Menuju konten utama

APBN Defisit Rp180,4 Triliun di Mei 2026, Setara 0,70% PDB

APBN hingga Mei 2026 defisit Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB. Meski melonjak 763 persen, pemerintah menilai fiskal tetap sehat.

APBN Defisit Rp180,4 Triliun di Mei 2026, Setara 0,70% PDB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) didampingi Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (kanan) dan Suahasil Nazara (kiri) mengacungkan jempol saat konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom.

tirto.id - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 masih berada dalam batas aman meskipun mencatat defisit sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Meski lebih tinggi dari defisit periode sama tahun sebelumnya yang hanya Rp20,9 triliun, dan mengalami kenaikan hingga 763 persen, realisasi defisit tersebut masih berada di angka 26,2 persen dari target APBN yang sebesar Rp689,1 triliun.

"Di situ menunjukkan bahwa ya memang anggaran kita bagus yang dibilang ugal-ugalan atau berupa tanggal yang kacau sehingga mengganggu stabilitas nilai tukar saya agak bingung dari mana dari sini bagus semua," ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat (5/6/2026).

Berdasarkan paparan Purbaya, pendapatan negara hingga 31 Mei 2026 mencapai Rp1.185 triliun atau 37,6 persen dari target APBN 2026. Angka tersebut tumbuh 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari pagu APBN, meningkat 34,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Dengan realisasi tersebut, APBN mencatat defisit Rp180,4 triliun. Meski demikian, pemerintah menegaskan posisi fiskal masih terkendali karena defisit baru mencapai 26,2 persen dari batas yang ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun.

Pertumbuhan pendapatan negara ditopang oleh penerimaan perpajakan yang mencapai Rp958,2 triliun atau tumbuh 18,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut setara 35,6 persen dari target penerimaan perpajakan tahun ini sebesar Rp2.693,7 triliun.

Penerimaan pajak menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp834,4 triliun, naik 22,1 persen secara tahunan. Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat Rp123,8 triliun atau tumbuh 0,7 persen.

Kinerja positif juga terlihat pada penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang mencapai Rp226,4 triliun atau naik 19,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi tersebut telah mencapai 49,3 persen dari target PNBP dalam APBN 2026 sebesar Rp459,2 triliun.

Di sisi belanja, kenaikan terutama didorong oleh percepatan belanja pemerintah pusat yang mencapai Rp1.059,3 triliun atau tumbuh 52,6 persen secara tahunan. Realisasi tersebut setara 33,6 persen dari pagu belanja pemerintah pusat tahun ini.

Belanja kementerian/lembaga (K/L) tercatat Rp517,7 triliun atau meningkat 58,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara belanja non-K/L mencapai Rp541,6 triliun, tumbuh 47 persen secara tahunan.

Adapun transfer ke daerah terealisasi Rp306,1 triliun atau 44,2 persen dari target tahunan. Meski demikian, nilainya masih lebih rendah 4,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain mencatat defisit yang masih terkendali, APBN juga membukukan surplus keseimbangan primer sebesar Rp58,6 triliun. Capaian ini, menurut Purbaya, menunjukkan pendapatan negara masih mampu menutup belanja negara di luar pembayaran bunga utang.

"Artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya, dibanding bulan April kalau lihat, ya, itu keseimbangan primer cuma Rp28 triliun sekarang Rp58,6 triliun," jelasnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana