Kemungkinan dan Cara-cara Menjelajahi Waktu

Oleh: Dea Anugrah - 24 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Andai punya mesin waktu, Stephen Hawking ingin mengunjungi Marilyn Monroe ketika ia sedang pulen-pulennya, menonton Galileo saat ia meneropong surga, dan menyaksikan akhir dunia. Sebagaimana para penulis dan pembuat film sains fiksi, Hawking dan fisikawan lain juga berpikir tentang penjelajahan waktu. Hanya, sudut pandangnya berbeda. Pertanyaan pertama bagi mereka: apakah hukum-hukum alam memungkinkan hal itu?
tirto.id - Di tengah kerumunan yang mengelilingi api unggun, seorang pria yang wajahnya pucat namun matanya penuh, bicara tentang empat dimensi kebendaan: tiga yang pertama—panjang, lebar, dan tinggi—adalah ruang dan dimensi yang keempat ialah waktu. Selain bahwa waktu bergerak bersama kesadaran manusia, ruang dan waktu tidak punya perbedaan.

Salah seorang pendengarnya tidak setuju. "Tapi kau tak dapat bergerak dalam waktu,” katanya. “Kau mustahil beranjak dari 'sekarang.'”

Si pucat itu kembali bicara, "Itulah kekeliruan Tuan. Itulah kekeliruan semua orang di dunia ini ... mengira manusia tak dapat berpindah-pindah dalam waktu."

Itu adalah ringkasan bagian pembuka The Time Machine (1895), novel karangan H.G. Wells, dan pria yang menuduh umat manusia keliru itu adalah tokoh utamanya, seorang jenius tanpa nama. Sepanjang cerita, narator hanya menyebutnya The Traveler alias Si Pelancong.

Dipandu oleh pemahaman teoritik dan obsesinya tentang perjalanan lintas waktu, Si Pelancong coba-coba merakit mesin waktu. Alat itu rupanya berfungsi. Ia terlempar ke 802.701 tahun di masa depan, bertualang selama delapan hari, dan akhirnya kembali ke "masa kini".

Wells mungkin bukan orang pertama yang berpikir tentang perjalanan lintas waktu dan alat untuk melakukannya, namun The Time Machine punya peran besar dalam memahsyurkan gagasan tersebut.

Baik dalam kebudayaan populer maupun sains, mesin waktu terus dibicarakan hingga sekarang. Dari golongan pertama, ada Terminator (James Cameron, 1984), Back to the Future (Robert Zemeckis, 1985), Midnight in Paris (Woody Allen, 2011), Looper (Rian Johnson, 2012), dan lain-lain.

Dari bidang sains, Stephen Hawking, salah seorang fisikawan paling cemerlang di zaman ini, menulis: “Perjalanan lintas waktu pernah dianggap sebagai kesesatan saintifik. Saya pernah menahan diri dari membicarakannya supaya tidak dicap senewen. Tapi, sekarang, saya bisa lebih santai … Andai punya mesin waktu, saya akan mengunjungi Marilyn Monroe ketika ia sedang pulen-pulennya atau menonton Galileo saat ia meneropong surga. Saya barangkali akan berkunjung ke akhir alam semesta untuk mengetahui bagaimana keseluruhan cerita kosmik kita berakhir.”

Sebagaimana para penulis dan pembuat film sains fiksi, Hawking dan fisikawan lain juga berpikir tentang lorong-lorong yang dapat menembus dimensi keempat. Hanya, sudut pandangnya berbeda. Pertanyaan pertama bagi mereka: apakah hukum-hukum alam memungkinkan hal itu?

Jika seseorang dapat pergi ke masa lalu, ia dapat pula membunuh ibunya atau mengebiri ayahnya (atau Nabi Adam) sebelum ia lahir. Kalau ia melakukannya, tentu ia jadi tidak pernah ada. Dan andai ia tidak pernah ada, bagaimana mungkin ia datang dari masa depan buat menyengsarakan orangtuanya?

Akibat, Anda tahu, mustahil mendahului sebab. Maka, kecuali dunia berhenti mengikuti hukum kausal, pakansi ke masa lalu selamanya bakal bertahan sebagai khayalan. Paradoks ini dikenal dengan nama “Paradoks Kakek.”

“Saya percaya, kok, pada perjalanan lintas waktu,” kata Hawking. “Tetapi hanya ke masa depan.”

Menurut penulis A Brief History of the Time itu, sehalus dan selicin apa pun sebuah benda, di dalamnya pasti ada lubang dan kerutan. Prinsip itu juga berlaku atas waktu. Di busa kuantum atau quantum foam, yang lebih kecil ketimbang atom, terdapat lubang cacing, lorong atau jalan pintas yang menembus ruang dan waktu. Lorong-lorong itu terbentuk dan menghilang dan terbentuk kembali secara ajek.

“Lubang-lubang cacing itu benar-benar menghubungkan dua tempat dan dua masa yang berbeda,” tulisnya.

Sejumlah ilmuwan menanggapi gagasan itu itu dengan upaya menciptakan mesin waktu. Pada dasarnya, mesin jenis ini bertugas menangkap dan memperbesar lubang cacing sampai manusia dapat memasukinya.

infografik mesin waktu


Sejauh ini upaya itu belum berhasil. Tapi kelak, sekalipun teknologi untuk memperbesar lubang cacing ditemukan, rintangan-rintangan lain sudah menanti.

Alih-alih mengantarkan seorang pelancong melintasi waktu, lubang cacing bisa jadi malah langsung membunuhnya dengan radiasi tingkat tinggi atau materi-materi tak dikenal yang mematikan. Lubang cacing juga berisiko rontok sebelum orang dapat memanfaatkannya, sebab, lubang cacing memancarkan radiasi dan radiasi akan memasuki lubang cacing dan begitu seterusnya, seperti feedback yang terjadi pada mikrofon dan pelantam, sampai ia meledak.

Pilihan lainnya ialah lubang hitam. Menurut teori relativitas umum Einstein, kecepatan waktu tidak selalu sama. Di angkasa luar yang kosong, misalnya, waktu melaju lebih cepat ketimbang di Bumi. Sebabnya ialah massa Bumi. Materi menghambat waktu sebagaimana sampah menghambat aliran sungai. Semakin berat dan besar gravitasi sebuah materi, semakin besar pula hambatan yang ia ciptakan terhadap waktu.

26 ribu tahun cahaya dari Bumi, tepat di pusat Bimasakti, ada sebuah lubang hitam supermasif. Ia merupakan benda terberat di seantero galaksi, dengan massa empat juta bintang mati yang tertelan daya gravitasinya. “Lubang hitam seperti ini berdampak luar biasa terhadap waktu. Ia memperlambat waktu lebih dari benda apa pun,” ujar Hawking. “Karena itulah ia merupakan mesin waktu alami.”

Katakanlah sebuah pesawat angkasa luar mengitari lubang hitam tersebut. Di Bumi, pusat kontrol misi itu mencatat: satu putaran terlaksana dalam tempo 16 menit. Tapi, bagi kru pesawat itu, yang berada sedemikian dekat dengan lubang hitam, waktu melambat secara ekstrem. Untuk setiap 16 menit di Bumi, mereka hanya mengalami delapan menit. Dan andai misi itu berlangsung selama sepuluh tahun waktu Bumi, para kru pesawat itu cuma bertambah tua lima tahun.

Namun, sebagai sebuah metode perjalanan lintas waktu, jarak tempuhnya terlalu kecil. Membakar lima tahun hanya untuk jadi lebih muda sepuluh tahun dibandingkan kawan-kawan sebaya, ditambah keharusan menghadapi bahaya-bahaya mengitari lubang hitam, ialah pekerjaan yang nyaris sia-sia.

Kemungkinan terakhir, sejauh yang diketahui para ilmuwan saat ini, ialah melaju dalam kecepatan cahaya.

Menurut teori relativitas khusus Einstein, semakin cepat gerak sebuah benda, semakin lambat waktu mengerkahnya. U.S Naval Observatory menguji teori ini pada 1971. Para peneliti menyiapkan dua buah jam; yang pertama diletakkan di observatorium, sedangkan yang lainnya dibawa mengelilingi dunia dalam sebuah jet berkecepatan suara atau 1.236 kilometer per jam. Hasilnya, ketika dibandingkan di akhir penerbangan, jam kedua terbukti tertinggal sepersekian detik. Dengan kata lain, meski sekejap, pesawat yang ditumpangi jam itu berhasil menembus dimensi keempat.

Tapi, menurut Hawking, kecepatan yang diperlukan untuk perjalanan lintas waktu sungguhan ialah kecepatan cahaya—lebih dari satu miliar kilometer per jam. Dalam kecepatan itu, jarak yang tertempuh setiap detiknya setara tujuh kali mengelilingi Bumi. Sementara laju Apollo 10, kendaraan berawak paling ngebut yang pernah diciptakan manusia, hanya 39.897 kilometer per jam. 27 ribu kali lebih lamban.

Perjalanan lintas waktu barangkali baru akan terwujud jauh di masa mendatang. Namun, mengingat upaya keras para ilmuwan dan kenyataan bahwa topik itu tidak lagi dipandang remeh dalam dunia sains sebagaimana, katakanlah, 50 tahun silam, kita patut bergembira dan pasang sikap optimistik.

Meski perlahan, umat manusia sedang mendekati zaman baru. Zaman ketika waktu dapat dilompati seperti selokan kecil dan disalip seperti sepeda listrik. Zaman ketika orang-orang yang gemar berseru “jangan pilih pemimpin kafir antek asing dan aseng” dan sejenisnya, kalaupun masih ada, dapat dikirimkan bersama buah-buahan busuk ke 3,5 menit sebelum Kiamat. Dan seperti Anda ketahui, "Paradoks Kakek" takkan mengizinkan mereka kembali.

Baca juga artikel terkait TIME TRAVELING atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight