dari kondisi ini maka minyak hanya bisa diproduksi sampai 12 tahun lagi, sementara cadangan minyak dunia sekitar 50 tahun lagi," ujar dia.

Ia menyatakan cadangan minyak yang dimiliki Indonesia saat ini ada di laut dalam, Indonesia Deepwater Development (IDD), di Selat Makasar, Blok Masela, dan beberapa di Natuna.

Baca juga artikel terkait MINYAK atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari
DarkLight