Ambisi Cina Mengejar Partikel Hantu lewat Proyek Miliaran Dolar

Oleh: Husein Abdulsalam - 24 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
“Dark matter” adalah materi misterius di alam semesta dan terus diburu para saintis di Cina lewat proyek ambisius bernama PandaX.
tirto.id - Dalam satu pertemuan ilmiah bertajuk Biannual Conference of Dark Matter pada 21 Juli 2016, Andi Tan, fisikawan lulusan Shanghai Jiao Tong dan tengah studi doktoral di Universitas Maryland, menjabarkan mengenai hasil penelitian termutakhir yang dikerjakannya bersama rekan-rekannya di laboratorium Particle and Astrophysical Xenon (PandaX).

Andi Tan mengungkapkan, meski tiada partikel “dark matter” berhasil ditemukan, laboratorium yang beroperasi sejak 2014 ini telah jadi tempat yang punya sensitivitas tertinggi untuk medeteksi keberadaan “dark matter” di dunia hingga saat ini. Sebelum mengakhiri presentasinya, Andi Tan berkata betapa bangga dia dengan hal tersebut.

“[...] setelah frustrasi setengah mati … saya berhasil mengatasi pelbagai kesulitan dalam pengembangan dan operasi probe. Dan, PandaX akhirnya mencapai sensitivitas tertinggi dunia. Hal yang paling menarik bagi seorang saintis adalah meluaskan satu langkah lebih jauh batas kognisi manusia,” ujar Andi Tan.

Dua bulan setelahnya, makalah berjudul “Dark Matter Results from First 98.7 Days of Data from the PandaX-II Experiment” yang disusun Andi Tan dkk. terbit dalam Physical Review Letters (edisi 117, 23 Agustus 2016).

Hesti Retno Tri Wulandari, peneliti astronomi di Institut Teknologi Bandung, menjelaskan bahwa dalam penelitian astronomi, informasi mengenai benda-benda langit hampir semuanya diantarkan oleh gelombang elektromagnetik. Jenis gelombangnya pun beragam, dari cahaya yang sehari-hari manusia bisa lihat, gelombang radio, gelombang inframerah, hingga sinar gamma.

“Dari situ para astronom membuat alat pendeteksi khusus gelombang elektromagnetik dalam berbagai jenis spektrum untuk mengetahui informasi yang dibawa gelombang tersebut mengenai benda langit yang kita amati,” ujar Hesti.

Namun, para astronom menemukan ada materi di alam semesta yang tidak berinteraksi dengan gelombang elektromagnetik. Materi inilah yang kemudian disebut “dark matter.” Ia terbukti eksis secara perhitungan, tetapi pengamatannya sulit dilakukan karena gelombang elektromagnetik tak pernah membawa informasi mengenai materi ini kepada manusia.

Karena itulah para astronom menyematkan kata “dark” sebelum “matter”. Bukan karena ia berwarna hitam, tetapi kata itu lebih menggambarkan satu hal yang misterius.


Memburu si Misterius

Para astronom kemudian berusaha menentukan karakteristik partikel yang memenuhi syarat sebagai “dark matter”. Salah satu kandidatnya adalah Weakly Interacting Massive Particles (WIMPs). Materi inilah yang ingin ditemukan oleh peneliti di PandaX.

Meski namanya menggunakan salah satu hewan imut khas Tiongkok, PandaX sesungguhnya bukan proyek main-main. Ia dibangun di kompleks China Jinping Underground Laboratory (CJPL). Lokasinya berada Pegunungan Jinping, Provinsi Sichuan.

Pembangunan CJPL menelan biaya 50 juta dolar AS dengan skema 30 juta dolar AS berasal dari Kementerian Pendidikan Cina dan 20 juta dolar AS dari Universitas Tsinghua. Sedangkan pengerjaannya memakan waktu dari 2009 sampai 2011.

Di dalam CJPL, selain PandaX, terdapat pula China Dark Matter Experiment (CDEX) dan Tsinghua University Low-Backgroud Facilities (THU-LBF).

Selain itu, menurut Space, Cina juga memburu “dark matter” dengan meluncurkan satelit Dark Matter Particle Explorer (DAMPE) pada 2015.

Adanya laboratorium-laboratorium ini, berikut penelitian yang dihasilkannya, menandakan bahwa Cina tak bisa dianggap anak bawang dalam pemajuan sains dan teknologi dunia saat ini.


Proyek Besar Negeri Tirai Bambu

CJPL, PandaX, DAMPE, serta sejumlah laboratorium saintifik ala Cina lain, bukan proyek ujug-ujug tanpa persiapan.

Sebuah studi berjudul “China’s Rise as A Major Contributor to Science and Technology” yang diterbitkan Yu Xie dkk. pada 2014 menggambarkan bahwa pada 1982, tenaga kerja bidang sains dan rekayasa di Cina berjumlah 1,2 juta jiwa. Angka ini mencakup 80 persen dari tenaga kerja bidang sains dan rekayasa yang dimiliki Amerika Serikat. Pada 2010, angka itu naik 3,2 juta jiwa—lebih dari dua kali lipat; sementara AS punya 4,3 juta tenaga kerja bidang sains dan rekayasa.

Dengan mempertimbangkan faktor seperti pasar tenaga kerja yang menyukai prestasi akademik, diaspora ilmuwan asal Cina yang jumlahnya besar, serta pemerintahan terpusat yang bersedia berinvestasi dalam sains, Yu Xie dkk. bahkan mendaulat, “Dalam tiga dekade terakhir, Cina telah menjadi kontributor utama dalam sains dan teknologi.”

Yang dilakukan pemerintah Cina dalam tiga dekade tersebut, salah satunya, adalah melakukan penguatan terhadap program dan lembaga yang menaungi perkembangan sains dan teknologi.

Pada 1986, pemerintah Cina mendirikan National Natural Science Foundation of China (NSFC). Lembaga ini berwenang untuk memerintah, mengoordinasi, dan mengefektifkan penggunaan anggaran nasional untuk mendukung riset sains dasar, mencari orang-orang berbakat dalam sains dan teknologi, serta mempromosikan kemajuan bidang tersebut untuk pembangunan sosial-ekonomi Cina.

Lembaga tersebut didirikan dengan anggaran tahunan 80 juta yuan (setara 13 juta dolar AS) pada 1986. Kemudian, anggaran ini meningkat menjadi 2 miliar yuan pada 2003 (setara 325.000 dolar AS), dan 23,8 miliar yuan (setara 3,87 miliar dolar AS) pada 2013.

Lembaga inilah yang membiayai pembangunan China Jinping Underground Laboratory dan PandaX.

Pada rentang 1996-2000, Cina juga menggelontorkan 2,2, miliar dolar AS untuk program peningkatan kemampuan penelitian di 100 universitas di Cina. Program ini bernama Proyek 211 dan telah dimulai sejak 1995.

Sedangkan untuk membangun universitas kelas dunia, Cina meluncurkan Proyek 985 pada 1998. Dengan program ini, selama 1999-2001, Universitas Peking dan Universitas Tsinghua menerima sekitar 300 juta dolar AS.

Selain itu Cina menyelenggarakan Program 863 atau Rencana Pengembangan Teknologi canggih (High-Tech). Tergambar dalam namanya, program ini bertujuan merangsang pengembangan teknologi canggih termutakhir.

infografik ambisi cina memburu partikel hantu

Wahai Saintis, Ayo Datang ke Cina!

Tak hanya melakukan penguatan lembaga-lembaga terkait sains dan teknologi, Cina juga mendorong para saintis, termasuk orang-orang keturunan Cina yang menjadi saintis di luar negeri, untuk meniti kariernya di Negeri Tirai Bambu itu.

Langkah ini diwujudkan melalui program Thousand Talents (Seribu Bakat) yang diluncurkan pada 2008. Seperempat anggaran National Natural Science Foundation of China digunakan untuk membiayai program ini.

Ada juga program pencarian orang-orang berbakat dalam bidang sains dan teknologi di tingkat provinsi dan universitas, misalnya Guangdong Province Leading Talent.

South China Morning Post melansir program Thousand Talents menawarkan subsidi permukiman kepada saintis senilai 500.000 yuan untuk kerja paruh waktu minimal tiga tahun di Cina. Sedangkan Guangdong Province Leading Talent menawarkan subsidi 1 juta yuan plus 5 juta yuan sebagai dana penelitian selama 5 tahun.

Melalui program itulah pemerintah Cina menjanjikan para saintis mendapatkan gaji tinggi, dana, dan ruang penelitian, serta tunjangan bebas pajak sebesar 160.449 dolar AS. Alhasil, per April 2012, program ini telah mendatangkan 2.263 saintis untuk bekerja di Cina.

“Jika seorang pria masuk dalam program Thousand Talents, ada sejumlah kasus di mana orang itu juga mendapat banyak manfaat lokal, seperti insentif lokal, dana hibah lokal,” ujar direktur Center for China & Globalization (CCG) Wang Huiyao.

Andi Tan, dalam The Pursuit of Dream, Selected Stories of Zhiyuan Students, mengakui awal ketertarikannya pada riset “dark matter” terpicu saat ia mengikuti kuliah dan lokakarya yang diberikan David Cai dan Xiangdong Ji, saintis yang tergabung dalam program Thousand Talents.

Xiangdong Ji adalah profesor fisika teoretis di University of Maryland yang kemudian menjadi kepala proyek PandaX.


Realisasi Tak Semanis Janji

David Zweig, ilmuwan politik di Hong Kong University of Science and Technology, seperti dilansir SCMP, membeberkan universitas juga akan mendapat hadiah jika mampu merekrut saintis dari luar negeri untuk bekerja di lembaganya.

Zweig mencontohkan, satu universitas di Cina bagian utara bakal mendapat 12 juta yuan jika berhasil mendatangkan seorang saintis, baik untuk bekerja penuh maupun paruh waktu. Sementara itu, Zweig dan Wang Huiyao juga menemukan beberapa program pencarian bakat tingkat lokal menawarkan 8 juta yuan bagi universitas yang mampu merekrut saintis penuh waktu.

Namun, apa yang dijanjikan ini tak selalu mewujud dalam kenyataan. Hal ini dialami oleh Ulf Leonhardt, fisikawan dari Inggris yang dikenal dengan gagasannya mengenai pembuatan jubah tak kasat mata.

Awalnya, pada 2011, Leonhardt mendapat tawaran untuk melakukan penelitian selama tiga bulan setiap tahun di The Centre for Optical and Electromagnetic Research (COER) yang berada di bawah naungan South China Normal University (SCNU).

South China Morning Post melansir COER sanggup menggaji Leonhardt sebanyak 133.333 yuan per bulan. Nilai gaji ini setara tiga kali lipat gaji yang diterimanya sebagai guru besar di University of St. Andrews.

Leonhardt menerima tawaran tersebut. Kemudian, untuk mendapatkan dana tambahan, Leonhardt mengajukan dana ke Program 1000 Bakat dan Guangdong Province Leading Talent. Pada September 2012, Leonhardt menerima persetujuan dari kedua lembaga penyalur dana itu dan menandatangani kontrak kerja lima tahun untuk COER.

Namun, dana yang ia dapatkan tidak seperti yang dijanjikan. Ia menduga ada penyelewengan dana. Lalu, setelah menyewa pengacara untuk menyelidiki kasusnya, ia menemukan ada sejumlah informasi yang keliru, termasuk pernyataan perjanjian yang terjemahannya keliru dan dan pembelian peralatan rahasia di COER.

Rekan kerja Leonhardt di COER, Sailing He, menampik ada penyelewengan dana. Menurutnya, Leonhardt sudah menyetujui di muka bahwa sebagian besar dana yang diterimanya akan dikelola pihak lain.

“Dia mendapatkan 20 ribu dolar AS sebulan. Dia tidak perlu peduli dengan rinciannya. Di Cina, Anda harus fleksibel, tidak selalu sesuai peraturan. Tapi itu bukan niat buruk,” sebut Sailing He.

Baca juga artikel terkait CINA atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - )

Reporter: Husein Abdulsalam
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight