tirto.id - Menteri Pertanian Amran Sulaiman memborong berbagai hasil riset Universitas Gadjah Mada (UGM) senilai sekitar Rp40 miliar sebagai langkah mempercepat hilirisasi inovasi pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas pangan.
Kerja sama tersebut mencakup sedikitnya enam komoditas, yakni benih kedelai, bawang putih, kakao, pakan ternak, pupuk kalium humat berbahan batu bara, hingga pengembangan sapi unggul "Sapi GAMA".
Berbeda dengan kerja sama riset pada umumnya, Amran menegaskan Kementerian Pertanian langsung membeli hasil inovasi tersebut, bukan sekadar menandatangani nota kesepahaman (MoU).
"Ini kami langsung tindak lanjuti, bukan MoU, tapi langsung kami beli karya-karya putra terbaik bangsa yang ada di UGM. Langsung kami beli, dan kemudian kita kawal bersama, uji sampai 1.000 hektare, 2.000 hektare untuk kedelai, begitu juga bawang putih," kata Amran seperti usai acara Gandeng UGM Percepat Hilirisasi dan Inovasi Pertanian, dikutip dari YouTube Kementerian Pertanian, Selasa (30/6/2026).
Amran menuturkan pengadaan tersebut akan dilakukan secara langsung tanpa melalui perantara. Menurutnya, transaksi semacam ini membuatnya merasa kecewa apabila harus melibatkan pihak ketiga, karena keuntungan yang seharusnya dinikmati peneliti atau institusi pendidikan justru berkurang. “Gunakan PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum), minimal kalau Bapak punya perusahaan sendiri, aku beli,” ujarnya.
Menurut Amran, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan badan usaha menjadi kunci untuk mempercepat peningkatan produktivitas sektor pertanian. "Kalau kita ingin melompat secara eksponensial, harus kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah sebagai regulator, juga dengan pengusaha, dalam hal ini BUMN," ujarnya.
Amran mengakui, nilai kerja sama dengan UGM tersebut masih lebih kecil dibanding pembelian benih unggul dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sebelumnya mencapai Rp250 miliar. Namun, ia membuka peluang peningkatan nilai kerja sama apabila hasil riset UGM terbukti berhasil diterapkan secara luas.
" Mudah-mudahan tahun depan bisa meningkat seperti baru-baru ini dengan IPB. Nilai benih yang kami beli Rp250 miliar, itu langsung kami beli," katanya.
Ia menilai Indonesia seharusnya tidak lagi bergantung pada benih impor apabila lembaga riset dalam negeri mampu menghasilkan varietas unggul. "Kalau kita bisa hasilkan bibit-bibit unggul, benih-benih unggul, ngapain kita beli dari luar? Ternyata bisa menghasilkan benih unggul," ujarnya.
Salah satu komoditas yang menjadi fokus kerja sama adalah kedelai lokal hasil riset UGM. Amran menyebut varietas tersebut memiliki kualitas lebih baik dibanding kedelai impor karena bukan hasil rekayasa genetika (non-GMO) serta memiliki ukuran biji yang lebih besar.
"Ini kualitasnya lebih bagus karena non-GMO. Jadi ini sangat bagus, apalagi kedelai lokal tapi butirannya lebih besar daripada impor," katanya.
Sebagai tindak lanjut, Kementan akan memperluas pengembangan kedelai bersama UGM dari kapasitas awal sekitar 1.000 hektare menjadi 2.000 hektare. Seluruh biaya pengembangan akan ditanggung Kementerian Pertanian.
"UGM rencananya kemampuannya 1.000 hektare, tapi saya memohon kalau bisa 2.000 hektare dan biayanya dari Kementerian Pertanian," ujar Amran.
Ia mengatakan program tersebut akan diprioritaskan di Jawa Tengah, bersamaan dengan pengembangan bawang putih yang juga menjadi fokus substitusi impor. Selain memperkuat produksi dalam negeri, Amran mengungkapkan pemerintah terus menekan impor komoditas pertanian. Menurutnya, nilai impor pertanian telah turun sekitar Rp41 triliun, meski nilainya masih mencapai lebih dari Rp300 triliun.
"Ekspor pertanian sudah mencapai Rp760 triliun, naik Rp166 triliun dalam satu tahun pemerintahan. Yang menarik, impor kita sudah turun Rp41 triliun, tetapi masih ada Rp300 triliun lebih," katanya.
Penulis: Nanda Surya
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































