tirto.id - Adab bepergian penting bagi siapa pun yang suka melakukan perjalanan. Banyak orang bepergian untuk bekerja, liburan, atau menjenguk keluarga. Dalam Islam, perjalanan bukan hanya soal berpindah tempat, tapi juga membawa tanggung jawab.
Bepergian berarti keluar dari satu tempat ke tempat lain. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga sikap, membaca doa, dan mengikuti tuntunan Nabi saat dalam perjalanan. Semua ini bertujuan agar perjalanan membawa kebaikan dan keselamatan.
Dalam Islam, setiap Muslim perlu menjaga adab saat bepergian. Salah satu adab perjalanan adalah menjaga sikap sopan dan tidak mengganggu orang lain. Dengan adab yang baik, perjalanan jadi lebih berkah dan sesuai sunnah Rasulullah.
Definisi Perjalanan atau Bepergian dalam Islam
Perjalanan dalam bahasa Arab disebut “rihlah” atau “safar”. Safar artinya tampak atau terlihat.
Melansir dari Al-Jami’ li akhlaq al-rawi wa adab al-sami’ (1793), sifat-sifat seseorang akan terlihat saat ia sedang bepergian atau melakukan perjalanan.
Dikutip dari Buku Akhlak Keagamaan Kelas XII oleh Rofa’ah (2016), secara istilah, perjalanan merupakan aktifitas seseorang saat keluar atau meninggalkan rumah.
Bepergian bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau menggunakan berbagai sarana transportasi untuk mengantarkan seseorang sampai pada tempat yang dituju.
Macam-Macam Safar dan Syaratnya
Dalam Islam, safar atau perjalanan memiliki beberapa jenis yang berbeda. Masing-masing jenis safar memiliki aturan dan makna tersendiri. Berikut ini penjelasan singkat mengenai beberapa macam safar dalam Islam.
1. Safar Haram
Safar haram adalah safar untuk melakukan dosa dan maksiat. Safar ini dilarang oleh Allah SWT dan Rasulnya. Contoh dari safar ini yaitu bepergian untuk berzina, minum khamar, mencuri dan lainnya.2. Safar Wajib
Safar wajib adalah safar untuk memenuhi syariat bagi umat Islam. Safar macam ini seperti haji dan jihad di jalan Allah.3. Safar Sunah
Safar sunah adalah safar yang dianjurkan sehingga pelakunya mendapatkan pahala. Contoh dari safar ini adalah umrah.4. Safar Mubah
Safar mubah adalah safar yang dibolehkan dan cenderung dianjurkan namun tidak janji pahala terhadapnya. Contoh safar ini adalah berdagang.5. Safar Makruh
Safar makruh adalah safar yang tidak dianjurkan, bila ditinggalkan mendapatkan pahala namun jika dilakukan tidak mendapat dosa. Contoh dari safar ini adalah bepergian sendirian di malam hari.Sementara itu, sebagai syarat bepergian, para ulama memiliki pendapat berbeda terkait jarak perjalanan yang dianggap sebagai safar.
Imam ash-Shan’ani menyebutkan, ada sekitar dua puluh pendapat dalam masalah ini sebagaimana dihikayatkan oleh Ibnul Mundzir (Subulus Salam, 3/109).
Pentingnya mengetahui ketentuan tentang batasan jarak safar itu berkenaan dengan ketentuan fikih serta syarat diperbolehkannya mengerjakan salat fardhu dengan mengqasar salat (keringanan mengerjakan sholat yang empat rakaat menjadi hanya dua rakaat).
Sabda Rasulullah SAW:
“Beliau berdua (Ibnu Umar dan Ibnu Abbas) shalat dua rakaat (qashar) dan tidak berpuasa dalam perjalanan empat barid atau lebih dari itu.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang sahih, dan al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu’allaq).
Dalam perhitungan, 4 barid sama dengan 16 farsakh atau 48 mil. Di Indonesia setara dengan 85 km, dan ini termasuk dalam safar.
Adab Bepergian dalam Islam
Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam Kelas X(2006) oleh Bachrul Ilmy, hal yang perlu diperhatikan ketika bepergian yaitu sebagai berikut:
1. Persiapan
Ketika hendak bepergian, sebelumnya harus memantapkan niat, kemudian sholat dua rakaat dengan niat shalat safar (bepergian).2. Perjalanan
Dalam perjalanan, terutama yang melakukan perjalanan dengan jalan kaki, biasanya menemui hal yang mengganggu pikiran dan dapat mengubah niat untuk bepergian.Rasulullah saw bersabda "Perjalanan adalah sebagian dari siksaan."
3. Sampai di tempat tujuan
Ketika sampai di tempat tujuan, hendaklah bersyukur dengan mengucapkan hamdalah dan membaca doa.Hadits tentang Perjalanan
Perjalanan adalah bagian dari hidup manusia, baik untuk keperluan ibadah, pekerjaan, maupun silaturahmi. Islam sebagai agama yang menyeluruh tidak membiarkan aktivitas ini tanpa tuntunan. Dalam berbagai kitab rujukan, seperti Al-Adzkar, Minhajul Muslim karya Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, serta Syarah Riyadhush Shalihin, para ulama menukil sejumlah hadits yang memberikan pedoman akhlak dan adab selama bepergian.
1. Memulai Perjalanan pada Hari Kamis dan di Pagi Hari
“Dari Ka’ab bin Malik RA, bahwa Nabi SAW berangkat ke perang Tabuk pada hari Kamis. Dan beliau menyukai berangkat pada hari Kamis.”(HR Bukhari dan Muslim)
Hari Kamis disebut sebagai hari yang disukai Rasulullah SAW untuk memulai perjalanan. Selain itu, beliau juga mendoakan keberkahan untuk umatnya di waktu pagi. Ini menjadi dasar bahwa memilih waktu yang tepat dapat memberikan dampak positif bagi perjalanan, baik secara fisik maupun spiritual.
2. Shalat Sunnah Dua Rakaat Sebelum Bepergian
“Tidak ada seseorang yang meninggalkan kepada keluarganya sesuatu yang lebih baik daripada dua rakaat yang ia kerjakan saat hendak bepergian.”(HR Thabrani, dari Muth’im bin Al-Miqdam)
Shalat dua rakaat ini adalah bentuk perpisahan yang mengandung doa dan keberkahan. Ini menjadi pesan penting bahwa sebelum meninggalkan rumah dan keluarga, hendaknya seseorang berserah diri kepada Allah, menyerahkan perlindungan kepada-Nya, serta menunjukkan kasih kepada keluarga dengan warisan spiritual.
3. Tidak Bepergian Sendirian
“Jika orang-orang mengetahui apa yang aku ketahui tentang bahayanya bepergian sendirian, maka tak seorang pun akan bepergian sendirian di malam hari.”(HR Bukhari)
Nabi SAW menekankan pentingnya memiliki teman dalam perjalanan, terutama pada malam hari, demi keselamatan dan keamanan. Hal ini juga menumbuhkan solidaritas, saling menjaga, serta menghindari potensi bahaya fisik maupun godaan spiritual yang bisa muncul saat sendiri.
Bacaan Doa Sebelum Bepergian
Sebelum memulai perjalanan, Islam mengajarkan umatnya untuk membaca doa sebagai bentuk tawakal kepada Allah SWT. Doa ini menjadi pengingat bahwa meski kita menggunakan kendaraan canggih sekalipun, keselamatan tetap hanya datang dari-Nya. Dengan mengucapkan doa, seorang Muslim memohon perlindungan, kelancaran perjalanan, dan keberkahan dari Allah.
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ، أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
Allâhu akbar, allâhu akbar, allâhu akbar
Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar
سُبْحٰنَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَۙ وَاِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ
Subḫânalladzî sakhkhara lanâ hâdzâ wa mâ kunnâ lahû muqrinîn wa innâ ilâ rabbinâ lamunqalibûn
Maha suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. (QS az-Zukhruf: 13-14)
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هٰذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هٰذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ
Allâhumma innâ nas’aluka fî safarinâ hâdzâ al-birra wat taqwâ wa minal ‘amali mâ tardlâ. Allâhumma hawwin ‘alainâ safaranâ hâdzâ, wa-thwi ‘annâ bu‘dahu. Allâhumma antash shâḫibu fis safari, wal khalîfatu fil ahli. Allâhumma innî a‘ûdzubika min wa‘tsâ-is safari wa ka-âbatil mandhari wa sû-il munqalabi fil mâli wal ahli
Ya Allah, kami memohon kebaikan dan ketakwaan dalam perjalanan kami dan keridaan dalam amalan kami. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini. Dekatkanlah jauhnya jarak perjalanan ini. Ya Allah, Engkaulah yang menyertai kami dalam perjalanan ini dan pengganti yang menjaga keluarga kami. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perjalanan yang sulit dan melelahkan, dari pemandangan yang menyedihkan, serta dari tempat kembali yang buruk, baik dalam harta maupun keluarga.
Kalau Anda ingin mengetahui lebih banyak mengenai doa, silakan kunjungi tautan Tirto.id di bawah ini untuk informasi baru dan lengkap.
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Dhita Koesno
Penyelaras: Satrio Dwi Haryono
Masuk tirto.id


































