tirto.id - Papan skor masih menunjukkan 0-0 ketika laga perempat final Piala Dunia Perempuan 2019 antara Belanda vs Italia, Sabtu (29/6/2019) melewati separuh waktu. Walau mendominasi penguasaan bola, Timnas Perempuan Belanda yang sejak awal lebih diunggulkan kesulitan menembus kotak penalti lawan.
“Sepanjang babak pertama, para pemain Italia, sebagaimana yang mereka tunjukkan di laga-laga sebelumnya, tampak sabar dan bertahan dengan rapat,” ujar komentator The GuardianKieran Pander saat jeda.
Pada paruh kedua, tepatnya menit 70, momen yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang. Sherida Spitse mengirim umpan bola mati ke kotak penalti. Lepas dari penjagaan lawan, pemain bernomor punggung sembilan, Vivianne Miedema, menyambar si kulit bundar dengan sundulan akurat ke tiang jauh. Gawang Italia bergetar dan skor menjadi 1-0.
10 menit berselang, keunggulan itu digenapi oleh bek Barcelona, Stefanie van der Gragt, lewat sundulan yang lagi-lagi berawal dari set-piece Spitse. Skor akhir 2-0 untuk kemenangan Belanda.
Dua gol tanpa balas ini mengantarkan Timnas Perempuan Belanda ke semifinal Piala Dunia pertama mereka. Rabu (3/7/2019) mendatang, Lieke Martens dan kawan-kawan bisa menembus final pertama jika mampu mengalahkan Swedia.
Spitse memang punya andil penting dengan dua asis dalam pertandingan yang dihelat di Stade du Hainaut itu. Namun perhatian tetap tertuju kepada satu nama: Vivianne Miedema. Gol pertamanya dinilai sebagai momen yang menentukan skenario akhir laga. Tak heran jika setelah peluit panjang namanya diumumkan sebagai man of the match (pemain terbaik).
“Pada akhirnya, orang mengharapkan saya yang mencetak gol. Sundulan itu, entah mengapa saat melakukannya saya punya firasat bagus saja,” tutur Miedema setelah laga dengan senyum simpul.
Gol tersebut merupakan gol ketiga Miedema untuk Timnas Perempuan Belanda sepanjang putaran final Piala Dunia 2019. Miedema lantas menciptakan sejarah sebagai pemain berpaspor Belanda pertama yang bisa mencetak minimal tiga gol dalam satu edisi Piala Dunia Perempuan.
Vivianne Miedema is the first #NED player to score 3+ goals in a single #FIFAWWC campaign.
— Squawka Football (@Squawka) June 29, 2019
What a header. ⚡️ pic.twitter.com/zfORth5lgD
Pemecah Rekor Sejak Muda
Jangan kira prestasi atlet kelahiran 15 Juli 1996 tersebut berhenti di situ. Sundulan ke gawang Italia tersebut sekaligus menggenapi koleksi gol internasionalnya bersama Timnas Perempuan Belanda jadi 61 gol dari 79 penampilan. Angka fantastis ini mengukuhkan posisi Miedema sebagai pencetak gol terbanyak Oranje Leeuwinnen.
Menariknya, jumlah 61 gol internasional dicapai Miedema saat usianya baru 22 tahun.
Dengan pencapaian dan prospek yang masih panjang, Miedema bahkan mulai dibanding-bandingkan dengan legenda hidup sepakbola AS sekaligus manusia paling produktif dalam sejarah sepakbola perempuan, Abby Wambach. Pensiun di usia 35, Wambach mencetak total 184 gol dari 252 penampilan bersama Timnas Perempuan AS.
“Saya yakin dia akan jadi salah satu striker hebat, dengan level setara Wambach dan mencapai berbagai rekor. Dia adalah pemain yang spesial,” tutur eks pesepakbola perempuan Inggris, Faye White.
Bakat Miedema sebenarnya telah terendus sejak usia dini. Memulai karier profesional dengan bergabung ke SC Hereenven di usia 15 tahun, Miedema merupakan debutan termuda dalam sejarah sepakbola divisi teratas Belanda. Tiga tahun kemudian (saat berusia 18 tahun), Miedema mencetak 39 gol dalam satu musim Liga Belanda Perempuan, yang membuatnya lagi-lagi memecahkan rekor baru.
Performa itu bikin klub asal Jerman, Bayern Munchen, meminangnya pada 2014. Setelah dua musim bergelut dengan sepakbola Jerman, per musim 2017/2018 dia lantas pindah ke klub asal Inggris, Arsenal.
Di Inggris pula Miedema kembali mencuri perhatian dunia. Pada musim keduanya berkostum Meriam London, dia mengantarkan Arsenal juara Women Soccer League (WSL/EPL versi Perempuan) sekaligus memecahkan rekor gol klub dengan capaian 39 gol dari 44 laga di semua kompetisi.
22 dari 39 gol itu ditorehkan di WSL, yang bikin dia jadi pemain pertama yang bisa mencetak lebih dari 20 gol dalam satu edisi WSL.
“Meski posisinya striker, dia bukan orang yang suka berteriak meminta bola. Dia dekat dengan semua pemain, tapi tak banyak bicara dan menuntaskan setiap pekerjaan. Itu yang selalu dia lakukan: mencetak banyak gol,” ujar Jordan Nobbs, rekan setim Miedema di London kepada TheTelegraph.
Konsistensi Miedema sepanjang musim 2018/2019 juga dapat dilihat dari statistik-statistik lebih detail. Berdasarkan hitung-hitungan StatsBomb, per 90 menit bermain rata-rata Miedema menorehkan 16 sentuhan di dalam kotak penalti, dua upaya dribel, serta 4,2 tembakan.
Berkat musim konsisten itu pula Miedema diganjar dengan penghargaan prestisius PFA Player of The Year, gelar serupa dengan yang diraih rekannya sesama pemain Belanda di sepakbola pria, Virgil van Dijk.
Di luar gelar dan rekor individualnya, Miedema juga punya andil besar untuk pencapaian tim. Selama tiga tahun berada di Jerman dia membawa Bayern menjuarai dua edisi Women Bundesliga, tepatnya musim 2014/2015 dan 2015/2016.
Kemudian selama dua musim berada di London, Miedema sudah pernah mengantarkan The Gunners mengangkat dua trofi, yakni FA Cup Women 2017/2018 serta Liga Sepakbola Perempuan (WSL) 2018/2019.
Dua medali juga dia dapatkan untuk Belanda: Piala Eropa Perempuan U-19 edisi 2014 serta Piala Eropa Perempuan 2017.
Gelar ini berpeluang bertambah lantaran Oranje Leeuwinnen sejauh belum tersingkir dari Piala Dunia Perempuan 2019. Namun, meski berangkat ke Perancis dengan status kampiun Eropa, bagi Miedema timnya tetaplah berstatus non-unggulan.
“Saya suka bermain untuk tim yang tidak diunggulkan. Kami memang menjuarai Piala Eropa terakhir, tapi jujur saja sejauh ini kami merasa tak terbebani untuk menjuarai Piala Dunia,” kata Miedema kepada The Telegraph.
Masa Depan Cerah Belanda
Perasaan Miedema bahwa negaranya bukan unggulan sebenarnya bisa dimaklumi. Walau sukses menjuarai Piala Eropa 2017, Piala Dunia jelas kompetisi berbeda. Oranje Leeuwinnen baru berpartisipasi pertama kali di ajang empat tahunan itu pada 2015. Artinya, edisi tahun ini barulah partisipasi kedua mereka.
“Kami sama sekali tidak menyangka bisa melaju ke semifinal. Sejauh ini kami belum menampilkan sepakbola terbaik di dunia,” aku Miedema.
Perasaan tanpa beban Belanda juga muncul karena mereka punya skuat relatif muda. Dari empat tim yang menembus semifinal Piala Dunia 2019, mereka memiliki rata-rata usia pemain paling muda. Menurut hitung-hitungan Opta, rataan usia skuat Belanda saat ini adalah 25,5 tahun, jauh lebih rendah ketimbang Amerika Serikat (28,6 tahun), Inggris (27,1 tahun), serta Swedia (26,6 tahun).
Sarina Wiegman, manajer Timnas Perempuan Belanda, tahu betul bahwa membebani target berat untuk pemain-pemain mudanya bukan hal bijak. Sejak awal turnamen dia menekankan kalau Belanda tidak memburu gelar, melainkan pengalaman.
“Kami punya banyak momen di mana kami beruntung, tapi saat ini tim punya semangat besar dan keyakinan untuk terus tampil lebih baik. Daripada perasaan terkejut, kalimat 'bangga' lebih pantas saya sematkan untuk para pemain,” imbuhnya, usai kemenangan atas Italia.
Wiegman sendiri merupakan sosok krusial di balik kebangkitan sepakbola perempuan di Belanda. Merasakan hidup sebagai remaja pada medio 1980an, dia adalah saksi atas sulitnya akses sepakbola perempuan di Negeri Kincir Angin.
“Ketika saya masih remaja dan pertama menendang bola di jalanan The Hague, rata-rata hanya ada laki-laki. Tidak ada perempuan,” kenangnya dalam wawancara dengan The Coaches Voice.
Pengalaman itu merangsangnya untuk berkarier sebagai pesepakbola perempuan di Amerika Serikat, menempuh pendidikan kepelatihan di sana, untuk kemudian pulang ke Belanda dengan sebuah misi besar: membangkitkan sepakbola perempuan.
Ambisi tak main-main itu terbayar lunas saat Wiegman sukses mengantarkan anak asuhnya menjuarai Piala Eropa 2017, disusul pencapaian semifinal Piala Dunia 2019. Namun, lebih dari keberhasilan tersebut, Wiegman meyakini Belanda masih bisa mengangkat harkat sepakbola perempuan ke titik yang lebih tinggi.
Apalagi, meski relatif muda, sebagian penghuni skuat Belanda saat ini sudah punya pengalaman tampil di berbagai kompetisi dunia. Bukan saja striker haus gol macam Miedema, trisula lini depan skuat asuhan Wiegman juga dihuni sosok peraih penghargaan pemain terbaik dunia 2017, Lieke Martens (Barcelona/26) serta winger yang kerap dijuluki 'pesepakbola perempuan tercepat di dunia', Shanice van de Sanden (Olympique Lyon/26).
Dengan skema andalan 4-3-3, di lini tengah Wiegman pun punya sosok-sosok yang bisa diandalkan macam Daniëlle van de Donk dan Jill Roord (Arsenal), Jackie Groenen (Manchester United), hingga Sherida Spitse (Toppserien). Pada sektor pertahanan, duet Dominique Bloodworth (Wolfsburg) dan Stefanie van der Gragt (Barcelona) hadir dengan potensi tidak kalah besar.
“Sekarang kami punya banyak pemain yang punya pengalaman tampil di luar negeri. Saatnya pengalaman-pengalaman itu kami maksimalkan untuk mengangkat derajat sepakbola perempuan,” tegas Wiegman.
Editor: Rio Apinino