tirto.id - Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi pesta olahraga paling ditunggu-tunggu. Namun, dalam pelaksanaannya, muncul sejumlah kontroversi yang mewarnai kompetisi ini.
Sejumlah kontroversi yang menyelimuti Piala Dunia 2026 kini menjadi sorotan internasional karena dinilai dapat mengganggu semangat inklusivitas yang selama ini melekat pada turnamen tersebut.
Mulai dari kesulitan suporter mendapatkan akses masuk ke negara tuan rumah, dugaan ketidak transparan dalam penjualan tiket, hingga dampak cuaca ekstrem terhadap pemain.
5 Kontroversi Piala Dunia 2026
Berikut daftar 5 kontroversi dalam ajang Piala Dunia 2026:
1. Pembatasan Visa dan travel ban Amerika Serikat
Analisis BBC yang dilaporkan Senin (8/6/2026) terhadap data perjalanan menunjukkan bahwa penggemar dari lebih dari seperempat negara peserta Piala Dunia menghadapi berbagai hambatan untuk masuk ke Amerika Serikat.Hambatan tersebut meliputi larangan perjalanan, pembatasan visa yang lebih ketat, hingga tingkat penolakan visa yang sangat tinggi.
Salah satu faktor yang paling kontroversial adalah kebijakan pemerintahan Trump yang menerapkan pembatasan visa terhadap beberapa negara, termasuk empat negara peserta Piala Dunia seperti Haiti, Iran, Senegal, dan Pantai Gading.
Warga negara-negara tersebut tidak dapat memperoleh jenis visa kunjungan yang biasanya direkomendasikan bagi para suporter yang ingin menghadiri pertandingan.
Data Departemen Luar Negeri AS yang dianalisis BBC menunjukkan bahwa 11 dari 48 negara yang lolos ke Piala Dunia memiliki tingkat penolakan visa di atas 40 persen.
Negara-negara tersebut meliputi Ekuador, Mesir, Haiti, Aljazair, Uzbekistan, Tanjung Verde, Yordania, Iran, Republik Demokratik Kongo, Ghana, dan Senegal.
Ketimpangan akses visa semakin terlihat melalui program Visa Waiver Program milik Amerika Serikat. Program ini memungkinkan warga dari 42 negara yang umumnya lebih makmur untuk memperoleh izin perjalanan secara daring melalui sistem ESTA dengan biaya sekitar 40 dolar AS.
Tingginya tingkat penolakan ini menciptakan dilema bagi para suporter. Mereka harus memutuskan apakah akan membeli tiket pertandingan yang mahal terlebih dahulu tanpa jaminan memperoleh visa.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa Amerika siap menyambut pengunjung dari seluruh dunia untuk menyaksikan Piala Dunia terbesar dalam sejarah.
Pemerintah menegaskan bahwa setiap permohonan visa dinilai secara individual melalui proses pemeriksaan yang ketat demi menjaga keamanan nasional.
2. Wasit Somalia yang Ditunjuk FIFA Ditolak Masuk AS
Omar Abdulkadir Artan adalah seorang wasit internasional yang telah ditunjuk FIFA namun tetap ditolak masuk ke Amerika Serikat. Artan merupakan wasit asal Somalia yang dijadwalkan menjadi orang Somalia pertama dalam sejarah yang memimpin pertandingan Piala Dunia.Namun, impian tersebut terhenti ketika otoritas imigrasi Amerika Serikat menolak mengizinkannya memasuki negara itu hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai.
Menurut pernyataan FIFA, Artan tidak akan dapat mengikuti pelatihan maupun bertugas sebagai wasit selama turnamen karena status imigrasinya tidak diubah oleh pemerintah AS.
"FIFA tidak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah, termasuk penentuan visa, dan telah diberitahu oleh pihak berwenang bahwa status Bapak Artan tidak akan diubah saat ini," kata juru bicara FIFA dikutip Reuters (9/6/2026).
Meskipun mengalami kekecewaan besar, Artan merespons situasi tersebut dengan sikap profesional. Dalam pernyataannya, ia mengucapkan terima kasih kepada FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) atas dukungan yang diberikan selama ini.
3. Timnas Iran dilarang menetap di AS
Federasi Sepak Bola Iran menuduh AS melakukan tindakan balas dendam terkait penolakan visa bagi sejumlah anggota penting tim nasional mereka.Menurut laporan media Iran, yang dikutip ESPN, Sabtu(6/6/2026), setidaknya 14 staf non-pemain, termasuk sekretaris jenderal federasi Hedayat Mombeini dan wakil presiden Mehdi Mohammad Nabi, tidak mendapatkan visa untuk masuk ke Amerika Serikat menjelang pertandingan di Los Angeles dan Seattle.
Iran bahkan harus memindahkan lokasi kamp pelatihan mereka dari Tucson, Arizona ke Tijuana, Meksiko, karena kesulitan dalam pemrosesan visa. Tim nasional Iran akhirnya berangkat dari Turki menuju Meksiko sebagai tempat persiapan sebelum menjalani laga-laga grup yang sebagian besar digelar di Amerika Serikat.
4. Ancaman cuaca ekstrem
Beberapa ahli meteorologi memperkirakan bahwa sekitar setengah dari stadion tuan rumah berada di wilayah yang rentan terhadap gelombang panas ekstrem, seperti Dallas, Houston, Miami, dan beberapa kota di Meksiko.Di lokasi-lokasi ini, suhu siang hari diperkirakan dapat mencapai rata-rata sekitar 28 derajat Celsius, yang sudah cukup tinggi untuk aktivitas olahraga intensif. Kondisi ini menjadi perhatian khusus karena sebagian pertandingan dijadwalkan berlangsung pada siang hari, saat paparan sinar matahari berada di puncaknya.
5. Ketidakjelasan penjualan tiket
Banyak pihak mencurigai penjualan tiket Piala Dunia oleh FIFA yang dianggap tidak transparan dan membingungkan. Menurut BBC, Kamis (4/6/2026), Jaksa di New York dan New Jersey bahkan menyelidiki FIFA karena dugaan menggelembungkan harga dan menyesatkan fans.Banyak penggemar tidak tahu harga tiket sejak awal karena tidak ada daftar harga yang jelas, sehingga mereka baru mengetahui biaya sebenarnya saat sudah berhasil mendapatkan tiket.
Ada juga kasus di mana fans membayar harga tertentu tetapi justru mendapat kursi dengan nilai atau posisi yang lebih rendah.
FIFA menggunakan sistem harga yang berubah-ubah tanpa penjelasan yang mudah dipahami, serta menambah kategori kursi mahal tanpa memberi informasi sebelumnya kepada pembeli.
Selain itu, FIFA mengklaim semua pertandingan sudah habis terjual, tetapi data menunjukkan masih banyak kursi kosong di beberapa laga, terutama pertandingan yang tidak menampilkan tim besar.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






























