Menuju konten utama
Periksa Data

Pertumbuhan E-Commerce Melambat, Sektor Travel Meroket

Kendati sektor e-commerce masih jadi pemimpin, persentase kenaikan GMV tahunan terbesar ada di bidang perjalanan online.

Pertumbuhan E-Commerce Melambat, Sektor Travel Meroket
Header Periksa Data Kemajuan Ekonomi Digital. tirto.id/Fuad

tirto.id - Ekonomi digital Indonesia diperkirakan masih akan tumbuh pada tahun ini dan bahkan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara.

Menurut laporan e-Conomy SEA 2023 yang dibuat oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, pada tahun 2023, nilai penjualan atau Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital di Indonesia secara umum diproyeksi menyentuh 82 miliar dolar Amerika Serikat (AS), setara Rp1,3 kuadriliun, atau tumbuh 8 persen year-on-year (yoy). Pertumbuhannya melambat dibanding pertumbuhan GMV ekonomi digital Indonesia pada tahun 2022 yang naik 20 persen yoy dibanding tahun 2021.

Meski begitu, laporan ini menyebut bahwa Indonesia tetap disinyalir akan tumbuh lebih cepat dibanding rata-rata regional Asia Tenggara dan mendorong porsi yang signifikan pertumbuhan ekonomi digital secara regional.

Nilai GMV ekonomi digital Indonesia saat ini, meski pertumbuhannya melambat, tetap jauh melampaui negara-negara Asia Tenggara lain. Di Filipina yang jumlah populasinya paling mendekati total populasi Indonesia, misalnya, pada 2023, nilai GMV ekonomi digitalnya diproyeksi hanya berada pada level 24 miliar dolar AS, nyaris seperempat nilai GMV ekonomi digital Indonesia.

Sementara itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, pada 2023 ini, nilai GMV ekonomi digital baik di Asia Tenggara maupun Indonesia mayoritas disokong oleh sektor e-commerce.

Di Indonesia sendiri, e-commerce menjadi tulang punggung dari ekonomi digital. Nilai GMV di sektor e-commerce menyentuh 62 miliar dolar AS, proporsinya sebesar 75,61 persen dari keseluruhan GMV ekonomi digital Indonesia pada 2023. Tingkat permintaan retail dominan datang dari ibu kota Indonesia, DKI Jakarta.

Randy Yusuf selaku Managing Director Google Indonesia menyatakan, mengecilnya kesenjangan partisipasi digital terutama di luar area metropolitan menjadikan bertambah banyaknya pengguna produk dan layanan digital.

“Keadaan ini akan memicu pertumbuhan lebih lanjut dalam dekade digital ini, yang memungkinkan kita untuk mencapai GMV 110 miliar dolar AS yang diperkirakan tercapai pada tahun 2025,” katanya saat pertemuan bersama media di kantor Google Indonesia, Selasa (7/11/2023).

Kenaikan GMV Terbesar Ada di Sektor Perjalanan Online

Kendati sektor e-commerce masih jadi pemimpin dalam proporsi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia, persentase kenaikan tahunan terbesar ada di bidang perjalanan online, termasuk di dalamnya penerbangan, hotel, dan rental.

Hal itu tergambar dari nilai total penjualan di sektor perjalanan online yang diperkirakan mencapai 6 miliar dolar AS tahun ini dari 3 miliar dolar AS pada 2022, naik dua kali lipat secara tahunan.

Pertumbuhan sektor perjalanan online tersebut terpaut jauh dengan pertumbuhan sektor e-commerce yang melambat antara tahun 2022-2023, sebesar 7 persen yoy, dari 58 miliar dolar AS menjadi 62 miliar dolar AS, dibanding dari periode sebelumnya (2022-2021), yang tercatat naik sebanyak 20 persen yoy, dari 48 miliar dolar AS menjadi 58 miliar dolar AS.

“Menurut saya kebangkitan kembali perjalanan online adalah kebangkitan kembali situs-situs [pemesanan] hotel, yang merupakan pendorong utama pendapatan,” kata Aadarsh Baijal, Partner and Head of Vector Bain & Company di Asia Tenggara, pada kesempatan yang sama, Selasa (7/11/2023).

Laporan e-Conomy SEA 2023 menyebut dicabutnya pembatasan perjalanan di akhir 2022 setelah pandemi, sebagai salah satu faktor yang memantik naiknya aktivitas-aktivitas luring (offline). Tak heran, sektor perjalanan meningkat, baik dari sisi permintaan domestik maupun perjalanan bisnis.

Laporan tersebut juga merekam, penerbangan domestik telah pulih di beberapa negara, termasuk Indonesia, yang terlihat dari peningkatan total jarak yang ditempuh penumpang dibanding tahun 2022.

“Meskipun adanya ‘perjalanan balas dendam’ dan peningkatan permintaan domestik, GMV perjalanan secara keseluruhan belum kembali ke tingkat sebelum pandemi. Pemulihan pariwisata yang sedang berlangsung akan membuat jumlah perjalanan melebihi tingkat sebelum pandemi pada tahun depan,” tulis laporan e-Conomy SEA 2023.

Menariknya, tak semua sektor mencatat pertumbuhan positif. Pada sektor transportasi dan pengiriman makanan daring, nilai GMV-nya mengalami penurunan sekitar 12,5 persen yoy menjadi 7 miliar dolar AS pada tahun 2023, dari 8 miliar dolar AS pada 2022.

Menurut laporan ini, pemain e-commerce, pengiriman makanan daring, dan transportasi, memang telah mengurangi jumlah promosi dan insentif untuk pelanggan demi pertumbuhan yang lebih seimbang serta penguatan profit.

Pinjaman Digital Diperkirakan Naik Pesat?

Indonesia juga diperkirakan menjadi pasar pembayaran digital terbesar di Asia Tenggara, dengan proyeksi Gross Transaction Value (GTV) mencapai sekira 760 miliar dolar AS pada tahun 2030. Pembayaran digital juga diperkirakan mengalami pertumbuhan sekitar 10 persen secara tahunan, dari 286 miliar dolar AS pada 2022 menjadi 313 miliar dolar AS per tahun 2023.

Seiring dengan peralihan konsumen ke ranah online itu, tren pinjaman digital juga diketahui terus berkembang.

Masih dari laporan e-Conomy SEA, jumlah saldo buku pinjaman yang dikecualikan pada kartu kredit dan hipotek di Indonesia, menunjukkan berada pada level 5 miliar dolar AS pada 2022 dan diperkirakan meningkat sebesar 20 persen yoy menjadi 6 miliar dolar AS pada tahun 2023 ini.

Disebutkan dalam laporan, pergeseran preferensi konsumen juga mendorong pesatnya popularitas layanan beli sekarang bayar nanti (BNPL) atau paylater, digitalisasi pemain jasa keuangan tradisional, kebangkitan bank digital, dan dorongan pemerintah terhadap inovasi digital dalam bidang pinjaman.

Riset yang dilakukan Tirto pada pengujung tahun 2022 pun mengungkap 2/3 dari 1.500 responden mengaku setidaknya pernah menggunakan paylater. Sekitar 30 persen bahkan mengatakan menggunakannya secara reguler.

Temuan tersebut memperlihatkan cukup besarnya kebutuhan (atau mungkin keinginan) orang-orang Indonesia untuk mengakses cara pembayaran dengan metode mencicil atau dengan menunda bayar.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan lainnya dari Fina Nailur Rohmah

tirto.id - Ekonomi
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty