Menuju konten utama

Wamensos Kunjungi Rumah Calon Siswa Sekolah Rakyat di Yogyakarta

Perlu dilakukan verifikasi dan seleksi secara ketat agar peruntukan Sekolah Rakyat benar-benar tepat sasaran.

Wamensos Kunjungi Rumah Calon Siswa Sekolah Rakyat di Yogyakarta
Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono melakukan kunjungan langsung ke rumah calon siswa Sekolah Rakyat, Alfian (15) dan Galuh (14) di Yogyakarta, Sabtu (10/5/2025). foto/Dok. Kemensos

tirto.id - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) RI Agus Jabo Priyono berkunjung langsung ke rumah calon siswa Sekolah Rakyat di Yogyakarta, Sabtu (10/5/2025). Wamensos memastikan Sekolah Rakyat tepat sasaran, yakni hanya untuk anak-anak dari keluarga miskin.

Sekolah rakyat memang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin. Maka dari itu, perlu dilakukan verifikasi dan seleksi secara ketat agar peruntukan Sekolah Rakyat benar-benar tepat sasaran.

Di Yogyakarta, Wamensos mengunjungi rumah 2 calon siswa Sekolah Rakyat, yakni Alfian (15) dan Galuh (14), untuk memastikan mereka memang berhak menjadi siswa Sekolah Rakyat. Menurut Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), Alfian dan Galuh berasal dari keluarga dengan kategori desil 1 yaitu keluarga miskin.

“Perintah Bapak Presiden dalam Sidang Kabinet sangat jelas, Sekolah Rakyat harus dibuka tahun ini, dan dimulai dari anak-anak yang benar-benar berasal dari keluarga tidak mampu. Kami ground checking ke berbagai daerah. Makassar, Jawa Timur, sekarang Yogyakarta dan hari ini kami bertemu langsung dengan Galuh dan Alfian,” papar Wamensos Agus Jabo.

Tujuan pertama Wamensos adalah rumah Alfian yang berlokasi di Desa Ngestiharjo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alfian merupakan sulung dari empat bersaudara, salah satu saudaranya mengalami lumpuh layu sejak kecil. Ayah Alfian, Ngadiman, bekerja sebagai buruh tani.

Alfian dan keluarganya tinggal di sebuah rumah yang berdiri di atas lahan milik orang lain. Bangunannya bersifat semi permanen, berdinding papan yang mulai rapuh dimakan usia. Atapnya terbuat dari seng bekas dan tidak sepenuhnya menutup bagian atas rumah, sehingga air hujan dan hembusan angin mudah masuk ke dalam.

Di salah satu sudut ruangan yang sempit, adik Alfian yang menderita lumpuh layu terbaring di atas kasur tipis, hampir menyentuh lantai. Gambaran kondisi ini mencerminkan betapa beratnya kehidupan yang mereka jalani sehari-hari.

“Saya berharap bisa diterima di Sekolah Rakyat, selain dekat dari rumah, halamannya luas dan saya pernah main ke sana, saya ingin membantu keluarga dan bisa menjadi kebanggaan mereka,” ucap Alfian.

Wamensos Agus Jabo menyambut harapan Alfian dengan penuh semangat. Ia mendorong Alfian untuk terus giat belajar dan percaya bahwa impiannya menjadi prajurit TNI dapat terwujud.

“Mudah-mudahan tahun ini, bulan Juli bisa dibuka. Supaya Alfian nanti bisa sekolah di sana. Kan dekat sekolahnya. Jadi kalau kangen sama ibu segala macam, nanti ibu datang,” kata Agus Jabo.

Dari rumah Alfian, Wamensos Agus Jabo melanjutkan kunjungan ke kediaman Galuh. Remaja yang baru saja menyelesaikan SMP ini sedang menanti kesempatan untuk bisa melanjutkan ke Sekolah Rakyat. Sejak sang ayah meninggal, ibunda Galuh menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja di rumah makan demi menghidupi keempat anaknya.

“Situasi seperti ini sangat umum di lapangan, penghasilan hanya Rp1 juta–Rp1,5 juta per bulan untuk menghidupi satu keluarga. Dalam kondisi seperti ini, membiayai sekolah anak-anak tentu sangat berat. Maka Sekolah Rakyat menjadi solusi nyata untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi,” ujar Wamensos.

Wamensos Agus Jabo menekankan bahwa Sekolah Rakyat tidak sekadar memberikan akses pendidikan, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter kebangsaan, memperkuat nilai-nilai keagamaan, serta membekali siswa dengan keterampilan vokasional yang siap pakai.

“Kalau setelah lulus SMA anak-anak belum bisa kuliah, mereka sudah siap kerja. Sekolah Rakyat akan membekali keterampilan yang relevan,” tambahnya.

Di akhir kunjungan, kakak Galuh, Laras, dengan nada terharu mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas program Sekolah Rakyat bagi anak-anak yang memang membutuhkan.

“Terima kasih buat Bapak Presiden sudah memberikan program Sekolah Rakyat ini, untuk kami dan keluarga. Terima kasih juga pak menteri dan wakil menteri,” ucap Laras.

Kepada Galuh, Wamensos Agus Jabo berpesan, “Kamu harus tangguh, menghormati ibumu yang hebat. Walaupun kurang mampu, kita tidak boleh rendah diri. Pemerintah akan hadir sekuat-kuatnya untuk mendampingi.”

Melalui kunjungan langsung dan dialog bersama para calon peserta didik, Kementerian Sosial memastikan bahwa Program Sekolah Rakyat benar-benar menyasar keluarga yang membutuhkan. Pemerintah menargetkan pendirian 100 Sekolah Rakyat sepanjang tahun ini, dengan tahap awal dimulai di 53 lokasi.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis