11 Maret 1985

Apa yang Dilakukan Mikhail Gorbachev Usai Membubarkan Uni Soviet?

Mikhail Sergeyevich Gorbachev. tirto.id/Nauval
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 11 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Aktivitas Gorbachev pasca-Uni Soviet: jadi dosen tamu lintas-kampus; mengurus lembaga think-tank; mengkritisi Putin.
Mengunjungi Ronald Reagan di peternakan Rancho Del Cioelo, California. Itulah yang dilakukan Mikhail Gorbachev pada 1992, setahun setelah mengundurkan diri sebagai Presiden Uni Soviet.

Aneh? Tidak. Kunjungan itu justru mengingatkan publik pada persahabatan yang keduanya bangun sejak pertengahan 1980-an—masa ketika mereka sedang berupaya mengakhiri Perang Dingin.

Perlombaan senjata nuklir memang berhenti. Tapi harga yang harus dibayar adalah keruntuhan Uni Soviet sebagai negara dengan wilayah terluas di dunia. Dan sosok yang paling disalahkan atas tragedi itu tidak lain Gorbachev sendir.

Latar belakang pria bernama lengkap Mikhail Sergeyevich Gorbachev ini tergolong proletariat. Lahir pada 2 Maret 1931, Gorbachev besar dalam keluarga petani miskin di Privolnoye, sepetak komune di ujung barat Soviet.

Gorbachev muda bekerja mengoperasikan mesin pemanen di sebuah pertanian kolektif sebelum bergabung ke Partai Komunis Uni Soviet (CPSU). Kariernya mentereng, terutama di masa pemerintahan Nikita Khruschev yang terkenal karena menjalankan program destalinisasi. Pada 1978 ia pindah ke Moskow. Setahun setelahnya ia bergabung ke Politbiro selaku lembaga pembuat kebijakan tertinggi di Soviet.

Puncak kariernya terjadi pada 11 Maret 1985, tepat hari ini 35 tahun lalu. Di tanggal itu Gorbachev diangkat sebagai pemimpin CPSU. Posisi ini—sebagaimana umumnya berlaku di negara komunis lain—setara dengan pemimpin tertinggi negara.


Destalinisasi Kian Kafah

Sejarawan Dusko Doder dan Louise Branson mencatat dalam Gorbachev: Heretic in the Kremlin (1990) bahwa terdapat perbedaan gaya kepemimpinan Gorbachev dengan para pendahulunya.

Dalam konteks ideologi politik, misalnya, pria botak ini tidak menjelma sebagai penganut Marxisme-Leninisme garis keras, tapi condong ke sistem demokrasi sosial. Sikap tersebut makin terlihat pasca-Bencana Chernobyl tahun 1986. Di dalam negeri ia mengurangi dosis otoritarianisme pemerintah dengan meluncurkan program Glasnost.

Glasnot berarti keterbukaan. Jika diterapkan pada lembaga negara, tujuannya untuk meningkatkan transparansi serta menekan korupsi. Dalam konteks pers dan kemasyarakatan, Glasnost adalah izin atas hak kebebasan berpendapat. Media massa yang dulunya "pendiam" berubah menjadi lebih kritis. Barangkali mereka juga mencontoh Gorbachev yang, secara mengejutkan, cukup rajin mengkritik kinerja birokrasi.

Progam penting lain ialah Perestroika yang berarti restrukturisasi. Sistem yang terlalu terpusat Gorbachev tuduh sebagai penyebab tersendatnya pertumbuhan ekonomi Soviet. Ia bahkan khawatir Soviet akan tergelincir ke status negara dunia ketiga.

Melalui Perestrorika, Gorbachev berupaya menggerakkan desentralisasi ekonomi. Ia ingin menciptakan efisiensi, merelaksasi kontrol pemerintah atas harga barang, dan mendorong pengambilalihan bisnis oleh swasta di daerah-daerah.

Sementara itu, di saat yang bersamaan, kebijakan luar negeri Uni Soviet makin lunak. Uni Soviet tidak melakukan intervensi militer saat negara-negara Baltik memerdekakan diri atau kala negara-negara satelit di Eropa timur makin antikomunis. Ia rajin berdiplomasi dengan Reagan untuk mengakhiri perlombaan senjata nuklir dan mendinginkan tensi politik dengan negara-negara Blok Barat. Sikapnya kepada pemimpin sosialis-revolusioner di negara dunia ketiga juga tidak semesra pemimpin Uni Soviet terdahulu.


Pemungkas Sebuah Era

Stalinis garis keras di tubuh pemerintahan lama-kelamaan merasa gerah. Mereka melihat Gorbachev selayaknya duri dalam daging, seperti pengkhianat cita-cita yang Soviet bangun sejak 1922.

Pemerintahan sosialis akan tercapai melalui penerapan sistem partai tunggal, begitu kata Stalin mengenai doktrin Marxisme-Leninisme. Sedangkan Gorbachev bertindak sebaliknya: pada 1987 ia meluncurkan slogan demokatizatsiya (demokratisasi) untuk mendorong terciptanya sistem multipartai.

Gorbachev pada dasarnya terjebak pada dua kudu: golongan konservatif yang ingin mempertahankan sistem lama dan golongan liberal yang menghendaki kebijakan-kebijakan progresif.

Pada awal dekade 1990-an Gorbachev makin condong ke golongan kedua. Misalnya dengan mengubah statusnya sebagai presiden melalui pemilihan tidak-langsung, lalu meloloskan undang-undang reformasi yang melemahkan sistem negara satu partai.

Ditambah peristiwa bersatunya Jerman, makin digdayanya gerakan nasionalis di Eropa Timur, dan kegagalan kudeta komunis garis keras, ujung dari semua ini adalah pecahnya Uni Soviet menjadi 15 republik independen pada 26 Desember 1991.

Gorbachev mengundurkan diri pada satu hari sebelumnya, lalu menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Boris Yeltsin selaku presiden Federasi Rusia pertama. Pada sore hari itu bendera Soviet diturunkan dari kompleks Kremlin, digantikan bendera Rusia sebelum revolusi yang berwarna putih, biru, dan merah.


Mengurus Gorbachev Foundation

Reagan dan Gorbachev tampak seperti anak kembar. Media memotret keduanya memakai baju yang sama: celana jeans biru tua, kemeja lengan panjang biru muda, dan topi koboi putih.

Kunjungan pada 1992 itu tidak Gorbachev niatkan sebagai basa-basi antar-kolega saja, tapi juga mengumpulkan sumbangan untuk organisasi baru yang ia namai International Foundation for Socio-Economic and Political Studies. Orang-orang lebih mengenalnya dengan dengan sebutan “Gorbachev Foundation”.

William Taubman dalam Gorbachev: His Life and Times (2017) memaparkan lembaga think-tank itu bekerja untuk meneliti dan memublikasikan segala hal yang terkait perestrorika.

Selain ke Amerika Serikat, Gorbachev mengumpulkan pendanaan lembaganya ke Spanyol, Jepang, dan negara-negara lain. Metode lain termasuk dengan meminta bayaran besar selama memberikan kuliah internasional.

Gorbachev menampakkan sifat kritisnya kepada semua presiden Rusia setelahnya. Namun dinamika yang paling menarik barangkali hubungannya dengan Vladimir Putin.


Menghadapi Vladimir Putin

Putin pertama kali memenangi pemilu presiden pada tahun 2000. Pada Mei di tahun yang sama ia disumpah di Kremlin. Gorbachev menghadiri acara ini dan tercatat untuk pertama kalinya ia memasuki kompleks Kremlin sejak 1991.

Awalnya ia mendukung Putin karena bersikap anti-Yeltsin. Ia percaya Putin adalah seorang demokrat yang jauh dari otoritarianisme selama bertugas menstabilkan ekonomi. Pandangan ini berubah mulai 2008. Kala itu Putin baru menyelesaikan tugas sebagai presiden di periode kedua. Ia tidak bisa maju pilpres lagi karena terhalang konstitusi.

Namun lobi-lobi politiknya cantik. Alhasil Putin diangkat sebagai Perdana Menteri pada era Presiden Dmitry Medvedev (2008-2012). Pada pilpres 2012 Putin maju lagi dan menang kembali.

Di titik itulah kritisisme Gorbachev menguat karena otoritarianisme Putin makin tak terkendali. Putin dianggap banyak pihak sedang menggerogoti demokrasi Rusia. Penangkapan dan pemenjaraan lawan politik makin marak. Kebebasan pers dibatasi. Pemilu makin jauh dari kata jujur dan adil. Indeks HAM dan korupsi juga memburuk.


Segala Penyesalan

Pada Agustus 2011 Guardian menerbitkan wawancara eksklusif dengan Gorbachev. Jurnalis Jonathan Steele bertanya: adakah keputusan yang Gorbachev sesali selama memimpin Uni Soviet?

“Fakta bahwa aku memakan waktu terlalu lama untuk mencoba mereformasi partai komunis,” jawabnya tanpa ragu.

Gorbachev melanjutkan ia seharusnya mengundurkan diri pada April 1991, lalu membentuk partai reformasi demokratik. Ini karena pada saat bersamaan golongan komunis garis keras sedang melakukan berbagai cara untuk menghadang segala perbaikan sistemik ala Gorbachev.

Faktanya, Gorbachev memang menyatakan undur diri pada rapat komite partai pada April 1991. Keputusannya saat itu cukup emosional. Tiga jam kemudian, usai lobi-lobi, Gorbachev menganulir keputusannya. Ia merasa tidak punya hak untuk meninggalkan partai.

Dua dekade kemudian keraguan itu hilang sepenuhnya. Ia menyesal karena terlambat memberikan kesempatan pada ke-15 republik untuk menentukan nasib sendiri. Akibatnya, darah sempat mengalir di Lithuania dan Azerbaijan.

Steele lalu bertanya sebaliknya: prestasi apa yang paling ia banggakan selama memimpin Soviet?

Gorbachev menjawab hanya dengan satu kata: “Perestrorika”.

Baca juga artikel terkait UNI SOVIET atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight