tirto.id - Laga final Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Argentina di Stadion New York-New Jersey, East Rutherford, Amerika Serikat pada Senin (20/7/2026) akan menentukan siapa yang berhak mengangkat trofi World Cup edisi ke-23.
Di atas kertas, pertandingan ini merupakan final impian. Spanyol, sang kampiun EURO 2024, bertarung dengan Argentina, pemenang Copa America 2024 sekaligus juara bertahan. Laga ini juga jadi arena adu taktik La Roja yang pertahanannya kukuh, hanya kemasukan 1 gol dari 7 laga, dengan La Albiceleste yang mengemas 19 gol dari 7 partai hingga semifinal.
Namun, menjelang peluit sepak mula laga final ditiup oleh wasit Slavko Vincic, netizen tidak hanya mengulik apakah Lionel Messi atau Lamine Yamal yang bakal jadi raja di New Jersey. Tetapi juga, bagaimana posisi negara Spanyol dan Argentina soal konflik yang sedang bergejolak di Timur Tengah, yaitu isu Israel-Palestina.
Muncul pertanyaan "apakah Spanyol pro Palestina" dan "bagaimana posisi Argentina soal Israel". Hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa Spanyol dan Argentina saat ini dipimpin oleh dua kepala pemerintahan yang memiliki visi geopolitik bertolak belakang.
Spanyol berdiri sebagai salah satu negara Eropa yang secara resmi mengakui kedaulatan Palestina. Di sisi lain, Argentina, di bawah kepemimpinan pemerintahan barunya, memposisikan diri sebagai mitra diplomatik yang dekat dengan Israel di kawasan Amerika Latin.
Sejarah Spanyol Pro Palestina & Perjuangan Sejak Akar Rumput
Posisi vokal Spanyol dalam membela hak-hak kedaulatan Palestina bukanlah manuver mendadak, melainkan sudah berakar cukup lama. Madrid memiliki rekam jejak panjang sebagai fasilitator perdamaian di Timur Tengah. Salah satunya adalah Konferensi Madrid 1991, yang menjadi peletak batu pertama soal negosiasi solusi dua negara.
Dalam tahun-tahun terakhir, Spanyol mengambil posisi diplomatik yang lebih tegas. Pada 28 Mei 2024, bertempat di Istana Moncloa, Perdana Menteri Pedro Sánchez bersama jajaran Dewan Menteri secara resmi mengetuk palu pengakuan terhadap kedaulatan Negara Palestina.
"Pemerintah Spanyol akan menyetujui pengakuan resmi Negara Palestina. Dengan demikian, Spanyol akan bergabung dengan lebih dari 140 negara di dunia yang telah mengakui Palestina sebagai sebuah negara," papar Sanchez.
Menurutnya, pengakuan Palestina sebagai negara berdaulat tidak hanya terkait masalah keadilan historis terhadap aspirasi sah rakyat Palestina saja. Pengakuan itu adalah langkah taktis untuk tercapainya sebuah perdamaian di masa depan.
"Mengakui Palestina sebagai sebuah negara adalah keputusan yang tidak kami ambil untuk melawan siapa pun, apalagi melawan Israel, sebuah bangsa sahabat yang kami hormati dan hargai, dan dengan siapa kami ingin memiliki hubungan sebaik mungkin," tambah sang PM.
Kebijakan luar negeri Spanyol terkait Palestina memiliki dimensi yang lebih kompleks. Menurut Moussa Bourekba dalam "Escalation within Continuity Spain’s Foreign Policy towards Israel and Palestine after October 7th" (2026), langkah Madrid ini merupakan bagian dari doktrin diplomasi normatif yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri José Manuel Albares.
Spanyol secara konsisten menolak apa yang mereka sebut sebagai "standar ganda" Barat dalam penegakan hukum humaniter internasional. Madrid berargumen bahwa prinsip-prinsip hukum internasional harus ditegakkan secara objektif, melampaui kepentingan geopolitik dan aliansi strategis yang sempit.
Ketegasan di level elite pemerintahan ini mendapatkan legitimasi kuat dari akar rumput. Berbeda dengan beberapa negara Eropa Barat yang membatasi ruang publik soal Palestina, gelombang solidaritas masyarakat sipil di Spanyol sudah terorganisasi dengan masif. Bahkan gerakannya bisa ditarik sejak 2009.
Salah satu momentum penting adalah aksi mogok kerja nasional dan boikot masif yang dimotori oleh konfederasi serikat pekerja CGT (Confederación General del Trabajo) serta solidaritas mahasiswa pada 27 September 2024. Aksi pemogokan umum ini melumpuhkan sejumlah sektor transportasi, layanan publik, dan puluhan universitas. Aksi tersebut menjadi bentuk tekanan nyata dari akar rumput agar pemerintah Spanyol mengambil langkah konkret terkait pemutusan hubungan diplomatik dengan Israel.
Konsistensi gerakan ini terus terjaga hingga 2026. Aksi demonstrasi damai berskala besar yang menuntut gencatan senjata permanen rutin digelar secara berkala di berbagai kota, termasuk Madrid, Barcelona, hingga Sevilla. Salah satunya terjadi pada 24 Mei 2026 di Bilbao. Ketika itu, ribuan warga turun ke jalan untuk mengecam tindakan militer Israel terhadap para aktivis kemanusiaan internasional yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla.
Apa Posisi Argentina soal Israel & Apa Penguasa-Rakyat Sejalan?
Spanyol menampilkan pandangan yang selaras antara pemerintah dan gerakan akar rumputnya terkait sikap terhadap Palestina. Di sisi lain, Argentina tidak demikian. Posisi Buenos Aires dalam konflik Timur Tengah mengalami pergeseran tajam dari waktu ke waktu. Hal ini menciptakan perbedaan pandangan antara elite penguasa dan masyarakat sipil, termasuk para pencinta sepak bola terkait konflik Israel-Palestina.
Argentina secara resmi mengakui Palestina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat pada Desember 2010 di bawah pemerintahan Presiden Cristina Fernández de Kirchner. Hal tersebut tidak terlepas dari pandangan penguasa kala itu soal multilateralisme, kemandirian dari dikte blok Barat, serta solidaritas terhadap perjuangan negara berkembang.
Namun, pada era pemerintahan Presiden Javier Milei sejak akhir 2023, garis diplomasi negara mengalami perubahan radikal. Milei secara sepihak menggeser poros luar negeri Argentina agar selaras dengan Israel.
Pergeseran ini tidak hanya tecermin dari penolakan Argentina terhadap resolusi-resolusi pembelaan Palestina di forum PBB. Selain itu, ada pula ide kontroversial Milei yang berencana memindahkan Kedutaan Besar Argentina dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Langkah elite penguasa ini memicu kritik domestik yang tajam, terutama karena dianggap menantang konsensus multilateral yang dianut Argentina selama puluhan tahun.
Hubungan mesra Israel dan Argentina ini juga terlihat dari kunjungan negara Javier Milei ke Yerusalem, Ramat Gan, dan Tel Aviv pada 19-22 April 2026 lalu. Saat itu, Benjamin Netanyahu menyebut Argentina sebagai "partner terbaik yang kami punya selain Amerika Serikat".
Terbaru, Netanyahu menyatakan dukungannya terhadap Timnas Argentina di final Piala Dunia 2026. Saat berjumpa dengan duta besar Argentina untuk Israel, Rabbi Shimon Axel Wahnish.
Setelah mendapatkan pesan suara dari Javier Milei, Netanyahu menjawab, "Javier, kamu adalah teman sejati. Kami mendukungmu, kami mendukung Argentina dalam banyak hal termasuk besok (final Piala Dunia)."
Di sisi lain, sikap politik pemerintah Argentina ini tidak serta merta diamini oleh seluruh rakyat mereka. Misalnya, dalam perayaan lolosnya Argentina ke final Piala Dunia 2026 di Buenos Aires, sekelompok suporter membentangkan pesan "Inggris dan Israel keluar dari Malvinas, Palestina Libre".
Di samping itu, laporan lapangan dari berbagai media independen menunjukkan bahwa di tingkat akar rumput, solidaritas masyarakat sipil Argentina terhadap Palestina justru terus menguat sebagai bentuk resistensi terhadap pandangan Milei. Hal ini tercermin dari aktifnya jurnalis senior seperti Ramiro Giganti hingga legislator domestik Argentina seperti Celeste Fierro yang terjun langsung dalam misi Global Sumud Flotilla.
Polarisasi antara manuver elite penguasa yang pro-Israel dan sikap independen masyarakatnya terhadap Palestina inilah yang membuat posisi Argentina unik.
Menjelang final di New Jersey, sebagian fans La Albiceleste mungkin saja hanya ingin melihat timnya menjadi juara dunia, terlepas dari apa pun kartu diplomasi yang sedang dimainkan oleh presiden mereka di depan Israel.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id





























