23 Desember 1968

A.K. Gani, Aktivis Pergerakan dan Menteri yang Jadi Bintang Film

Adnan Kapau Gani. tirto.id/Sabit
Oleh: Fitri Ratna Irmalasari - 23 Desember 2019
Dibaca Normal 4 menit
A.K. Gani menyandang banyak titel: bintang film, aktivis pergerakan, dokter, menteri, hingga perwira militer. Perannya yang paling menonjol terjadi di era Revolusi.
Proklamasi kemerdekaan baru tiga bulan dikumandangkan ketika Belanda memblokade perairan Indonesia. Tapi untungnya salah seorang residen di Sumatra punya ide cerdik. Bermodal kharisma sebagai tokoh sentral dalam dunia pergerakan, Adnan Kapau Gani, Residen Palembang, dengan mudah bersekongkol dengan para pedagang dan pialang di kota itu. Mereka meloloskan sejumlah komoditas penting dari Sumatra ke Singapura dan Penang.

Ketika Gani menjabat Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Sjahrir III, jaringan penyelundupannya sudah menjangkau seluruh pantai utara Jawa dan pantai Sumatra. Salah seorang yang ia andalkan untuk menakhodai kapal penyelundup adalah John Lie. Perwira Angkatan Laut keturunan Tionghoa ini terkenal jago main kucing-kucingan dengan kapal-kapal patroli Inggris dan Belanda.


Ruben Nalenan mengisahkan dalam Dr. A.K Gani: Pejuang Berwawasan Sipil dan Militer Gani (1990), suatu kali Belanda menyita barang-barang milik Indonesia yang menumpang kapal barang Amerika dari Cirebon dan menyimpannya di gudang di Tanjung Priok. Gani protes, tetapi tak digubris. Maka diutusnya Hasjim Ning membakar gudang itu. Hasjim Ning adalah saudagar keturunan Palembang yang kenal baik dengan Gani.

Singkat cerita, misi penyelundupan yang didalangi Gani menyelamatkan negara dari blokade Belanda. Dalam autobiografinya, Sukarno bercerita dengan bangga kepada jurnalis Amerika Cindy Adams: “Gani menyelundupkan 9 kg emas dan 300 kg perak dari Sumatera sebagai pembayaran 20.000 seragam tentara. Gani menyelundupkan karet, ada 8.000 ton sekali jalan.”

Penyelundupan-penyelundupan itu hanya satu dari sekian siasat A.K. Gani ketika menghadapi krisis di masa Revolusi.

Memimpin Di Saat Krisis

Saat menjadi Residen Palembang, Gani berhasil menciptakan peralihan kekuasaan yang tenang di tengah kontestasi politik lokal yang cukup sengit di Sumatra Selatan.

Gani hijrah dari Jakarta ke Palembang pada 1941 untuk memimpin cabang Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) di kota itu. Kepiawaiannya berorasi menuai simpati dan membuatnya tampil sebagai tokoh penting di Palembang.

Ia berinisiatif mengambil alih kepemimpinan setelah kekuasaan Jepang runtuh. Pada 25 Agustus 1945 Gani membacakan naskah proklamasi di hadapan rakyat Palembang sekaligus mendaulat dirinya sebagai pengampu kekuasaan Residen Palembang hingga ada keputusan dari Jakarta.

Guna menghindari bentrok fisik, Gani membuat perhitungan dengan Jepang. Ia melarang penduduk menjual hasil pertanian dan bahan makanan ke pusat-pusat konsentrasi tentara Jepang kecuali jika mereka bersedia bekerja sama. Jepang akhirnya terdesak dan mau bersikap kooperatif dengan Indonesia di bawah komando Gani.

Gani lalu membentuk Oesaha Perdamaian Rakjat Daerah Palembang (OPRDP) untuk mengambil alih jawatan pemerintah. Namun itu bukan perkara mudah, terutama jika terkait tambang minyak bumi. Laskar-laskar bermunculan dan menguasai sumber minyak. Gani mendekati mereka agar bergabung dengan OPRDP lewat kesepakatan bahwa laskar-laskar boleh menikmati keuntungan dari minyak asalkan mampu memasok logistik dan perbekalan bagi sipil dan militer di Sumatra.

Dengan cara itu Gani sekaligus menjinakkan unsur-unsur militer ke dalam pengaruhnya. Menjelang pertengahan 1946, sumber-sumber minyak bumi di Palembang sudah berada di tangan Republik.

Mestika Zed dalam Kepialangan Politik dan Revolusi: Palembang 1900-1950 (2003: 358) mencatat bahwa dibandingkan dengan daerah manapun di Sumatra, Palembang di bawah kepemimpinan Gani tampak lebih siap menghadapi Sekutu. Gani berhasil menjadikan Palembang sebagai lokomotif ekonomi bagi Republik di Sumatra dan menjalin komitmen antara daerah dan pemerintah pusat.

Gani memanfaatkan kedekatan dengan pemerintah pusat untuk memuluskan strategi-strategi politiknya. Ia, misalnya, tidak menyetujui pengangkatan Teuku M. Hasan sebagai Gubernur Sumatra karena dinilai lambat menangani kekacauan akibat revolusi. Ia protes ke Sukarno. Hasilnya, Sukarno memberinya jabatan Gubernur Muda yang bertanggung jawab langsung kepada pemerintah pusat.

Lain waktu Gani menjegal langkah Emir Mohammad Noor, pimpinan Tentara Keamanan Rakyat dan bekas perwira Gyugun yang memengaruhi beberapa kelompok pemuda di Sumatra Selatan untuk memberontak. A.H. Nasution, seperti dicatat Ruben Nalenan (hlm. 70), mengakui bahwa Gani melaporkan perkara Emir ke pimpinan pusat. Gani lalu diangkat sebagai koordinator TKR untuk seluruh Sumatra dan Emir tidak diakui sebagai panglima. Ia lantas mengangkat R. Suharjo Harjowardoyo, kepala polisi Lampung, sebagai Kepala Staf TKR Sumatra.

Bagi Gani, munculnya berbagai organisasi dan barisan laskar akan menciptakan kekacauan dan menghambat fokus Republik dalam proses peralihan kekuasaan. Ketika merumuskan pokok-pokok pikiran bertajuk “Economisch Beleid dalam Zaman Peralihan” pada 28 Desember 1946, hal pertama yang ia bahas adalah soal pemberhentian kekacauan.

“Maka untuk mengubah keadaan itu (kekacauan), perlu diadakan atau diperbaiki organisasi-organisasi dan cara bekerjanya, baik dalam kalangan pemerintahan maupun dalam kalangan partikulir, sehingga di mana-mana terbentuk lagi pimpinan sentral yang dituruti. Meletakkan urusan perekonomian dalam satu tangan, yaitu Kementerian Kemakmuran yang berusaha menambah barang-barang yang dibutuhkan, baik yang dihasilkan dalam negeri, maupun yang perlu diimpor dan memperbaiki pembagiannya, sehingga dorongan untuk bertindak sendiri-sendiri bisa berkurang” (Butir 10 "Economisch Beleid, Pikiran-pikiran Dr. A.K. Gani" dalam Dr. A.K. Gani: Pejuang Berwawasan Sipil dan Militer, 1990: 256).

Gani menjabat Menteri Kemakmuran dalam periode Kabinet Sjahrir III (Oktober 1946-Juni 1947) hingga Kabinet Amir Sjarifoeddin II (November 1947-Januari 1948). Pada masa Kabinet Sjahrir III Gani menjadi salah satu anggota delegasi Indonesia dalam Perjanjian Linggarjati. Perundingan ini gagal, Kabinet Sjahrir III pun tumbang.


Pada November 1948, dalam Kabinet Amir II, Gani memimpin delegasi Indonesia untuk menghadiri Konferensi PBB di Havana, Kuba, atas undangan Sekjen PBB Trygve Lie. Perjalanan ke Kuba penuh risiko karena harus melewati patroli Belanda, tapi Gani punya reputasi sebagai raja penyelundup. Gani dan rombongannya menumpang kapal pada malam hari, menyelundup ke luar negeri, lalu melanjutkan perjalanan dengan pesawat terbang menuju Havana.

Bagaimanapun juga Gani adalah orang yang pandai memanfaatkan situasi. Saat transit di Amsterdam pada 14 November 1948, Gani melakukan wawancara dengan media Belanda. Ia tak hanya memberi keterangan soal situasi Indonesia dan misi perdagangan dengan negara-negara sahabat. Dalam wawancara khusus dengan Het Parool, Gani membantah keterangan Belanda yang mengklaim bahwa mereka masih taat pada Perjanjian Linggarjati.

Rombongan Gani tiba di Havana pada 20 November 1948. Gani berulang kali mengecam agresi militer Belanda dalam pidatonya. Peserta konferensi dari 58 negara tertarik pada pidato yang ia bawakan dengan gaya yang berapi-api. Rombongan Gani akhirnya pulang dengan mengantongi sejumlah kontrak dagang dengan pengusaha AS dan membina hubungan dengan Bank Dunia.

Pulang dari Havana, Kabinet Amir II sudah berganti menjadi Kabinet Hatta I. Gani ditugaskan ke Sumatra untuk menjajaki kerja sama dengan AS di wilayah itu. Namun sampai di Sumatra tugas itu berubah. Agresi Militer II meletus pada akhir Desember 1948. Belanda berhasil menduduki Tebingtinggi, Muarabeliti, Jambi, Tanjungkarang, Lubuklinggau, dan Curup.

Gani pun diangkat menjadi Gubernur Militer. Ia menyetir sendiri Tarzan dan Jungle Jane, dua jipnya, dari hutan ke hutan. Saat kehabisan bensin, ia ganti menunggang kuda sembari mengenakan topi lebar dari bahan kulit. Ia bergerilya mengorbankan semangat rakyat dari Curup menuju Lampung, melalui Pantai Bengkulu Selatan hingga Muara Sahung, markas Gubernur Militer Sumatra Selatan.




Dokter Perlente yang Merakyat

Sebagai pejuang, hidup Gani penuh warna. Ia menyandang banyak titel: bekas makelar, bintang film, sutradara, wartawan, penulis drama dan puisi, dokter, menteri, hingga perwira militer tituler.

Politikus main film bukan hal wajar di era Gani. Rekan-rekannya menganggap Gani mengkhianati pergerakan ketika pada 1941 ia tampil sebagai aktor utama memerankan Dr. Pardi dalam film Asmara Moerni.

“Dalam kampanye pemilihan untuk Volksraad, Gerindo kalah dari Parindra karena Gani main film. Parindra menyerukan agar jangan memilih Gerindo yang ketua umumnya seorang pemain film,” tutur Mohammad Isnaeni, teman separtai Gani di Gerindo, seperti dikutip Ruben Nalenan (hlm. 2).

Dalam renungan pribadinya saat berulang tahun ke-51, Gani mengaku bermain film untuk membiayai kuliah kedokterannya di GHS dan menolong teman yang sedang kesusahan.


Gani merokok Garrick, ke mana-mana naik jip, dan selalu tampil necis. Sebagaimana ditulis majalah Waktu (21 September 1949), Letjen Hidayat Martaatmaja, eks Panglima Komando Teritorium Sumatra, menjuluki Gani sebagai Ramon Novarro-nya Indonesia. Ramon Novarro adalah aktor Amerika kelahiran Meksiko yang saat itu terkenal sebagai "simbol seks" Hollywood.

Suatu kali Gani, sebagaimana dicatat Ruben Nalenan (hlm. 324), bercerita bahwa penampilannya yang terlihat makmur itu kadang mengundang komentar iseng dari teman-temannya. Ia dengan santai menanggapi, “Apa guna menjadi Menteri Kemakmuran kalau tidak sanggup bikin makmur antero negeri, atau sekurang-kurangnya saya sendiri lebih dulu sebagai contoh.” Semua orang yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak.

Mengenai penampilannya itu, ia pernah berpesan kepada bekas anak buahnya, Brigjen Sunardi, “Kita harus perlente dan kelihatan gagah. Sikap kerakyatan tidak terlukis dalam berpakaian.”

Pada 23 Desember 1968, tepat hari ini 51 tahun lalu, dokter pejuang yang perlente itu meninggal di usia 63 karena sakit. Hingga akhir hayat, Gani membuka praktik dokter di Palembang dan terkenal suka menggratiskan biaya pengobatan kepada mereka yang tak mampu.

==========

Fitri Ratna Irmalasari adalah editor dan penerjemah independen. Ia menyelesaikan S1 di Program Studi Prancis UI dan S2 di Departemen Ilmu Sejarah UI. Tesis masternya tentang perubahan persepsi manusia terhadap hewan di Hindia Belanda yang tercermin dalam pembangunan Kebun Binatang Cikini.

Baca juga artikel terkait REVOLUSI INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fitri Ratna Irmalasari
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fitri Ratna Irmalasari
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight