Menuju konten utama

YouTube Memblokir Siaran Televisi Al Jazeera di Israel

Beberapa kanal siaran langsung streaming milik stasiun televisi Al Jazeera di YouTube tidak bisa diakses di negara Israel. Mengapa hal demikian terjadi?

YouTube Memblokir Siaran Televisi Al Jazeera di Israel
Channel Youtube Aljazeera. Youtube/aljazeera

tirto.id - Siaran langsung televisi Al Jazeera diblokir YouTube untuk penayangan di Israel, pada Kamis (29/1/2026). Pemblokiran ini dilakukan usai Pemerintah Israel memperpanjang masa larangan operasi untuk outlet media yang berbasis di Qatar itu.

Pemblokiran yang dilakukan YouTube itu terjadi untuk sejumlah tayangan live stream yakni Al Jazeera Arabic, Al Jazeera English, dan Al Jazeera Mubasher. Akibatnya, siaran langsung ketiga program itu via YouTube tak bisa diakses di Israel.

Sebelumnya, kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan larangan penutupan operasi Al Jazeera di Israel pada Mei 2024 lalu. Kala itu, Pemerintah Israel menganggap outlet berita itu sebagai "ancaman terhadap keamanan nasional".

Pada Desember 2025 lalu, parlemen Israel dilaporkan telah menyetujui perpanjangan masa beleid berisi larangan itu selama dua tahun. Oleh parlemen Israel, beleid itu disebut sebagai "Undang-Undang Al Jazeera".

Belakangan, Menteri Komunikasi Israel Shlomo Karahi memerintahkan perpanjangan larangan penayangan jaringan Al Jazeera di Israel selama 90 hari. Larangan ini ditanggapi YouTube dengan memblokir tayangan outlet berita itu di Israel pada Kamis.

Al Jazeera Mengecam Tindakan YouTube

Atas pemblokiran tersebut, redaksi Al Jazeera mengecam keputusan YouTube untuk patuh kepada Israel. Dalam keterangannya, Al Jazeera menyatakan bahwa YouTube telah menunjukkan bahwa perusahaan teknologi dapat "dimanfaatkan sebagai instrumen rezim yang memusuhi kebebasan".

"Jaringan [Al Jazeera] mengecam YouTube karena gagal menjunjung tinggi Prinsip-Prinsip Panduan PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia," tulis keterangan Al Jazeera.

Menurut Al Jazeera, YouTube seharusnya tunduk pada prinsip kebebasan berekspresi dan menolak tekanan pemerintah "yang menyebabkan penahanan kebenaran dan pembungkaman jurnalisme independen".

Dalam pernyataannya itu, Al Jazeera menyerukan agar YouTube dan perusahaan digital lainnya mencabut pemblokiran. Mereka juga mendesak organisasi kebebasan media dan hak asasi manusia untuk ikut mengutuk penargetan media oleh Israel.

Selain itu, jaringan media multinasional itu juga mengecam Israel karena telah melakukan pelanggaran prinsip kebebasan berekspresi secara "lebih luas dan sistematis".

"Termasuk pembunuhan dan penahanan jurnalis, serta penutupan kantor di wilayah pendudukan, yang bertujuan untuk menekan kebenaran," tulis Al Jazeera dalam situs resminya, Jumat (30/1/2026)

Al Jazeera sebelumnya menjadi salah satu outlet berita yang sebagian jurnalisnya tewas dalam tugas peliputan genosida Israel di Gaza sejak Oktober 2023 lalu. Beberapa dari mereka adalah Hossam Shabat, Ismail al-Ghoul, Ahmed al-Louh, Hamza Dahdouh, Samer Abudaqa, Mohammad Salama, dan Anas al-Sharif.

Anas al-Sharif merupakan jurnalis Al Jazeera terbaru yang tewas. Ia, bersama tiga rekan jurnalis lainnya, tewas dalam serangan Israel ke tenda media di Kota Gaza pada Agustus 2025.

Sejak Israel melancarkan serangan genosida di Gaza pada 2023, lebih dari 270 jurnalis dan pekerja media telah dibunuh militer negara Zionis itu.

Pada September 2025 lalu, pasukan Israel juga dilaporkan menyerbu kantor Al Jazeera di Ramallah di Tepi Barat yang diduduki. Tentara Zionis menyita peralatan dan dokumen yang ada di sana, kemudian menutup kantor itu secara paksa.

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar