19 Oktober 2003

Alija Izetbegovic: dari 'Deklarasi Islam' hingga Kemerdekaan Bosnia

Alija Izetbegovic. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 19 Oktober 2019
Dibaca Normal 5 menit
Alija Izetbegovic tak pernah menyembunyikan komitmennya kepada Islam di tengah kungkungan rezim komunis Yugoslavia. Menjadi presiden pertama Bosnia-Herzegovina di tengah kecamuk perang.
tirto.id - Pada 19 Oktober 2003, tepat hari ini 16 tahun lampau, rakyat Bosnia-Herzegovina ditinggal mangkat presiden pertama mereka, Alija Ali Izetbegovic. Dia adalah tokoh penting yang memproklamasikan kemerdekaan Bosnia dari Yugoslavia dan memimpin negara baru itu mengarungi masa rudin Perang Bosnia.

Meski demikian, Izetbegovic juga seorang pemimpin yang paling sering disalahpahami di Balkan. Ia adalah seorang muslim dan tak pernah menyembunyikan keislamanannya—bahkan di era Federasi Yugoslavia yang komunis. Gara-gara itu, musuh-musuh politiknya menaruh curiga ia punya motif hendak mendirikan negara Islam di Balkan.

“Ia dituduh pemimpin fundamentalis seperti Khomeini, yang ingin mendirikan negara Islam. Seruannya untuk sebuah negara yang multikultural dilecehkan,” tulis Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Paramadina Ihsan Ali Fauzi dalam obituari Izetbegovic yang terbit di koran Tempo (24 Oktober 2003).

Leluhur keluarga Izetbegovic adalah komunitas muslim yang semula mendiami Beograd (kini di Serbia). Pada 1868 keluarga Ozetbegovic keluar dari kota metropolitan yang didominasi etnis Serbia yang menganut Kristen Ortodoks Timur.

Kakek Izetbegovic dulunya pernah menjabat sebagai Wali Kota Bosanski Samac di Bosnia bagian utara. Di kota ini pula Alija Ali Izetbegovic lahir pada 8 Agustus 1925. Dua tahun kemudian keluarganya pindah lagi ke Sarajevo, mencari peruntungan yang lebih baik.

Kiprah aktivisme Izetbegovic di mulai sejak muda. Ia mulai bergabung dengan organisasi Young Muslims sejak awal memasuki usia kepala dua. Young Muslims adalah sebuah gerakan sosial yang bertujuan untuk mengangkat harkat komunitas muslim Bosnia.

Ketika Perang Dunia II pecah, Young Muslims terpecah dalam dua faksi: Handzar yang berafiliasi dengan Jerman dan faksi komunis. Izetbegovic memilih bergabung dengan faksi Handzar dan terus aktif di organisasi itu hingga berdirinya Federasi Yugoslavia yang berhaluan komunis pada 1946.

Bosnia sebagai bagian dari federasi mesti tunduk pada kebijakan politik, sosial, dan ekonomi baru yang ditetapkan rezim. Itu termasuk juga pembatasan gerak komunitas muslim di sana. Bersama Young Muslims, Izetbegovic terlibat kampanye menentang pembatasan tersebut. Karenanya, kegiatan mereka pun dianggap sebagai kegiatan ilegal dan ia pun kena ciduk rezim.

“Pada tahun 1946, Izetbegovic ditangkap dan dipenjara selama tiga tahun, setidaknya sebagian karena pernyataannya melawan Uni Soviet,” tulis jurnalis Tracy Wilkinson dalam obituarinya yang tayang di laman Los Angeles Times.

Setelah bebas pada 1949, Izetbegovic memilih meneruskan kuliah di bidang pertanian, lalu hukum di Universitas Sarajevo. Lepas itu ia bekerja sebagai konsultan hukum dan pengacara di beberapa perusahaan di Bosnia. Izetbegovic mungkin tidak sepenuhnya meninggalkan dunia aktivisme, tapi selama dua puluh tahun kemudian namanya jauh dari kontroversi.

Namanya kembali mencuat pada 1970, ketika Izetbegovic menerbitkan Islamska Deklaracija. Risalah yang secara global dikenal sebagai Islamic Declaration itu adalah sebuah manifesto politik yang menjabarkan pandangannya tentang hubungan antara Islam dan modernisasi. Dia mengelaborasi ide pembaruan Islam melalui perpaduan tradisi Islam dengan semangat progresif ala Barat.

Ian Traynor, penulis obituari Izetbegovic, menyebut deklarasi itu terbaca sangat radikal di mata para komunis Yugoslavia. Terlebih Izetbegovic dengan gamblang menyerukan revolusi agama dan politik Islam dalam risalah itu. Tak heran pula jika deklarasi itu menebar benih kecurigaan etnis Serbia dan Kroasia terhadap komunitas muslim Bosnia.

“Risalah itu tidak menyeru kepada etnis Bosnia secara khusus, namun, tetap menjadi dasar bagi kampanye etnis Serbia dan Kroasia yang diarahkan untuk menstigma Izetbegovic sebagai seorang fundamentalis,” tulis Ian Traynor di laman Guardian.

Izetbegovic mungkin tidak secara banal menantang totalitarianisme rezim Josip Broz Tito, tapi komitmennya terhadap Islam jelas merisaukan para kamerad komunis Yugoslavia.

Sedasawarsa kemudian, tepat di tahun kematian Tito, Izetbegovic menerbitkan lagi sebuah buku yang juga terkenal secara global bertajuk Islam between East and West. Tak sebatas menggali pemikiran dari khazanah Islam, ia juga mengambil saripati intelektual Barat dengan merujuk pemikiran Engels, Hegel, Russell, Karl Jaspers, hingga sastrawan macam Dostoyevsky serta Camus.

“Inilah buku yang menunjukkan bagaimana seseorang yang lahir di “Barat” berusaha memaknai kembali warisan leluhurnya yang “Timur” (Islam). [...] Ini jelas bukan karya apolog Muslim tradisional, apalagi pemimpin fundamentalis,” tulis Ihsan Ali Fauzi.

Tapi, tentu saja, kedua karya itu dianggap terlarang oleh rezim komunis Yugoslavia. Tuduhan-tuduhan fundamentalis diarahkan kepadanya dan sekali lagi ia diseret ke pengadilan pada 1982. Setahun kemudian ia dan beberapa aktivis Islam lain dijebloskan ke penjara.


Dari Aktivis Jadi Politikus

Gara-gara tekanan sejawat pengacara dan komunitas internasional, hukuman Izetbegovic diringankan. Semestinya ia menjalani 14 tahun penjara, tapi kemudian dibebaskan pada 1988. Usai keluar dari penjara jalan hidup Izetbegovic berubah. Ia bertransformasi dari seorang aktivis menjadi tokoh politik paling penting dalam sejarah Bosnia dan Herzegovina.

Ketika Izetbegovic bebas, Federasi Yugoslavia sedang berada di titik nadir kebangkrutan. Sepeninggal Tito, Yugoslavia tak lagi memiliki pemimpin kuat yang mampu mempersatukan kelompok-kelompok etnis yang saling bersikutan. Ketidakpuasan rakyat terhadap sistem politik dan kemunduran ekonomi membuat Yugoslavia kian amburadul.

Partai komunis tak lagi punya kekuatan sekarang. Pada 1989 partai-partai politik baru bermunculan di Yugoslavia. Lalu, pada 1990 pemilihan multipartai pertama diadakan di Kroasia dan Slovenia.

Izetbegovic mungkin melihat ini sebagai kesempatan untuk mewujudkan angan-angan politiknya terhadap muslim Bosnia. Maka itu ia terjun ke politik dengan mendirikan Partai Aksi Demokratik (SDA) yang mayoritas pendukungnya adalah muslim Bosnia. Dewasa itu populasi muslim Bosnia memang cukup besar, sekira 44 persen dari total populasi warga Bosnia-Herzegovina.

Langkah Izetbegovic ini lantas memicu peruncingan etnis di negara itu. Partai baru ini segera saja diadang oleh berdirinya Partai Demokrat Serbia dan sayap Bosnia dari Uni Demokrasi Kroasia. Izetbegovic memang dikenal membela pluralisme di Bosnia-Herzegovina, namun langkah politiknya kali ini justru membuat komitmen itu laiknya pepesan kosong.

Dalam obituari Izetbegovic, Ian Traynor mengkritik, “Potensi perang di kemudian hari dengan mudah diprediksi gara-gara politik eksklusivitas etnis itu. Dalam soal ini, Izetbegovic sama bersalahnya dengan para fanatik Serbia dan Kroasia yang membencinya.”

Dalam pemilu yang dihelat pada November 1990, SDA menang dan Izetbegovic terpilih sebagai presiden utama dalam dewan kepresidenan Bosnia-Herzegovina. Namun begitu, ketidakpuasan dari etnis Serbia segera merebak.

Pada pengujung 1991 Kroasia dan Slovedia mendeklarasikan kemerdekaannya dari Yugoslavia. Terinspirasi hal itu, pemerintahan Izetbegovic lantas mengadakan referendum pada 29 Februari sampai 1 Maret 1992. Hasilnya, pada 3 Maret Presiden Izetbegovic memproklamasikan kemerdekaan Bosnia-Herzegovina.


Memimpin di Tengah Kemelut

Kemerdekaan yang dideklarasikan Izetbegovic secara ironis justru membawa Bosnia-Herzegovina ke perpecahan etnis. Pasalnya, Partai Demokrat Serbia menyerukan boikot terhadap referendum dan menganggapnya ilegal. Peruncingan antaretnis yang tak terselesaikan itu lantas pecah jadi perang.

Encyclopædia Britannica menulis: “Ketika kemerdekaan Bosnia-Herzegovina diakui oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa pada 7 April 1992, pasukan paramiliter etnis Serbia lantas menyerang Sarajevo, [...] Selama bulan April itu banyak kota di Bosnia timur dan wilayah Herzegovina dengan populasi etnis Bosnia yang besar—seperti Zvornik, Foča, dan Višegrad—diserang oleh pasukan paramiliter dan tentara Yugoslavia.”

Musuh-musuh politik Izetbegovic juga melancarkan kampanye negatif terhadapnya. Risalah Islamic Declaration diungkit lagi untuk melabeli Izetbegovic sebagai fundamentalis. Kemerdekaan Bosnia-Herzegovina mereka sebut sebagai langkah awal Izetbegovic mendirikan negara Islam di Semenanjung Balkan.

“Orang-orang Serbia mengklaim bahwa mereka sedang berjuang melawan fundamentalisme Islam, meskipun muslim Bosnia sebenarnya kebanyakan adalah sekuler,” tulis David Binder dalam obituari Izetbegovic yang tayang di laman New York Times.

Izetbegovic pun tak kalah keras kepala menghadapi stigma itu. Selama perang berkobar ia juga tak pernah menampik bahwa langkah-langkah politiknya banyak terinspirasi oleh Islam. Ia dengan bangga selalu mendaku sebagai muslim yang hidup dan berpikir secara Barat.

Sebagai pemimpin negara ia juga dikenal teguh—atau sangat kolot. Sejak awal jadi presiden, Izetbegovic telah menegaskan bahwa kedaulatan Bosnia-Herzegovina adalah harga mati baginya. Pada Februari 1991, di hadapan Parlemen Bosnia-Herzegovina, Izetbegovic menegaskan bahwa ia rela mengobarkan perang demi kedaulatan negara.

“Tapi saya tak rela mengorbankan kedaulatan Bosnia-Herzegovina demi perdamaian,” tegasnya.





Bagi Tracy Wilkinson, sikap kepala batu itu membuat banyak kritikusnya mempertanyakan kemampuannya sebagai operator politik dan negosiator. Di mata internasional ia mungkin memang dianggap tak terampil, tapi ia selalu bisa memenangkan hati rakyatnya.

Mungkin juga Izetbegovic terlalu naif sebagai politikus. Ia terlalu percaya bahwa negara-negara Barat yang humanis akan mendukung penuh kemerdekaan Bosnia. Amerika dan Uni Eropa memang mengakui kedaulatannya, tapi, toh, perang tambah berlarut. PBB pun enggan terlibat aktif dalam urusan ini. Sementara di lain sisi, ia juga terlalu meremehkan kekuatan Serbia.

“Izetbegovic sering tampak seperti orang tua yang kesepian. Sepanjang gelombang pembersihan etnis yang dahsyat, Izetbegovic berdiri sendirian mempertahankan status moralnya di antara musuh-musuh politiknya,” tulis Ian Traynor.

Para pemimpin negeri Barat baru tergerak untuk lebih aktif membantu Bosnia-Herzegovina manakala Serbia melanggar batas kemanusiaan yang bisa mereka toleransi. Pada Juli 1995 PBB gagal mencegah pasukan Serbia melakukan pembantaian terhadap lebih dari 7.000 muslim Bosnia di Srebrenica.


Setelah pembantaian yang memilukan itu, barulah North Atlantic Treaty Organization (NATO) bergerak lebih aktif membantu Bosnia. Pasukan Serbia bisa didesak mundur setelah NATO melakukan serangan udara yang terkonsentrasi di basis-basis Serbia. Pada November 1995 Presiden Izetbegovic dan Presiden Serbia Slobodan Milosevic duduk bersama membicarakan perdamaian yang disponsori Amerika Serikat.

Hasil negosiasi yang dikenal sebagai Dayton Accords itu lalu ditandatangani kedua pemimpin pada Desember 1995. Perjanjian itu sekaligus pula mengakhiri Perang Bosnia yang selama tiga setengah tahun berkecamuk telah menewaskan sekira 200.000 jiwa dan membuat sejuta lainnya kehilangan tempat mukim.

Baca juga artikel terkait SEJARAH DUNIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight