Obituari

Ajip Rosidi, Sosok yang Sungguh-Sungguh dalam Rumah Persahabatan

Ajip Rosidi. tirto.id/Fuad
Oleh: Irfan Teguh - 2 Agustus 2020
Dibaca Normal 5 menit
Sejak muda Ajip Rosidi terbiasa hidup ditumpangi banyak orang. Kesungguhannya dalam berkarya sukar ditiru.
Dua bulan setelah Mingguan Sunda terbit, tepatnya pada April 1965, Ajip Rosidi dan keluarga pindah dari Jatiwangi ke Bandung. Bersama Ramadhan K.H., Ajip menjadi direktur media tersebut.

Ia sebetulnya telah mengontrak rumah di Gang Natawijaya, tempatnya menginap dan bertemu kawan-kawannya bila sedang di Bandung. Namun rumah itu telah diisi Ahmad Hidayat Sutisna, pegawai YKI (Yayasan Kebudayaan Indonesia), beserta anak-anaknya yang masih kecil, adiknya, juga kemenakannya. Bendaharawan YKI itu baru ditinggal wafat istrinya sehingga mesti meninggalkan rumah mertuanya.

“Tentu aku tak mungkin mengeluarkan mereka dari sana (rumah yang Ajip sewa) hanya karena keluargaku sendiri akan datang,” tulis Ajip dalam autobiografi Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan (2008).

Ajip akhirnya menyewa rumah lain yang letaknya tak jauh dari Gang Natawijaya, yaitu di Gang Asmi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di rumah ini juga ia banyak menampung orang, bahkan terlalu banyak. Saat pindah ke Bandung, Fatimah yang biasa dipanggil Empat, istrinya, tengah mengandung anak keenam. Selain mereka bertujuh, di rumahnya ada lagi sepuluh orang yang tinggal dengan pelbagai keperluan.

Di antaranya adalah adik Ajip lain ibu, adik sepupunya yang dititipkan untuk disekolahkan, dua orang pemuda asal Cirebon yang hendak mempelajari teater, pegawai Mingguan Sunda dengan adiknya, dan anak tetangganya di Jatiwangi karena melanjutkan sekolah di Bandung. Total yang tinggal di rumah itu tujuh belas orang.

Jika bulan puasa tiba dan kawan-kawan Ajip yang bertamu keasyikan ngobrol hingga datang waktu magrib, maka yang berbuka puasa di rumah itu bisa lebih dari dua puluh orang. Mereka berkumpul menikmati hidangan di ruang tengah setelah semua kursi dan meja disingkirkan.

“Sekarang aku sendiri tidak dapat membayangkan bagaimana atau di mana mereka tidur dalam rumah yang sebenarnya tidak besar itu,” tulis Ajip.

Sejak merantau ke Jakarta pada awal 1950-an, Ajip tak pernah tinggal sendirian. Saat melanjutkan sekolah di SMP VIII di Pegangsaan Barat, ia mula-mula tinggal dengan keluarga pamannya di sebuah gang becek di bilangan Senen. Setelah itu pindah ke sebuah ruangan di sekolahnya yang ia sebut bekas kandang sepeda. Di sana ia tinggal bersama kawannya orang Minang yang rumahnya di Manggarai.

Ajip bisa tinggal di kandang sepeda karena dia mengurus majalah sekolah yang bernama Suluh Peladjar. Maka ketika ia telah lulus dari SMP, terpaksa majalah itu tak bisa ia pegang lagi dan Ajip pun mesti keluar dari kandang sepeda. Setelah ia keluar, Suluh Peladjar hanya berjalan satu sampai dua nomor dan tak berlanjut.

Ajip kemudian pindah lagi ke rumah saudaranya di daerah Rasamulya, bilangan Senen. Berbeda dengan rumah-rumah lain yang beratapkan rumbia, rumah yang ia tinggali atapnya genting dan lantainya tegel meski dindingnya masih bilik bambu.

Di rumah ini, Ajip mulai sering dikunjungi kawan-kawannya. Trisnoyuwono, penulis novel Pagar Kawat Berduri (1961), kerap berkunjung dan menginap, bahkan kadang-kadang dengan pacarnya yang masih sekolah di SGA Bandung. D.S. Moeljanto ketika akan bekerja di majalah Kisah juga menginap di rumah yang Ajip tinggali. Ada pula Esce, pengarang cerita pendek yang karyanya selalu ditolak H.B. Jassin, lagi-lagi menginap di rumah ini karena tidak punya uang dan tengah menunggu kiriman dari saudaranya. Kiriman uang itu baru datang beberapa minggu kemudian.

“Pendeknya, kawan-kawan sering datang bertamu, bahkan yang dari luar kota sampai menginap berhari-hari, malah berminggu-minggu,” tulis Ajip.

Setelah menikah, Ajip dan Empat tinggal di daerah Kramatpulo. Ayatrohaedi, adiknya seayah dan seibu; Karsita, saudara jauh dari pihak ayahnya; juga Nashar—pelukis kere yang oleh Sudjojono disebut tak punya bakat melukis—tinggal bersama mereka. Saat Ajip memutuskan untuk pulang ke Jatiwangi, Majalengka karena Jakarta dirasa terlalu pengap untuk pengarang seperti dirinya, rumah kontrakan di Kramatpulo tetap disewa untuk tempat tinggal Ayatrohaedi yang masih sekolah di SMA Muhammadiyah, Karsita, dan Nashar yang ingin terus ikut tinggal di sana.


Nyatanya Ajip hanya bertahan lima bulan di Jatiwangi. Alasannya karena di kampung kehidupan rohaninya jenuh, tak bisa bertemu kawan-kawan untuk bertukar pikiran. Kondisi ini ia ceritakan dalam pengantar buku karyanya sendiri, Cari Muatan: Empat Kumpulan Sajak (1975).

Ia pun kembali ke Kramatpulo, ke rumah yang masih ia sewa dan ditempati adiknya. Kali ini penghuni rumah itu kian bertambah. Selain Ayatrohaedi, Karsita, dan Nashar, juga ditambah kehadiran anak pertamanya.

Persahabatannya dengan Nashar beberapa kali diceritakan Ajip dalam surat-surat yang ia tulis saat tinggal di Jepang. Di buku Yang Datang Telanjang: Surat-surat Ajip Rosidi dari Jepang 1980-2002 (2008), dalam kondisi teringat mati karena kerap mengimpikan kawan-kawannya yang telah meninggal dunia, ia meminta Nashar untuk saling mengikhlaskan dengan dirinya.

Dalam suratnya bertitimangsa 15 Januari 1992, Ajip mengatakan bahwa selama mereka bersahabat, baik ia maupun Nashar tak pernah menghitung-hitung soal uangnya yang dipakai Nashar atau lukisan Nashar yang dibawa Ajip. Menurutnya, Nashar setuju dengan ajakannya untuk saling mengikhlaskan.

Sementara di buku Surat-surat ti Jepang 1 (2018), di bagian yang bertitimangsa 7 Juli 1980 yang ditujukan kepada Sadeli Winantadireja (biasa dipanggil Entik), dalam suasana sakit hati karena permasalahan di DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) menyeret namanya sebagai pesakitan, Ajip menjelaskan bahwa dirinya yakin rezeki telah ada yang mengatur. Dan sebagai contoh bagaimana ia menjalankan keyakinannya itu dengan menceritakan kebiasaannya yang kerap menampung kawan-kawan yang membutuhkan tempat tinggal:

“Kebiasaanku berbagi hidup dengan yang lain, terutama sesama seniman, seperti telah menjadi kebiasaan yang tak bisa dilepaskan dari zaman aku baru menikah. Barangkali kamu juga ingat waktu aku tinggal di Sumedang dan di Kramat Pulo, kan banyak orang seperti Nashar yang tinggal bersamaku. Aku tak pernah perhitungan kepada mereka.”

Keterbukaan Ajip menolong kawan-kawannya bahkan sekali waktu mendorong Pramoedya Ananta Toer—pengarang yang Ajip sebut sangat individualistis dan egosentris—datang juga ke rumahnya hendak meminta makan saat ia dililit kemiskinan.


Hidup Tanpa Ijazah

Pada September 1954 Ajip ikut menjaga salah satu stan dalam Pameran Buku Nasional yang diadakan toko buku dan penerbit Gunung Agung milik Tjio Wie Tay alias Masagung. Sukarno, Hatta, dan Yamin yang waktu itu menjabat menteri hadir dalam acara tersebut. Saat mengunjungi stan buku kesusastraan yang dijaga Ajip, Sukarno dan Hatta hanya berbasa-basi. Sementara Yamin menawarinya untuk hadir dalam Kongres Kebudayaan di Solo.

