Menuju konten utama

Anak Sungai di Palembang Hanya Tersisa 114, padahal Dulu Ada 726

Herman Deru menilai keberadaan anak sungai sangat penting untuk menjaga ekosistem alam.

Anak Sungai di Palembang Hanya Tersisa 114, padahal Dulu Ada 726
Gubernur Sumsel, Herman Deru. FOTO: Humas Pemprov Sumsel
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru menyesalkan banyaknya anak sungai di Palembang yang hilang akibat alih fungsi. Yang awalnya terdapat 726 anak sungai, kini hanya tersisa 114 saja.

Herman mengungkapkan Palembang dalam sejarahnya memiliki banyak anak sungai yang semuanya bermuara pada Sungai Musi. Sungai-sungai itu menjadi tumpuan hidup masyarakat zaman dahulu, baik transportasi maupun kegiatan ekonomi.

Sayangnya, sebagian anak-anak sungai itu hilang akibat penimbunan untuk permukiman dan bangunan lain. Penimbunan demi penimbunan terus terjadi tanpa kendali sehingga sungai tertutup menjadi tanah dan hamparan bangunan.

"Sejarah mencatat di Palembang ada 726 alur sungai, sekarang tinggal 114 saja. Lalu ke mana hilangnya? Kita sendirilah yang menutupnya," ungkap Herman, Jumat (22/5/2026).

Herman menilai keberadaan anak sungai sangat penting untuk menjaga ekosistem alam. Akibat hilangnya anak-anak sungai itu, banyak kawasan di Palembang menjadi langganan banjir setiap musim hujan.

"Sekarang, kalau ada banjir, teriak banjir. Padahal, sungainya memang ditimbun," kata Herman.

Herman pun meminta masyarakat untuk tidak lagi menimbun sungai, meski sejengkal. Pemerintah daerah juga harus menjamin eksistensi sungai-sungai yang ada untuk menjadi tempat mengalirnya air di kala musim hujan.

"Kasihan anak cucu kita nanti. Jangan sampai tidak ada lagi sungai di kota ini, yang ada cuma Sungai Musi," kata Herman.

Herman mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lingkungan di tengah ancaman perubahan iklim yang sulit diprediksi. Dia juga menyoroti semakin langkanya berbagai jenis kayu khas Sumsel yang dahulu mudah ditemukan di pedesaan, seperti kayu jelutung, merawan, hingga merbau.

Perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor yang membantu mengurangi penggunaan kayu dalam pembangunan. Material seperti rangka baja ringan, kusen alumunium, dan alumunium composite panel (ACP) mampu menekan penebangan pohon secara besar-besaran.

"Dulu hampir semua bangunan pakai kayu, sekarang sudah banyak alternatif. Nah, kemajuan teknologi bisa membantu menjaga hutan," kata Herman.

Baca juga artikel terkait EKOLOGI atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi