Menuju konten utama

Anggaran Pendidikan Tak Merata, Pakar: Pakai Konsultan

Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mengatakan, alokasi anggaran daerah untuk pendidikan masih kecil dan bahkan ada daerah yang hanya mengalokasikannya di bawah satu persen.

Anggaran Pendidikan Tak Merata, Pakar: Pakai Konsultan
sejumlah siswa melakukan simulasi ujian nasional berbasis komputer (unbk) di labor smkn 2 padang, sumatera barat, kamis (31/3). antara foto/iggoy el fitra

tirto.id - Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mengatakan, alokasi anggaran daerah untuk pendidikan masih kecil dan bahkan ada daerah yang hanya mengalokasikannya di bawah satu persen.

Menurut Indra yang ditemui di Jakarta pada Rabu (13/4/2016) hal ini disebabkan karena peruntukan dana pendidikan bagi pemerintah daerah masih terbatas untuk rehabilitasi sekolah dan pengadaan buku saja, sementara dana untuk pengadaan peralatan seperti komputer tidak pernah tersedia.

Kecilnya alokasi anggaran pendidikan di daerah dapat dilihat dari penyelenggaraan ujian nasional, hanya beberapa sekolah saja yang siap untuk mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK), sedangkan lainnya masih menggunakan kertas soal, jelas Indra.

Data menyebutkan dari 50.000 sekolah di Indonesia yang mengikuti UNBK hanya 4.400 dengan berbagai kendala di antaranya jaringan internetnya tidak bagus dan komputer tidak mencukupi.

Indra menjelaskan ketimpangan dana pendidikan dengan mencontohkan pengadaan fasilitas laptop di sekolah.

“Asumsi harga laptop dengan spesifikasi paling tinggi Rp5 juta per unit, maka untuk kebutuhan satu sekolah minimal 100 unit setidaknya dibutuhkan Rp500 juta, kenyataannya alokasi anggaran tahun 2015 rata-rata di bawah Rp18 juta,” jelasnya.

Indra mengingatkan masuknya Indonesia dalam pasar tunggal Masyarakat Ekonomi ASEAN menuntut tersedianya tenaga kerja berkualitas agar mampu bersaing, tentunya hal ini harus didukung pendidikan yang mumpuni.

Ia menduga rendahnya alokasi anggaran pendidikan di daerah karena kepala daerah masih banyak yang ragu atau bahkan tidak mampu dalam mengelola dan menyusun program pendidikan.

"Masih banyak kebijakan yang hanya meniru dari daerah lain, padahal untuk mengembangkan pendidikan di daerah perlu kreativitas," ujar dia.

Indra menyarankan bagi kepala daerah yang belum sanggup untuk membuat program sendiri karena khawatir atau apapun alasannya sebaiknya merekrut tenaga konsultan pendidikan yang paham untuk membantu membuat program. (ANT)

Baca juga artikel terkait ANGGARAN PENDIDIKAN atau tulisan lainnya

tirto.id - Pendidikan
Reporter: Rima Suliastini