Ajip, yang saat itu baru berusia 16 tahun, banyak bercakap dengan Armijn Pane dan J.E. Tatengkeng yang usia keduanya hampir setengah abad. Tatengkeng malah mengajaknya ikut ke Makassar untuk disekolahkan. Pada kesempatan itu pula Ajip yang masih bercelana pendek mendebat makalah Ki Hajar Dewantara yang mengatakan bahwa kebudayaan nasional merupakan puncak-puncak kebudayaan daerah.

“Tak ingat lagi apa yang aku katakan pada waktu itu, tetapi pada pokoknya aku menyatakan tidak sependapat dengan Ki Hadjar,” tulisnya dalam Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan (2008). Dan tiga tahun kemudian Ajip menerima Hadiah Sastra Nasional.

Dua hal itu menerakan jejak tentang pilihan hidup Ajip. Ia sepenuhnya ingin terjun ke dunia seni, apalagi saat ia akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti ujian akhir SMA dan hidup tanpa ijazah. Setelah itu, Ajip menulis ribuan karya yang terbuhul dalam ratusan buku dan hampir tak berhenti menulis sampai akhir hayatnya.




Saya tak mengenal Ajip secara personal, bahkan melihatnya secara langsung baru sekali, itu pun dari kejauhan, saat ia menghadiri peresmian Perpustaan Ajip Rosidi di Jalan Garut, Kec. Batununggal, Kota Bandung. Namun saya membaca beberapa bukunya. Tulisan-tulisannya menguarkan kesan bahwa ia seorang yang daria, sungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu.

Kumpulan tulisan obituari karyanya yang dibukukan dengan judul Mengenang Hidup Orang Lain (2010) begitu dingin. Tak ada bunga-bunga kenangan yang hendak ia taburkan sebagai kesedihan. Sekali waktu, Ajip bahkan menulis obituari A.S. Dharta, mantan sekjen Lekra, secara sinis, yang kemudian menuai “serangan” dari mantan wartawan Harian Rakjat, Martin Aleida.


Selera humornya hanya muncul sangat sedikit dalam beberapa surat yang ia tulis dari Jepang, baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Ya, sangat sedikit, selebihnya seperti biasa ia begitu daria membicarakan banyak hal yang terkait dengan kebudayaan.

Dalam suratnya, Ajip juga kerap meminta kepada kawan-kawannya untuk dikirimi koran nasional, majalah berbahasa Sunda, naskah buku untuk ia edit, melaporkan perkembangan penyuntingan buku, mendorong kawannya untuk menulis biografi tokoh nasional, mengusulkan untuk mengadakan sayembara cerpen Sunda secara rutin, dan sebagainya.

Keseriusan Ajip terlihat juga pada beberapa pengantar buku. Ia enggan sekadar menerakan puja-puji kepada penulis dan isi buku. Dalam novel Rasiah nu Goreng Patut—pertama kali diterbitkan pada 1928—misalnya, Ajip panjang lebar mengupas kisah karangan Soekria/Joehana itu. Untuk buku yang tebalnya hanya 67 halaman, ia menulis pengantar sebanyak 9 halaman. Contoh lain dalam buku Awéwé Dulang Tinandé (2011) karangan Wiranta alias Tjaraka, Ajip lagi-lagi menggeledah kumpulan cerpen itu secara saksama.

Hari-harinya dipenuhi banyak pekerjaan yang ia lakoni secara disiplin dan seperti tak habis-habis. Karya-karyanya yang bejibun lahir dari keseriusan, seperti juga kawan-kawannya yang banyak datang dari pergaulannya yang luas dan luwes. Yang Datang Telanjang: Surat-surat Ajip Rosidi dari Jepang 1980-2002 (2008) setebal 801 halaman, sementara Surat-surat ti Jepang 1 Jilid 1-6 setebal 979 halaman. Dari dua buku kumpulan surat itu, ditambah dengan autobiografinya Hidup Tanpa Ijazah (2008), kita bisa melihat siapa saja kawannya dan apa yang biasa ia bicarakan.

Pekan lalu, saat saya bersepeda mencari rumah kontrakan ke daerah sekitar Alun-Alun Bandung, saya melintas lagi Gang Asmi. Seperti yang sudah-sudah, setiap kali menyambangi gang itu, ingatan saya selalu tertuju pada kisah Ajip dan rumahnya yang dipenuhi manusia.

Baca juga artikel terkait AJIP ROSIDI atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight