Angka Stunting Tinggi, Kemenkes: Kami Tidak Bisa Kerja Sendiri

Oleh: Alfian Putra Abdi - 18 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
"Persoalan stunting ini terbilang unik. Karena penderitanya bukan hanya berasal dari kelompok miskin dan tingkat pendidikan yang rendah," kata Arum
tirto.id - Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Kirana Pritasari mengatakan angka stunting di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar pada 2013 masih sebesar 30,8 persen. Padahal batas normalnya 20 persen.

Oleh karena itu ia berharap ada kerjasama antara lembaga kementerian untuk mengentaskan permasalahan kesehatan ini. Sebab menurut Kirana, Kemenkes tidak bisa berdiri sendiri tanpa dibarengi peningkatan pada sektor lainnya, misalnya pembangunan infrastruktur.

"Di harapkan semua kementerian mendukung. Dari sektor pendidikan hingga pembangunan. Kementerian desa juga diharapkan bisa lebih fokus," ujarnya ketika ditemui di Jakarta Selatan, Jumat (17/1/2019).

Ia memberikan contoh, misalnya peningkatan produksi pertanian untuk mendukung ketahanan pangan dan gizi di tingkat rumah tanga, perlindungan sosial untuk pengentasan kemiskinan melalui program keluarga harapan, penyediaan air bersih dan sanitasi, termasuk program pemberdayaan perempuan.

Kirana mengatakan, Kemenkes saat ini mulai fokus mengentas stunting di 160 Kabupaten Kota. Hal tersebut akan terus meningkat secara berkala. Pada tahun 2020 mereka mentargetkan akan menjangkau 390 kabupaten kota.

Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Arum Atmawikarta menyatakan hal yang senada, menurutnya angka stunting di kabupaten kota dan provinsi masih tinggi.

Ia juga setuju dengan Kemenkes, untuk mendorong kementerian lain mengambil bagian dalam menyelesaikan kasus stunting ini.
"Stunting itu tugas bersama. Kemenkes hanya mengatasi persoalan kesehatannya saja. Instansi yang lain seperti pendidikan dan pembangunan juga harus bertanggungjawab," ujarnya ketika ditemui di waktu dan tempat yang sama.

Ia juga mengatakan bahwa persoalan stunting ini terbilang unik. Karena penderitanya bukan hanya berasal dari kelompok miskin dan tingkat pendidikan yang rendah. Melainkan bisa terjadi juga pada sebaliknya.

"Oleh karena itu perlu dua pendekatan. Pertama itu yang sifatnya spesifik, menjadi wilayahnya Kemenkes. Kedua yang non-kesehatan, itu wilayah kementerian lainnya. Semisal untuk menyediakan hak air bersih bagi warga dan perbaikan sanitasi, serta sebagainya," ujarnya.

Dilansir dari website Depkes.go.id, stunting disebabkan oleh kurangnya gizi sehingga menghambat pertumbuhan fisik dan bisa juga berakibat pada lambannya kemampuan kognitif.

Oleh karena itu, untuk pencegahan secara personal. Bisa dimulai dengan memperhatikan asupan gizi pada makanan yag hendak dikonsumsi. Semisal lebih giat menyantap sayur dan buah-buahan. Selain memang kebersihan lingkungan juga perlu diperhatikan.


Baca juga artikel terkait STUNTING atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight