tirto.id - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains Teknologi, Stella Christie, menjamin program Sekolah Unggulan Garuda akan dijalankan dengan mengedepankan prinsip yang inklusif dan aksesibilitas.
Ia memastikan program Sekolah Unggulan Garuda, yang merupakan salah satu program hasil terbaik cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto, tidak akan bernasib sama dengan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang berakhir dibubarkan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2013 silam.
"Perbedaannya luar biasa besar, RSBI adalah sekolah internasional. Tidak, bukan, negara yang memberikan beasiswa [RSBI], tidak didirikan untuk terutama sekali memberikan akses. Jadi Ini sangat berbeda sekali dengan RSBI," terang Stella dalam media brief yang diikuti Tirto di Kemdiktisaintek, Sabtu (17/5/2025).
Stella menjelaskan, Sekolah Unggulan Garuda akan menerima siswa dari berbagai latar belakang. Utamanya, mengedepankan siswa yang memiliki kekurangan dalam segi ekonomi dan akses ke pendidikan.
Selain itu, ia juga memastikan bahwa Sekolah Unggulan Garuda akan memfasilitasi siswa dengan latar belakang disabilitas.
"Tidak, tidak akan ada kuota khusus. Karena ini diberikan akses penyeimbang untuk semuanya," ucap Stella.
Sekolah Unggul Garuda diproyeksikan bakal berjumlah 40 sekolah dalam lima tahun ke depan. Sebanyak 20 sekolah merupakan Sekolah Garuda Tranformasi atau sekolah eksisting yang mengadopsi eksosistem Sekolah Garuda. Sisanya merupakan sekolah baru yang dibangun di daerah-daerah pelosok.
Tahun ini, Stella menyatakan, akan ada 12 sekolah tranformasi dan 4 sekolah baru yang akan dibangun dalam ekosistem Sekolah Garuda.
Ia juga memastikan inklusivitas sekolah bakal tercermin dari hadirnya beasiswa bagi mayoritas siswa. Sebanyak 80 persen siswa berprestasi dari ekonomi menengah ke bawah akan mendapatkan beasiswa. Sementara 20 persen sisanya akan diisi oleh siswa berprestasi dari kalangan menengah ke atas dengan menerapkan pembayaran secara mandiri.
Sekolah Unggulan Garuda akan menerapkan konsep asrama dengan program pengabdian kepada masyarakat yang wajib dijalankan para siswa. "Kenapa [ada] berbayar? Karena kita juga ingin supaya mereka berbaur anak-anak yang dari ekonomi menengah atau ekonomi bawah," ujar Stella.
Sekolah Unggulan Garuda akan menggunakan Kurikulum IB atau International Baccalaureate dengan guru-guru yang sudah terlatih.
Sementara untuk penerimaan siswa, Stella memastikan tidak akan menggunakan sistem zonasi karena dilakukan terpusat oleh pemerintah.
"Penerimaannya berdasarkan asas ekonomi. Jadi kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan. Tidak akan digunakan sistem zonasi khusus untuk sekolah Garuda karena di sekolah penerimaan siswa akan dilakukan di pusat," ujar Stella.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id

































