Misbar

Zombieland: Double Tap dan Drama-Drama Barunya

Woody Harrelson, Jesse Eisenberg, Abigail Breslin, and Emma Stone in Zombieland: Double Tap (2019). foto/imdb
Oleh: Windu Jusuf - 3 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Double Tap dirilis sepuluh tahun setelah Zombieland (2009). Apa yang baru?
Sebuah beleid diam-diam berlaku di internet. Peraturan no. 34, demikian warganet menyebutnya, menyatakan bahwa setiap hal yang pernah lahir di dunia ini niscaya ada versi bokepnya.

Playmates of the Apes adalah plesetan dari Planet of the Apes. Shaving Ryan’s Private menumpahkan lendir alih-alih bergalon-galon darah palsu seperti yang dilakukan Saving Private Ryan. Pengunjung sebuah rental DVD mengira telah menyewa Mission: Impossible, padahal yang dibawanya ke rumah adalah Missionary Position: Impossible.

Itu baru bokep parodi. Masih banyak lagi yang bentuknya bukan plesetan atas film lain atau bahkan bukan film sama sekali. Pada 1989, 200 tahun setelah penyerbuan ke Penjara Bastille, sebuah film porno berlatar Revolusi Perancis lengkap dengan aksi penggal kepala para aristokrat dirilis. Sejak 2016, puluhan video saru dengan karakter mirip Trump dan Sarah Palin muncul di situs-situs porno kesayangan Anda. Seri buku Digital Desires terbit dengan judul-judul seperti Conquered by Clippy, Coaxed by the Copyrights Page, Invaded by the iWatch, hingga Taken by Tetris Block.

Terlalu banyak contoh yang bisa disebutkan di sini. Saya merasa kotor dan perlu mandi.

Tapi belakangan muncul aturan baru di dunia tontonan. Bunyinya kira-kira begini: "Selalu ada dunia paralel berisi zombie untuk semua hal yang pernah eksis di dunia ini".

Zombie, yang populer di Hollywood sejak 1960-an, kini bisa muncul kapan pun di mana pun. Dalam keseharian seorang pemuda yang baru putus cinta di The Night Eat the World (2018), misalnya, atau dalam kehidupan siswi SMA menjelang lulus (Anna and the Apocalypse, 2017), suami-istri hampir cerai (Zoo, 2018), pengalaman parenting pasca-kiamat zombie (Cargo, 2017), hingga Perang Sipil Amerika (Abraham Lincoln vs Zombies, 2012).


Di luar layar lebar, masyarakat di Amerika Utara menyelenggarakan zombie walk untuk lucu-lucuan. Dua tahun lalu di Indonesia, buruh-buruh transportasi Pertamina menggelar aksi long march dari Bandung ke Jakarta, lengkap dengan kostum zombie, untuk memprotes PHK.

Jika Peraturan no. 34 sekadar mengonfirmasi anggapan lawas bahwa kebanyakan orang pada dasarnya ngeres sehingga bisa mengendus seks di setiap hal yang tidak berhubungan dengan seks (atau bahkan tak punya nilai erotis sama sekali), maka obsesi terhadap zombie boleh jadi menunjukkan betapa kita diam-diam sangat menggemari fantasi kehancuran dunia: ketika masyarakat berpulang ke titik nol, darah dan besi kembali berlaku sebagai hukum, dan segala jenis kompleksitas kehidupan sosial surut ke aktivitas bertahan hidup.

Hal-hal semacam itulah yang ditawarkan Zombieland: Double Tap (selanjutnya Double Tap). Disutradarai Ruben Fleischer dan dibintangi aktor-aktris yang sama dari Zombieland (2009), Double Tap masih menyuguhkan panduan bertahan hidup dari kejaran zombie dan kesenangan-kesenangan kecil di tengah situasi serba darurat.

Satu dekade kiamat zombie telah lewat. Setelah lama hidup di jalan, Columbus (Jesse Eisenberg), Tallahassee (Woody Harrelson), Wichita (Emma Stone), dan Little Rock (Abigail Breslin) memutuskan tinggal di Gedung Putih. Meski tetap memanggil satu sama lain sesuai kota asal, lama-lama mereka hidup layaknya keluarga. Columbus melamar Wichita, dan Tallahassee semakin memperlakukan Little Rock bak anak kandung. Keinginan untuk tak melekat dengan siapa pun hingga perasaan bosan dianggap anak akhirnya menyebabkan dua gadis itu (lagi-lagi) kabur. Little Rock pun kelak kabur dari Wichita setelah bertemu hippie pasifis bernama Berkeley yang hobi genjrang-genjreng.

Ketika dirilis pada 2009, Zombieland menawarkan tontonan segar dengan humornya yang berlapis-lapis. Ada banyak dialog cerkas. Ia juga mempertontonkan elemen-elemen klise film zombie dan memplesetkannya. Kita menduga karakter utamanya mati karena dikeroyok mayat hidup. Ternyata tidak. Zombieland berakhir bahagia.

Sudah ratusan film mengisahkan karakter yang beralih jadi zombie karena kecerobohan kecil. Sepuluh tahun silam Zombieland mencantumkan kecerobohan-kecerobohan itu dan menawarkan antitesis dalam bentuk belasan aturan: 1) jaga kebugaran, 2) sikat dua kali, 3) hati-hati dengan kamar mandi, 4) periksa bangku belakang, hingga “nikmatilah hal-hal kecil”.

Dalam sekian banyak film zombie pula orang-orang yang berkumpul untuk bertahan hidup lambat laun larut dalam hubungan emosional, entah jadi pasangan atau sahabat. Ketika salah satu terinfeksi dan bergabung dengan gerombolan pemakan otak, yang lain tak tega membunuhnya dan akhirnya jadi zombie juga. Zombieland sejak awal mengantisipasi kebodohan berulang itu dengan menghilangkan nama pribadi para karakternya—seolah sudah berpesan sejak awal: “Jangan baper karena besok kita bisa saling bacok”.

Double Tap adalah edisi pembaruan dari Zombieland. Beberapa spesies zombie baru disebut satu per satu: zombie goblok (Homer), zombie pintar (Hawking), zombie tahan banting (T-800), hingga zombie serba gesit (Ninja). Karena proses adaptasi canggih itu pula akhirnya Columbus harus menambah jumlah aturan bertahan hidup dari belasan ke puluhan.

Karakter-karakter Double Tap pun terlihat lebih dewasa. Konfliknya bukan sekadar cekcok antara ‘teman satu angkot’, melainkan antara sesama anggota 'keluarga' berantakan. Tokoh-tokoh baru juga muncul di tengah, mulai dari cewek pirang nan pandir yang sempat jadi pasangan rebound Columbus setelah putus dari Wichita, pemilik hotel bertema museum Elvis Presley, hippie pasifis, hingga redneck pengendara truk besar beserta kawannya yang mirip Columbus. Mereka betul-betul menggerakkan cerita dan membantu para tokoh utama berkembang. Orang-orang eksentrik inilah yang mempertemukan Wichita cs dengan watak tersembunyi mereka sendiri yang tak dijajaki di Zombieland.



Ada pula komentar sosial. Gedung Putih yang kosong dan kursi presiden di Oval Office yang diduduki Tallahassee tentulah undangan bagi orang untuk melontarkan pertanyaan retoris: “Jika Trump bisa jadi orang nomor satu di Washington, saya dan Anda pun bisa, toh?”

Atau komentar tentang anak-anak muda cinta damai namun naif yang memilih tinggal bersama di komune bernama Babylon setelah melebur senjata.


Komune sering muncul dalam film-film pasca-kiamat (tak hanya genre zombie). Anda bisa menyaksikan itu setidaknya di I Am Legend (2007), Warm Bodies (2013), hingga Birdbox (2018). Yang berbeda, tentunya, komune di Double Tap adalah khas pemukiman hippie 1960-an yang dibangun di atas utopia masyarakat berkeadilan alih-alih hasrat bersama untuk bertahan hidup. Apa boleh buat, perubahan iklim, ancaman krisis ekonomi, dan huru-hara politik di mana-mana memang membuat tidak sedikit orang berpikir untuk me-reset peradaban dan membangun ulang masyarakat dari komunitas-komunitas kecil.

Tapi tentu saja Anda akan bertanya-tanya: memangnya gitar kopong yang ditulisi “This Machine Kills Fascists” bisa menghajar zombie atau bandit jalanan atau bajingan-bajingan fasis tulen?

Dan akhirnya, penonton disuguhi adegan berburu zombie di mal (merujuk pada Dawn of the Dead) dan gerombolan zombie memanjat tembok lalu jatuh beramai-ramai—sebuah formula yang dipopulerkan World War Z (2013) dan disempurnakan oleh Train to Busan (2016).

Beberapa hal akan sulit terjelaskan jika Anda menonton Double Tap tanpa pernah menyaksikan Zombieland. Meski tidak (atau belum) berniat menciptakan universe belasan jilid, Double Tap masihlah film yang dibuat untuk fans. Kita pun boleh curiga para pembuatnya akan melahirkan sekuel atau prekuel setelah menyaksikan mid-credit yang menampilkan pemandangan ketika zombie mulai mewabah.

Oh ya, bocoran: tak ada gitar hippie bertuliskan “This Machine Kills Fascists” di film ini.

Baca juga artikel terkait FILM HOLLYWOOD atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - Film)

Penulis: Windu Jusuf
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight