Menuju konten utama

Wamensos: Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan untuk Atasi Kemiskinan

Kemensos berkomitmen mengubah pendekatan bansos jadi pemberdayaan. Sekolah Rakyat pun disiapkan untuk memutus rantai kemiskinan.

Wamensos: Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan untuk Atasi Kemiskinan
Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono, dalam wawancara inspiratif bersama Merry Riana, Rabu (14/5/2025). Foto/Dok. Kemensos

tirto.id - Kementerian Sosial telah menjadikan transformasi paradigma perlindungan sosial menjadi pemberdayaan sebagai agenda prioritas dalam pengentasan kemiskinan. Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menyatakan hal ini dalam sesi wawancara bersama Merry Riana, pada Rabu (14/5/2025).

"Kita tidak ingin bansos hanya jadi alat mempertahankan kemiskinan. Tapi harus jadi alat untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan, lewat pemberdayaan ekonomi,” kata Agus Jabo.

Perubahan paradigma itu direalisasikan dalam setiap kebijakan dan program-program yang mendorong kemandirian masyarakat miskin. Maka itu, alih-alih hanya bansos, warga miskin akan lebih banyak mendapat pelatihan, bantuan peralatan usaha, pendampingan, hingga fasilitas pemasaran.

"Daripada mereka hanya menerima Rp200 ribu per bulan, lebih baik kita bantu mereka bikin usaha. Mereka bisa punya penghasilan tetap, bahkan membuka lapangan kerja,” ujar Agus Jabo.

Menurut dia, pemberdayaan bukan hanya solusi yang efektif, tetapi juga lebih manusiawi. Dengan pemberdayaan, masyarakat miskin akan bangkit dan memiliki rasa percaya diri.

Kendati demikian, implementasi pemberdayaan ini memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait akurasi data dalam penyaluran bantuan. Agus Jabo mengungkapkan bahwa selama ini terdapat 47 data sosial dari berbagai lembaga yang saling tumpang tindih.

Sebagai solusi, Badan Pusat Statistik bersama sejumlah kementerian, termasuk Kemensos, telah menyusun Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Data tersebut memuat data kategorisasi masyarakat berdasarkan desil ekonomi. Penggunaan data ini memperbaiki akurasi penyaluran bantuan maupun program pemberdayaan.

"Desil 1 itu masyarakat termiskin, pengeluarannya bahkan di bawah Rp400 ribu per bulan. Mereka inilah yang menjadi fokus utama program perlindungan sosial,” terangnya.

Dalam wawancara tersebut, Agus Jabo juga memaparkan salah satu program terobosan Kemensos: Sekolah Rakyat. Sekolah berkonsep asrama yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin ini menjadi upaya jangka panjang untuk mengatasi kemiskinan.

“Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem kita sekolahkan di boarding school, lengkap dengan asrama, makan, pendidikan karakter, dan keterampilan. Mereka kita siapkan jadi pemimpin masa depan,” ujar dia.

Program ini tidak hanya mengurangi angka putus sekolah, tapi juga menciptakan generasi yang mampu memutus rantai kemiskinan dalam keluarganya.

Di akhir sesi, Merry Riana menyoroti perjalanan hidup Agus Jabo sebagai mantan aktivis dan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD). Kini, ia membawa semangat idealisme itu ke dalam sistem pemerintahan. "Kalau dulu saya memperjuangkan rakyat dari luar sistem, sekarang saya memperjuangkannya dari dalam, lewat kebijakan dan program yang nyata,” kata Agus Jabo.

Wamensos menutup wawancara dengan pernyataan bahwa kekuasaan harus menjadi alat untuk melayani rakyat. “Bangsa ini akan bangkit kalau kita semua punya mental patriot, bukan mental inlander. Jangan takut bermimpi besar. Jangan lelah mencintai Indonesia. Bangun karakter, integritas, dan selalu berpihak pada keadilan."

Melalui transformasi data, pendekatan pemberdayaan, dan investasi pada generasi muda, Kementerian Sosial berkomitmen membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis