tirto.id - Menyongsong puncak peringatan Paskah pada Minggu, 5 April 2026 umat Kristiani akan beribadah di Gereja. Dalam memperingati hari Kebangkitan Yesus Kristus, pemilihan baju yang tepat dapat membuat ibadah menjadi lebih khidmat.
Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) merilis tema "Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan" pada Paskah 2026. Umat Kristen diharapkan meninggalkan manusia lama yang penuh luka dan konflik, untuk menjadi manusia baru yang lebih baik.
Berdasarkan pesan yang tertuang dalam 2 Korintus 5:17, momentum Paskah dimaknai sebagai seruan bagi umat untuk meninggalkan "manusia lama" yang penuh luka dan konflik, guna bertransformasi menjadi ciptaan baru yang berlandaskan kasih, keadilan, dan solidaritas sosial di tengah tantangan dunia saat ini.
Secara liturgis, kemuliaan kebangkitan ini direpresentasikan melalui penggunaan warna putih yang mendominasi elemen altar hingga busana petugas liturgi.
Warna putih dipilih bukan sekadar estetik, melainkan sebagai simbol teologis yang melambangkan kemurnian, sukacita agung, serta kemenangan iman atas dosa dan maut. Keselarasan warna ini menjadi panduan penting bagi umat yang ingin menghayati suasana batin Paskah melalui pilihan busana yang dikenakan saat beribadah di gereja.
Meskipun tidak ada kewajiban mutlak bagi jemaat untuk mengenakan warna tertentu, penggunaan busana berwarna putih atau terang sangat dianjurkan untuk memperkuat kesan kemenangan dan harapan baru. Sebagai alternatif formal yang tetap sopan, umat dapat mengombinasikan dengan celana bahan atau menggunakan paduan blazer untuk kesan rapi.
Hal ini selaras dengan semangat Paskah sebagai hari kemenangan yang layak dirayakan dengan penampilan terbaik, tanpa mengabaikan nilai kesantunan dan kesahajaan dalam rumah Tuhan.
Minggu Paskah 5 April 2026, Pakai Baju Warna Apa?
Puncak dari seluruh tahun liturgi Gereja jatuh pada Minggu Paskah, 5 April 2026, yang merayakan peristiwa kebangkitan Yesus Kristus sebagai kemenangan mutlak atas dosa dan maut.
Sesuai dengan makna teologisnya, warna liturgi resmi yang ditetapkan untuk Minggu Paskah adalah putih, yang melambangkan kemurnian, kemuliaan, kesucian, dan sukacita yang agung.
Dalam tradisi Gereja, penggunaan warna putih yang terkadang dikombinasikan dengan warna emas sebagai simbol keagungan diaplikasikan secara wajib pada busana imam, petugas liturgi, hingga elemen dekorasi altar guna menciptakan atmosfer terang yang mengusir kegelapan duka.
Mengenai ketentuan busana bagi umat, Gereja tidak menetapkan mandat kaku atau kewajiban warna tertentu dalam peribadatan.
Namun, umat sangat dianjurkan mengenakan baju berwarna putih agar selaras dengan suasana batin kemenangan dan dekorasi gereja yang didominasi nuansa bersih dan terang.
Penggunaan warna putih oleh jemaat dipandang sebagai bentuk partisipasi visual dalam merayakan status sebagai "ciptaan baru" yang telah ditebus oleh pengorbanan Kristus.
Untuk menunjang kesakralan ibadah, jemaat disarankan mengutamakan prinsip kesopanan dengan memilih busana formal seperti kemeja, gaun pendek selutut yang dipadukan dengan blazer, atau atasan batik yang merepresentasikan identitas nasional.
Dalam mempersiapkan kehadiran pada misa atau kebaktian Paskah, sebaiknya umat menghindari penggunaan kaus oblong berlogo atau celana jeans yang terlalu santai guna menjaga martabat rumah ibadah.
Pilihan busana lain seperti jumpsuit formal bermodel longgar atau blouse berbahan katun dan linen juga dapat menjadi alternatif yang tetap anggun dan nyaman.
Dengan menyesuaikan busana yang dikenakan, umat diharapkan dapat lebih khidmat dalam menghayati misteri Paskah, yakni meninggalkan cara hidup lama dan bangkit untuk menghidupi kasih serta kepedulian terhadap sesama sebagaimana pesan perdamaian yang diserukan oleh Gereja tahun ini.
Penulis: Satrio Dwi Haryono
Editor: Permadi Suntama
Masuk tirto.id





































