Menuju konten utama

Apa yang Dilakukan Saat Penampahan Galungan pada Agustus 2023?

Ritual saat penampahan Galungan 2023 dan kapan dilakukan?

Apa yang Dilakukan Saat Penampahan Galungan pada Agustus 2023?
Umat Hindu menjunjung keben bambu atau tempat sesajen saat tradisi Mapeed yaitu rangkaian persembahyangan Hari Raya Galungan di Desa Lukluk, Badung, Bali, Rabu (4/1/2023). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/hp.

tirto.id - Penampahan Galungan akan dilaksanakan pada Selasa, 1 Agustus 2023. Kali ini Hari Penampahan Galungan bertepatan dengan Rahina Purnama.

Meskipun perayaan di hari yang sama namun upacara penampahan Galungan dan Purnama tetap dilaksanakan tanpa ada pergeseran.

Penetapan tersebut berdasarkan keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 225/PHD Bali/VII/2023 pada 21 Juni 2023 tentang pelaksanaan keduanya meskipun di hari yang sama.

Pelaksanaan seluruh rangkaian hari raya Galungan khususnya hari Penampahan tetap dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 2023 atau sesuai dengan dresta masing-masing disertai ngaturang banten untuk Ida Hyang Kala Tiga.

Tujuan peringatan tersebut untuk meminta keselamatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya.

Penampahan Galungan merupakan upacara umat Hindu yang dilaksanakan sebelum Hari Raya Galungan. Istilah "penampahan" berarti menyambut kemudian berkembang menjadi "namnya" yang berarti sembah.

Jadi kata penampahan berasal dari bahasa Bali yang berarti pengembalian ke sumbernya.

Apa yang Dilakukan Saat Penampahan Galungan?

Seluruh umat Hindu akan melaksanakan salah satu hari besar mereka yaitu Hari Galungan. Sehari sebelum perayaan, mereka akan mengikuti berbagai persiapan dan persembahan.

Salah satunya adalah Upacara Penampahan Galungan yang digelar saat hari Anggara Wage Wuku Dungulan.

Penambahan Galungan dilaksanakan dengan menyembelih hewan ternak seperti ayam, babi, itik, untuk keperluan yadnya sebagai bentuk penyambutan Hari Raya Galungan.

Saat Penampahan Galungan, maka umat Hindu akan memasang penjor Galungan sebagai simbolis gunung atau simbolis naga. Lalu dilanjutkan dengan natab atau ngayab banten pebyakaonan untuk mensucikan diri dari gangguan para Bhuta Kala.

Mereka akan melaksanakan penyomanyaan yaitu ritual untuk menetralisir kekuatan Sang Kala Tiga supaya kembali ke sumbernya menjadi Kala Hita.

Upacara ini bertujuan untuk menetralisir kekuatan agar keseimbangan dan keselarasan antara buwana agung dan buwana alit dapat dipertahankan.

Dengan demikian, pemotongan hewan ternak disimbolkan sebagai tanda untuk membunuh sifat-sifat keraksasaan yang ada dalam diri manusia.

Mereka percaya bahwa saat Hari Penampahan Galungan tiba, Sang Bhuta Kala turun ke bumi yang ingin menggoda umat manusia agar tidak melaksanakan Hari Raya Galungan, sehingga umat Hindu harus mempersiapkan diri dengan keimanan yang tinggi.

Baca juga artikel terkait URGENT atau tulisan lainnya dari Wulandari

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Wulandari
Penulis: Wulandari
Editor: Dipna Videlia Putsanra