Menuju konten utama

Wamenkes: Percobaan Bunuh Diri pada Siswa Naik 2,7 Kali Lipat

Menurut Dante, jumlah orang yang melakukan percobaan bunuh diri lebih besar dibandingkan mereka yang akhirnya meninggal akibat bunuh diri.

Wamenkes: Percobaan Bunuh Diri pada Siswa Naik 2,7 Kali Lipat
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyuntikkan vaksin PCP kepada seorang balita saat melakukan kunjungan kerja tematik di Puskesmas Mohammad Ramdan, Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/5/2026). Dalam kunjungan kerja tematiknya ke Kota Bandung Wamen Kesehatan Dante Laksono meninjau program percepatan Anak Zero Dose atau anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap melalui penguatan layanan primer, kolaborasi lintas sektor, hingga pelaksanaan sweeping door to door di Kota Bandung. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Peringatan: Artikel ini memuat informasi terkait bunuh diri. Informasi dalam artikel ini tidak bertujuan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda, teman, kerabat, atau keluarga memiliki kecenderungan bunuh diri, segera hubungi bantuan profesional melalui psikolog, psikiater, atau dokter kesehatan jiwa di puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan ada kenaikan hingga 2,7 kali lipat percobaan bunuh diri dialami siswa. Angka ini, kata Dante, menunjukkan pentingnya penanganan persoalan kesehatan mental sejak dini.

Dante mengatakan data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan, pada 2015, sebanyak 3,9 persen siswa mencoba mengakhiri hidupnya, sementara pada 2023 angka itu naik jadi 10,7 persen.

"Di siswa sekolah yang berpikiran untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri itu ternyata naik 1,6 kali lipat. Hampir dua kali lipat percobaan bunuh diri dan pikiran bunuh diri yang ada di siswa," kata Dante di Jakarta, Jumat (4/9/2026) dilansir dari Antara.

Menurut Dante, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kasus bunuh diri yang terlihat hanya merupakan sebagian dari persoalan kesehatan jiwa yang terjadi di masyarakat.

Dia mengibaratkan fenomena tersebut seperti gunung es, dengan jumlah orang yang melakukan percobaan bunuh diri lebih besar dibandingkan mereka yang akhirnya meninggal akibat bunuh diri.

"Satu dari 10 siswa itu mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Dan usia 11-17 merupakan usia yang rentan untuk mencoba untuk bunuh diri di kelompok usia yang kita lihat dan kita evaluasi," katanya.

Gangguan jiwa, kata Dante, merupakan urutan kedua faktor yang dapat memengaruhi kualitas hidup, setelah gangguan otot dan rangka. Gangguan jiwa dapat dialami siapa saja dan tidak selalu terlihat secara fisik.

Satu dari tujuh orang di dunia, katanya, hidup dengan gangguan kejiwaan. Dia pun mengingatkan masyarakat untuk mengenali perubahan kondisi fisik, emosi, maupun perilaku yang berlangsung secara konsisten selama dua minggu.

Sejumlah tanda yang perlu diperhatikan antara lain gangguan tidur, perubahan berat badan, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, sulit berkonsentrasi, serta perubahan pola bicara dan aktivitas.

"Kalau ini berlangsung selama dua minggu dari gangguan fisik, emosi, dan perilaku, sulit konsentrasi, perubahan pola bicara, dan aktivitas yang mencolok lebih dari dua minggu. Maka harus cepat-cepat diidentifikasi sebagai kelainan jiwa," katanya.

Oleh karena itu, kata Dante, masalah kesehatan mental, seperti gejala depresi dan cemas pada anak, perlu ditemukan lebih dini lagi, seperti melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Bahkan, katanya, menjaga kesehatan jiwa perlu dimulai sejak awal kehidupan, yakni ketika ibu sedang hamil atau dalam masa nifas.

Kementerian Kesehatan, lanjut Dante, juga melakukan upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif untuk menangani persoalan kesehatan jiwa.

Pada sisi preventif, kesehatan jiwa telah diintegrasikan dalam CKG dan tersedia pula skrining melalui Satu Sehat memakai kuesioner. Sementara untuk bantuan lebih lanjut, Kemenkes menyediakan layanan Healing119 yang dapat diakses melalui 119 ekstensi 8.

Masyarakat tidak perlu menunggu hingga seseorang mengalami krisis untuk memberikan pertolongan. Menurut dia, orang di sekitar dapat mengambil peran melalui empat langkah sederhana, yakni bertanya, mendengarkan, menemani, dan menghubungkan dengan keluarga atau tenaga ahli.

"Kita tidak harus menjadi ahli untuk jadi penolong mereka yang mengalami gangguan jiwa. Mulai dengan empat langkah sederhana: tanya, dengarkan, temani, dan hubungkan," ujarnya.

Baca juga artikel terkait BUNUH DIRI

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Editor: Bayu Septianto