Menuju konten utama

AAJI: Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Capai Rp96,39 Triliun

Angka tersebut turun 11,2 persen dibandingkan semester I 2025. Menurut AAJI, hal itu terjadi di tengah tekanan hasil investasi.

AAJI: Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Capai Rp96,39 Triliun
Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Albertus Wiroyo (tengah) bersama Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI Meylindawati Tjoa (kiri) dan Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan SDM (Center of Excellence) AAJI Freddy Thamrin (kanan) berfoto bersama usai Konferensi Pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Semester I 2026 di Grha AAJI, Jakarta, Senin (31/8/2026). FOTO/Nanda Surya Shadan
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat total pendapatan industri asuransi jiwa mencapai Rp96,39 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut turun 11,2 persen dibandingkan semester I 2025 yang mencapai Rp108,51 triliun.

Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo, mengatakan penurunan total pendapatan industri tersebut terjadi di tengah tekanan pada hasil investasi.

“Jika kita melihat total pendapatan industri di semester ini tercatat 96,39 triliun rupiah. Nah ini memang menunjukkan angka yang lebih rendah 11,2% secara year on year di mana tahun lalu Rp108,51 triliun. Penurunan ini kita lihat adalah dalam konteks tekanan pada hasil investasi,” kata Albertus dalam Konferensi Pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Periode Semester I 2026, Senin (31/8/2026).

Menurut Albertus, kondisi tersebut perlu dilihat bersama dengan indikator yang berkaitan langsung dengan kebutuhan perlindungan masyarakat, terutama pendapatan premi dan pertumbuhan bisnis baru.

Pada semester I 2026, pendapatan premi industri asuransi jiwa secara unweighted mencapai Rp94,75 triliun atau meningkat 8,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara secara weighted, pendapatan premi tercatat Rp58,06 triliun atau turun 0,8 persen.

“Pendapatan premi pada semester pertama 2026 pendapatan premi secara unweighted sebesar Rp94,75 triliun. Angka ini meningkat 8,2% dari tahun lalu,” ujar Albertus.

“Sementara itu secara weighted pendapatan premi tercatat sebagai Rp58,06 triliun. Angka ini relatif stabil dibandingkan tahun lalu ya ada sedikit penurunan 0,8%,” lanjutnya.

Berdasarkan jenis produk, premi produk tradisional meningkat 6,9 persen menjadi Rp59,03 triliun. Sementara premi unit link meningkat 10,3 persen menjadi Rp35,73 triliun.

“Produk tradisional itu meningkat 6,9% menjadi Rp59,03 triliun. Sementara premi unit link meningkat 10,3% menjadi Rp35,73 triliun,” kata Albertus.

Pertumbuhan juga terjadi pada premi bisnis baru. Premi bisnis baru produk tradisional tumbuh 14,2 persen menjadi Rp37,97 triliun. Sementara premi bisnis baru Unitlink tumbuh 34,5 persen menjadi Rp19,78 triliun.

“Pertumbuhan juga dilihat pada premi bisnis baru di mana produk tradisional tumbuh 14,2% menjadi Rp37,97 triliun. Sementara premi bisnis baru dari Unitlink tumbuh 34,5% menjadi Rp19,78 triliun,” ujarnya.

“Pertumbuhan bisnis baru ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap perlindungan baru tetap tumbuh dan masyarakat masih mencari solusi asuransi yang sesuai dengan kondisi serta tujuan finansialnya,” lanjut Albertus.

Dari sisi tipe pembayaran, premi tunggal meningkat 26,3 persen menjadi Rp40,76 triliun. Sementara premi reguler mencapai Rp53,99 triliun atau turun 2,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Premi tunggal meningkat 26,3% menjadi Rp40,76 triliun. Jadi ini tren yang cukup menarik di mana tahun ini, tahun-tahun pertama ini ketertarikan nasabah atau masyarakat terhadap produk single premium itu cukup tinggi. Premi reguler berada di Rp53,99 triliun atau turun sedikit 2,4% dibandingkan tahun lalu. Artinya pertumbuhan pendapatan premi semester pertama banyak ditopang oleh pembayaran premi tunggal,” lanjutnya.

Berdasarkan unit usaha, premi konvensional menjadi kontributor utama dengan nilai Rp85,18 triliun atau tumbuh 12,7 persen. Sementara unit usaha syariah mencatat premi Rp9,57 triliun atau turun 20,2 persen.

“Dari sisi unit usaha konvensional masih menjadi kontributor utama dengan premi sebesar Rp85,18 triliun atau tumbuh 12,7%. Sementara unit usaha syariah mencatat premi Rp9,57 triliun. Nah ini turun 20,2%,” tuturnya.

Dari sisi kepemilikan, segmen perorangan menjadi kontributor terbesar dengan premi Rp75,12 triliun atau tumbuh 7,4 persen. Segmen kumpulan tumbuh lebih tinggi, yakni 11 persen menjadi Rp19,63 triliun.

Adapun berdasarkan bisnis, premi baru secara weighted mencapai Rp21,06 triliun atau tumbuh 11,5 persen. Secara unweighted, premi bisnis baru mencapai Rp57,75 triliun atau tumbuh 20,5 persen. Sementara premi lanjutan mencapai Rp37,01 triliun atau turun 6,7 persen.

“Pertumbuhan bisnis baru menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap asuransi jiwa tetap terjaga baik. Di sisi lain premi lanjutan tentunya perlu terus menjadi perhatian karena mencerminkan keberlanjutan pelindungan yang sudah dimiliki oleh nasabah,” kata Albertus.

Dari sisi kanal distribusi bisnis baru secara weighted, bank assurance menjadi salah satu kanal utama dengan premi Rp7,85 triliun, disusul direct marketing dan keagenan yang masing-masing mencatat Rp4,76 triliun. Secara unweighted, bank assurance menjadi kanal dengan kontribusi terbesar dengan pertumbuhan 22,6 persen menjadi Rp30,89 triliun. Kanal broker tumbuh 45,15 persen menjadi Rp1,97 triliun.

Pada kanal utama, bank assurance mencatat premi Rp41,58 triliun atau tumbuh 17,9 persen. Keagenan meningkat 3,1 persen menjadi Rp28,67 triliun, sedangkan distribusi alternatif berada di sekitar Rp24,5 triliun dan relatif stabil.

Sementara itu, jumlah polis industri asuransi jiwa mencapai 22,44 juta polis atau tumbuh 7,7 persen. Jumlah tertanggung mencapai 153,58 juta orang atau tumbuh 24,8 persen. Tertanggung perorangan tumbuh 6,5 persen menjadi 22,38 juta orang, sedangkan tertanggung kumpulan tumbuh 28,5 persen menjadi 131,2 juta orang.

“Ini salah satu indikator yang paling positif ada pertumbuhan jumlah tertanggung, di mana tertanggung total mencapai 153,58 juta atau tumbuh 24,8 persen,” kata Albertus.

Total uang pertanggungan mencapai Rp8,002 ribu triliun atau tumbuh 10,1 persen. Pertumbuhan tersebut didorong segmen kumpulan yang tumbuh 17,9 persen, sementara uang pertanggungan perorangan mencapai Rp2,570 ribu triliun atau turun 3,5 persen.

Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan SDM (Center of Excellence) AAJI, Freddy Thamrin, mengatakan industri asuransi jiwa membayar total klaim dan manfaat Rp75,57 triliun pada semester I 2026. Nilai tersebut meningkat 4,3 persen dibandingkan semester I 2025.

“Pada semester pertama tahun 2026, industri asuransi jiwa membayar total klaim dan manfaat sebesar Rp75,57 triliun. Angka ini meningkat 4,3 persen dibandingkan semester pertama tahun 2025,” kata Freddy.

Jumlah penerima manfaat juga meningkat dari sekitar 4,82 juta orang menjadi 5,01 juta orang.

Berdasarkan komponen pembayaran, manfaat akhir kontrak meningkat 84,3 persen menjadi Rp18,42 triliun. Sementara pembayaran surrender turun 24,2 persen menjadi Rp26,08 triliun dan partial withdrawal meningkat 13,5 persen menjadi Rp8,48 triliun.

Berdasarkan manfaat risiko, pembayaran klaim meninggal dunia mencapai Rp6,5 triliun atau meningkat 25,5 persen. Klaim kesehatan mencapai Rp13,58 triliun atau meningkat 11,3 persen. Sementara klaim lain-lain sekitar Rp2,51 triliun atau turun 22,1 persen.

“Pembayaran klaim meninggal dunia mencapai Rp6,5 triliun atau meningkat 25,5 persen. Klaim kesehatan mencapai Rp13,58 triliun, meningkat 11,3 persen,” ujar Freddy.

Khusus klaim kesehatan, terdapat perbedaan antara segmen perorangan dan kumpulan. Klaim kesehatan perorangan berada di sekitar Rp8,74 triliun atau turun 8,6 persen. Sementara klaim kesehatan kumpulan meningkat 83,1 persen menjadi Rp4,84 triliun. Jumlah penerima klaim kesehatan meningkat dari sekitar 2,13 juta orang menjadi 2,24 juta orang.

Dalam kesempatan sama, Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI, Meylindawati Tjoa, memaparkan kondisi portofolio investasi industri asuransi jiwa pada semester I 2026.

Meylindawati mengatakan total aset industri asuransi jiwa mencapai sekitar Rp645,08 triliun pada semester I 2026 atau tumbuh 2,3 persen dibandingkan semester I 2025.

“Total aset industri asuransi jiwa pada semester pertama 2026 mencapai sekitar Rp645,08 triliun. Angka tersebut tumbuh 2,3 persen dibandingkan semester pertama 2025,” kata Meylindawati.

Total investasi industri mencapai sekitar Rp564,42 triliun atau tumbuh 2,4 persen. “Total investasi industri mencapai sekitar Rp564,42 triliun, tumbuh 2,4 persen,” ujarnya.

Namun, dari sisi hasil investasi, industri menghadapi tekanan pada semester I 2026. Hasil investasi yang pada semester I 2025 mencapai Rp16,19 triliun berbalik menjadi negatif Rp2,47 triliun pada semester I 2026.

“Jika melihat hasil investasi, pada semester pertama 2026 industri menghadapi tekanan yang cukup signifikan. Hasil investasi sebesar Rp16,19 triliun pada semester pertama 2025, dan negatif sebesar Rp2,47 triliun pada semester pertama 2026,” kata Meylindawati.

Meylindawati mengatakan perubahan tersebut mencerminkan pengaruh volatilitas pasar keuangan terhadap kinerja investasi dalam jangka pendek.

“Perubahan ini mencerminkan pengaruh volatilitas pasar keuangan terhadap kinerja investasi dalam jangka pendek di semester 1 2026. Namun perlu ditekankan bahwa investasi industri asuransi jiwa berorientasi jangka panjang, sehingga kinerja dalam kurun waktu tertentu saja tidak dapat disimpulkan dari siklus pasar secara keseluruhan,” ujarnya.

Dalam portofolio investasi, surat berharga negara menjadi instrumen terbesar dengan nilai Rp251,64 triliun. Porsi SBN mencapai sekitar 44 persen dari total investasi. Saham berada di sekitar 18 persen, reksadana 12 persen, dan sukuk korporasi sekitar 10 persen.

“Komposisi portfolio menunjukkan bahwa surat berharga negara tetap menjadi instrumen terbesar dengan nilai sebesar Rp251,64 triliun. Jika dilihat dari proporsi, SBN mencapai sekitar 44% dari total investasi,” kata Meylindawati.

Baca juga artikel terkait ASURANSI JIWA atau tulisan lainnya dari Nanda Surya

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Surya
Penulis: Nanda Surya
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama