tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti potensi penyerapan tenaga kerja yang besar dari perkembangan teknologi akal imitasi (AI).
Salah satu contoh yang diajukan adalah kebutuhan tenaga kerja untuk proses pelabelan data atau data labeling yang mencapai puluhan ribu orang.
"Tadi disampaikan untuk data labeling saja, itu membutuhkan 10 ribu tenaga kerja. Jadi itu salah satu contoh di sektor digital," katanya di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (4/9/2025).
Data labeling sendiri merupakan tahapan fundamental dalam pengembangan AI berupa pemberian tag, anotasi, atau klasifikasi pada data mentah, seperti gambar, teks, audio, atau video, agar mesin dapat belajar mengenali pola dan membuat keputusan secara mandiri.
Untuk itu, dibutuhkan banyak tenaga kerja untuk melakukan pelabelan data tersebut. Pasalnya, data mentah yang harus diberi label ini bisa berjumlah ratusan juta.
Karena itu, Airlangga menekankan bahwa digitalisasi, termasuk AI, justru akan membuka banyak lapangan kerja. Ia menyebut percepatan adopsi teknologi ini semakin tinggi sejak peluncuran inisiatif Industri 4.0.
"Kan sebetulnya kayak mesin learning dan yang lain itu sudah di-launching sejak kita launch industri 4.0. Jadi ini sekarang sebetulnya akselerasinya akan menjadi semakin tinggi," ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Anindya Bakrie, sepakat bahwa transformasi digital dan penetrasi AI berpotensi menciptakan lapangan kerja baru.
"Tadi untuk labeling AI aja bisa sampai 10 ribu, itu pun satu perusahaan," kata Anindya.
Hanya saja, menurutnya saat ini potensi pembukaan lapangan kerja tak terbatas pada AI saja, namun juga pada industrialisasi hijau yang belakangan juga tengah naik daun.
“Lapangan kerja itu datang dari berbagai macam industri. Salah satunya green industrialization itu juga menelan banyak sekali tenaga kerja yang dibutuhkan. Kedua digitalisasi, itu dibutuhkan ada banyak,” ujarnya
Anak Aburizal Bakrie ini pun menyampaikan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, Indonesia membutuhkan 2,5 hingga 3 juta lapangan kerja baru setiap tahunnya.
Karena itu, menurutnya perlu untuk memaksimalkan berbagai sektor untuk menggenjot penciptaan lapangan kerja baru. Ia pun menyoroti pentingnya peningkatan kualitas tenaga kerja melalui program magang yang berkualitas.
Pihaknya menyambut baik wacana magang berbayar yang diusulkan pemerintah, asalkan mendorong produktivitas.
"Selama magang ini bisa menghasilkan produktivitas lebih baik, tentu dari sisi perusahaan akan terbuka untuk meninjau skema pembayarannya. Supaya juga mereka berpenghasilan. Jadi saya rasa baik-baik saja, tinggal dibicarakan detailnya," jelasnya.
KADIN berkomitmen untuk membantu penciptaan lapangan kerja melalui berbagai sektor potensial, mulai dari industrialisasi hijau, digitalisasi, hingga pertanian. Hal ini sejalan dengan fokus Presiden Prabowo Subianto pada ketahanan pangan yang diperkirakan akan menggerakkan sektor pertanian dan menyerap banyak tenaga muda.
“Sehingga semuanya bisa naik kelas. Jadi ketika kita bicara naik kelas, bukan saja naik kelas secara ekonomi, tapi naik kelas secara skill-nya. Yang muda mulai bekerja, yang sudah senior bisa menjadi istilahnya manager dan lain-lain,” tuturnya.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































