tirto.id - Peringatan: Artikel ini memuat informasi terkait bunuh diri. Informasi dalam artikel ini tidak bertujuan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda, teman, kerabat, atau keluarga memiliki kecenderungan bunuh diri, segera hubungi bantuan profesional melalui psikolog, psikiater, atau dokter kesehatan jiwa di puskesmas atau rumah sakit terdekat.
***
Kesehatan jiwa anak usia sekolah di Indonesia berada dalam situasi mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan mencatat, proporsi siswa yang melakukan percobaan bunuh diri melonjak signifikan dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
Merujuk data Global-Based Student Healt Suvey, itu bahwa sekolah boleh dibilang belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang jiwa anak. Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, memandang angka itu menunjukkan pentingnya penanganan persoalan kesehatan mental sejak dini.
"Di siswa sekolah yang berpikiran untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri itu ternyata naik 1,6 kali lipat. Hampir dua kali lipat percobaan bunuh diri dan pikiran bunuh diri yang ada di siswa," kata Dante di Jakarta, Jumat (4/9/2026) dilansir dari Antara.
Menurut Dante, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kasus bunuh diri yang terlihat hanya merupakan sebagian dari persoalan kesehatan jiwa yang terjadi di masyarakat. Dia mengibaratkan fenomena tersebut seperti gunung es, dengan jumlah orang yang melakukan percobaan bunuh diri lebih besar dibandingkan mereka yang akhirnya meninggal akibat bunuh diri.
"Satu dari 10 siswa itu mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Dan usia 11-17 merupakan usia yang rentan untuk mencoba untuk bunuh diri di kelompok usia yang kita lihat dan kita evaluasi," katanya.
Dante menyebut gangguan jiwa menjadi faktor kedua terbesar yang menurunkan kualitas hidup setelah gangguan otot dan rangka. Kondisi yang mengintai satu dari tujuh orang di dunia ini sering kali tak kasat mata. Karena itu, masyarakat diimbau mewaspadai perubahan fisik, emosi, maupun perilaku yang berlangsung konsisten selama dua minggu--seperti gangguan tidur, perubahan berat badan, kecemasan berlebihan, hingga penurunan konsentrasi.
Guna menangani persoalan ini, Kementerian Kesehatan mengintegrasikan skrining kesehatan jiwa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan aplikasi Satu Sehat. Kemenkes juga menyediakan layanan darurat Healing119 via tenggat 119 ekstensi 8.
"Kita tidak harus menjadi ahli untuk menolong mereka yang mengalami gangguan jiwa. Cukup mulai dengan empat langkah sederhana: tanya, dengarkan, temani, dan hubungkan," tutur Dante.
Tekanan Teknologi & Parenting Kuno Picu Beban Mental Anak
Peneliti Pusat Riset Gender dan Anak Universitas Padjadjaran (Unpad), Antik Bintari, memandang tekanan psikologis akibat keterpaparan teknologi yang masif serta pola pengasuhan (parenting) yang kuno menjadi pemicu utama tingginya beban mental pada anak. Antik menilai Gen Z tergagap memilah informasi penting di tengah laju teknologi yang melampaui kapasitas adaptasi mereka.
"Gen Z saja itu, kan, juga mengalami sebuah proses adaptasi teknologi yang sangat cepat yang kemudian tidak diikuti oleh kapasitas dari si anak itu untuk merespons dan kemudian menyeleksi apa yang penting buat dirinya," kata Antik saat dihubungi Tirto, Jumat (4/9/2026).

Paparan teknologi yang masif ini, makin intensif sejak pandemi COVID-19 saat pembelajaran dialihkan secara online. Di sisi lain, lingkungan terdekat seperti orang tua dan sekolah belum memiliki kapasitas pendampingan yang sepadan saat anak berinteraksi di ruang digital.
Jurang kemampuan (gap) teknologi antara anak dan orang tua generasi X atau Milenial membuat kontrol serta pengawasan terhadap akses aplikasi berbahaya menjadi minim.
Hal tersebut diperparah oleh munculnya tekanan sosial akibat standar kehidupan di media sosial, perundungan, hingga krisis percaya diri saat memasuki fase perubahan hormonal.
"Media sosial malah mengancam mereka lebih dalam. Yang kemudian dia akan mengalami kelelahan, burnout, terhadap situasi di sosial media yang keterpaparannya juga tidak didukung dengan kemampuan mereka untuk merespons yang diajarkan oleh orang tua atau sekolah," tutur Antik.
Guna mengantisipasi memburuknya masalah kesehatan mental, Antik menekankan pentingnya mengenali perubahan perilaku anak sedini mungkin. Dia menjelaskan anak yang mengalami cemas berlebih cenderung menarik diri dari lingkungan sosial dan menjadi jauh lebih pendiam.
"Perubahan paling mudah itu jadi pendiam, lebih pendiam dari biasanya. Kemudian dia kecenderungannya adalah jadi asyik dengan dunianya. Padahal, mungkin sedang kecemasan tinggi yang sangat tinggi," jelas Fasilitator Nasional Untuk Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) tersebut.
Anak yang kurang dibiasakan terbuka atau tidak didengar di rumah akan mencari ruang sendiri dan perlahan memutus komunikasi dengan orang tua serta teman sebaya. Ia bilang ciri-ciri itu sering kali diabaikan karena anak hanya dianggap sekadar pendiam biasa. Maka, Antik menegaskan pentingnya kolaborasi antar-elemen lingkungan untuk mendukung anak:
"Sebetulnya ini kan support system-nya harus banyak ya. Jadi kan karena anak usia sekolah itu berarti kan ada orang tua, ada sekolah juga, termasuk masyarakat. Di masyarakat itu juga kan harus dibiasakan juga tidak main bully sama anak orang lain," ujar Antik.
Ia juga menekankan peran penting yang harus dijalankan masing-masing komponen. Mulai dari orang tua yang harus mulai belajar juga untuk kemudian memahami tanda-tanda awal gangguan psikologis dari anak.
"Kemudian, juga harus menjadi teman komunikasi, harus jadi juga teman dialog, membangun empati juga, karena menurut saya orang tua tuh harus jadi pendengar yang bijak, kemudian merespons sesuatu itu juga dengan bijak," tambahnya.
Sementara untuk lingkungan sekolah dan masyarakat, Antik menyarankan, sekolah juga harus membangun komunikasi yang memberikan support pada anak. Jangan kemudian anak mudah dilabeli sesuatu.
"Untuk guru, harus meningkatkan literasi tentang mental health, harus mampu mendeteksi awal perubahan perilaku anaknya," ujar Antik.
Selain itu, kata Antik, masyarakat perlu merangkul anak tanpa menghakimi atau mengecilkan peran mereka, demi menciptakan ruang aman yang merdeka dari perundungan.
Percobaan Bunuh Diri Anak Kian Marak, Kini Sasar Disabilitas
Komisioner KPAI, Dyah Puspitarini mengaku, pihaknya juga sejak awal mencatat angka percobaan anak mengakhiri hidup makin tahun yang kian bertambah.
Sepanjang 2024, KPAI memantau 15 kasus percobaan bunuh diri anak, yang kemudian melonjak hampir dua kali lipat menjadi 28 kasus pada tahun berikutnya. Penelusuran KPAI ke berbagai daerah pada 2026 bahkan membongkar kenyataan yang tak kalah memilukan bahwa fenomena nekat mengakhiri hidup ini telah merambah anak-anak disabilitas.
"Sebagai contoh di tahun 2024 ada 15 kasus yang terpantau. Tahun 2025 ada 28 kasus dan di tahun 2026 ini kemarin KPAI ke daerah menemukan fakta bahwa percobaan anak mengakhiri hidup juga terjadi pada anak disabilitas," ucap Dyah.
KPAI mencatat sepanjang 2025 saja sudah ada 25 anak disabilitas yang nekat mencoba mengakhiri hidupnya. Hal yang paling meresahkan, kata Dyah, aksi nekad ini tak lagi dipandang sebagai bentuk kekerasan ekstrem terhadap diri sendiri, melainkan mulai bergeser menjadi semacam tren dan pilihan jalan keluar instan bagi anak-anak yang terdesak masalah.
"Yang membuat KPAI sedih adalah bahwa percobaan anak mengakhiri hidup saat ini tidak lagi dipandang sebagai sebuah kekerasan pada diri sendiri, namun malah menjadi sebuah trend dan jalan yang dipilih anak-anak," bebernya.
Menurut Dyah, benteng pertahanan utama tetap berada di tangan orang tua. Keluarga memegang peran krusial untuk membangun resiliensi mental anak agar tak mudah patah saat dihantam persoalan hidup.
"Orang tua dan keluarga yang sebenarnya mampu melakukan pencegahan dan menguatkan resiliensi pada anak sehingga ketika menghadapi masalah bisa menyelesaikan dengan baik," pungkas Dyah.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































