17 Juli 2014

Akhir Riwayat Malaysia Airlines Penerbangan MH17

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah - 17 Jul 2022 00:05 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Disangka pesawat militer Ukraina, penerbangan MH17 dirudal separatis pro-Rusia. Pukulan telak bagi Malaysia Airlines yang sebelumnya kehilangan MH370.
tirto.id - Dalam dunia penerbangan, keselamatan memang selalu menjadi prioritas dan jargon utama. Namun, bayangan terburuk selalu terpikirkan ketika di udara. Meski mesin pesawat bagus, kondisi cuaca cerah, dan awak kabin tidak bermasalah, tragedi buruk bisa tetap datang dan tak ada yang bisa menduganya. Itulah yang terjadi pada pesawat Malaysia Airlines nomor penerbangan MH17 rute Amsterdam-Kuala Lumpur.

Pesawat asal Malaysia itu dijadwalkan lepas landas dari Bandara Schiphol, Amsterdam, pada Kamis, 17 Juli 2014 pukul 10.31 GMT (Greenwich Mean Time). Tercatat ada 298 orang yang diangkut oleh Boeing 777-200 itu—terdiri dari 283 penumpang dan 15 kru. Pesaawat itu diperkirakan akan menempuh penerbangan selama 12 jam hingga tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, pukul 22.10 GMT.

Bagi Malaysia Airlines, rute perjalanan ini adalah hal biasa. Sebab, maskapai tersebut sudah berulang kali melewati rute serupa sejak terbang perdana pada 1970-an. Lazimnya, penerbangan MH17 melintasi Jerman, Eropa Timur, Timur Tengah, lautan Hindia, lalu mendarat langsung di Kuala Lumpur. Semuanya indikator keselamatan terbang pun dinyatakan tidak ada masalah, mulai dari cuaca, mesin pesawat, sampai awak kabin.

Di luar semua kalkulasi standar aviasi, situasi politik regional di Eropa Timur pada 2014 tengah tidak stabil. Inilah yang tidak diperhitungkan oleh Malaysia Airlines.

Ukraina, negara yang bakal dilintasi penerbangan MH17, sedang dilanda masalah politik-militer. Pasukan Rusia dan separatis pro-Rusia mencaplok wilayah Ukraina Timur, tepatnya Semenanjung Krimea dan Donetsk. Akibatnya, wilayah tersebut dilanda pertempuran antara Ukraina dan separatis pro-Rusia. Seperti yang sudah-sudah, terdapat zona larangan terbang di atasnya.

Namun, badan internasional yang mengatur hal tersebut, International Civil Aviation Organization (ICAO), masih membolehkan pesawat terbang di langit Ukraina Timur. Syaratnya, ketinggian pesawat harus di atas 32 ribu kaki. Ketinggian itu adalah yang paling aman karena sudah diluar jangkauan rudal. Maka banyak maskapai lain, seperti Singapore Airlines dan Lufthansa, yang tetap mengudara di sana.

Atas dasar itulah, penerbangan MH17 tetap melaksanakan perjalanannya siang itu dan diprediksi akan berjalan lancar. Ketika jarum jam tepat di angka 10.31, pesawat pun lepas landas ke ketinggian 33 ribu kaki. Penerbangan MH17 pun tidak terbang sendirian hari itu. Tercatat terdapat 160 pesawat yang melintasi langit di rute yang sama dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Penerbangan memang berjalan lancar hingga tiga jam kemudian nasib buruk menimpa penerbangan MH17. Pada delapan tahun lalu, tepat pukul 13.20 GMT, penerbangan MH17 tiba-tiba hilang kontak di langit Donetsk, Ukraina Timur.

Wilayah itu adalah lokasi tempur para kombatan. Tidak lama kemudian, pihak maskapai menyatakan secara resmi bahwa penerbangan MH17 menghilang sekitar 50 km dari perbatasan Rusia-Ukraina. Kehilangan itu tanpa disertai sinyal darurat alias mendadak hilang begitu saja.

Bersamaan dengan pernyataan itu, separatis pro-Rusia mengumumkan bahwa mereka berhasil menembak pesawat militer Antonov milik Ukraina di wilayah dekat Torez. Torez sendiri masih termasuk dalam kawasan tempat hilangnya penerbangan MH17.


Meledak di Udara, Lalu Jatuh

Keesokan harinya, berseliweran foto dan video amatir di media sosial terkait kebakaran dan puing-puing pesawat di daerah Ukraina Timur. Ada video yang menggambarkan pesawat terbakar di udara, lalu terjun bebas dan meledak di darat hingga menimbulkan asap tebal. Ada pula foto serpihan pesawat di berbagai lokasi berbeda.

Dalam foto itu, ditunjukkan serpihan badan pesawat dengan ciri khas Malaysia Airlines: berkelir merah dan biru—bukti kuat bahwa pesawat yang hancur itu adalah penerbangan MH17.

Sebagaimana dikutip Vox, wartawan Ukraina Noah Sneider yang mengunjungi lokasi kejadian melaporkan bahwa banyak penduduk lokal melihat ledakan pesawat di udara sebelum jatuh. Noah juga menyampaikan, “Di lokasi kejadian, tubuh manusia ditemukan di mana-mana, termasuk serpihan organ tubuhnya.”

Penduduk yang tinggal beberapa kilometer dari pusat jatuhnya pesawat juga melaporkan hal serupa. Mereka menemukan serpihan pesawat dan yang mengenaskan: jasad manusia. Tubuh manusia itu berada di kebun dan atap rumah warga.

Berdasarkan foto, video, dan kesaksian tersebut, spekulasi awal dan terkuat terkait sebab jatuhnya penerbangan MH17 adalah penembakan. Tembakan tersebut membuat pesawat meledak di udara hingga membuat serpihan pesawat dan jasad penumpang tersebar. Apalagi, pada waktu bersamaan ketika pesawat hilang kontak, pihak separatis membenarkan telah menembak pesawat yang menurut klaimnya merupakan pesawat militer.

Jadi, besar kemungkinan bahwa kelompok separatis pro-Rusia itu salah tembak. Maka publik dunia langsung menyorot pihak separatis sebagai kelompok yang harus bertanggung jawab atas meninggalnya 298 penumpang MH17. Publik sekaligus juga memojokkan Rusia yang mendukung gerakan separatis itu.


Infografik Mozaik Malaysia Airlines MH17
Infografik Mozaik Malaysia Airlines MH17. tirto.id/Tino


Dirudal

Investigasi terkait jatuhnya penerbangan MH17 pun di mulai setelah itu. Karena kebanyakan penumpangnya berasal dari Belanda, Negeri Kincir Angin itu pun memimpin penyelidikan bersama Australia.

Seturut laman History, tim investigasi itu bekerja selama 15 bulan dan berhasil mengungkap bahwa penerbangan MH17 mengalami kecelakaan akibat ledakan hulu ledak tipe 9N314M buatan Rusia. Hulu ledak itu diperkirakan ditembakkan dari daratan timur Ukraina menggunakan sistem rudal Buk. Rudal itu memang dibawa ke Ukraina dari Rusia untuk menangkal pesawat militer ukraina.

Selain itu, tim investigasi pun merilis detik demi detik kejatuhan penerbangan MH17.

Seturut pemberitaan BBC, rudal meledak di sebelah kiri kokpit. Dampaknya, kokpit langsung lepas dari badan pesawat dan menimbulkan lubang besar. Setelahnya, badan pesawat terlepas dari bagian ekor hingga kemudian jatuh ke tanah. Ledakan di udara inilah yang membuat seluruh penumpang tewas seketika dan jasadnya tersebar di mana-mana.

Atas dasar temuan investigasi itu, Belanda secara resmi meminta Rusia untuk bertanggung jawab atas tragedi ini. Apalagi, terdapat fakta bahwa rudal itu berasal dari Brigade Anti-Misil ke-35 Rusia yang berbasis di Kursk.

Rusia menolak tuduhan ini. Rusia juga bersikukuh bahwa meski rudal buatan Rusia, bukan berarti negaranya harus bertanggung jawab.

Pada 2018, tim investigasi kembali mengumumkan empat tersangka dalam peristiwa ini. Mereka terdiri dari tiga warga negara Rusia dan seorang warga negara Ukraina. Lebih detail lagi, mereka adalah Igor Girkin, Sergei Dubinsky, Oleg Pulatov, dan Leonid Kharchenko.

Keempat tersangka itu adalah aktor intelektual di balik pemindahan rudal ke Ukraina Timur, sekaligus eksekutor tembakan. Keempatnya dituduh menyebabkan jatuhnya penerbangan MH17 dan membunuh 298 orang.

Seturut pemberitaan Tempo, hakim kemudian menuntut hukuman penjara seumur hidup kepada mereka pada 2021, meski mereka tidak pernah hadir di persidangan.

Sampai sekarang, tidak ada permintaan maaf dari Rusia dan pihak separatis terkait insiden ini. Terlepas dari itu, jatuhnya MH17 menambah daftar panjang pesawat sipil yang jatuh akibat ditembak tentara.

Bagi pihak maskapai, tragedi ini jadi pukulan telak yang membuat kepercayaan masyarakat semakin menurun. Pasalnya, hanya berselang empat bulan sebelumnya, Malaysia Airlines juga kehilangan satu armadanya, penerbangan MH370, akibat kecelakaan. Ibarat pepatah, Malaysia Airlines ini sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Baca juga artikel terkait KECELAKAAN PESAWAT atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight