Usut Korupsi Ekspor CPO, Jampidsus Periksa 6 Saksi

Reporter: Adi Briantika - 3 Jun 2022 09:24 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Pemeriksaan saksi untuk memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan dugaan korupsi dalam pemberian fasilitas ekspor CPO.
tirto.id - Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung memeriksa enam saksi kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya periode Januari 2021-Maret 2022.

"Pemeriksaan saksi untuk memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan dugaan korupsi dalam pemberian fasilitas ekspor CPO," ucap Kapuspenkum Kejaksaan Agung Ketut Sumedana, via keterangan tertulis, Kamis, 2 Juni 2022.

Para saksi yakni AAA (Sales Manager PT Incasi Raya), BIS (Analis Perdagangan Ahli Muda pada Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan), KA (Kabag Umum Sekretariat Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan), KM (Fungsional Tertentu Pengawas Perdagangan Ahli Muda Direktorat Tertib Niaga Kementerian Perdagangan), MJ (Fungsional Madya/Ketua Tim Penegakan Hukum Barang Pokok, Barang Penting dan Barang Direktorat Tertib Niaga), dan K (Analis Perdagangan Ahli Madya pada Impor Kementerian Perdagangan).

Pada perkara ini, Kejaksaan Agung menetapkan Dirjen Perdagangan Luar Negeri pada Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana, Komisaris Utama PT Wilmar Nabati Indonesia Master Parulian Tumanggor, Senior Manager Corporate Affair Permata Hijau Group Stanley MA, Pierre Togar Sitanggang selaku General Manager di Bagian General Affair PT Musim Mas, dan Penasihat Kebijakan dan Analisa Independent Research dan Advisory Indonesia Lin Che Wei sebagai tersangka.

Dugaan korupsi dalam pemberian fasilitas ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya berlangsung pada periode Januari 2021 hingga Maret 2022. Para tersangka pun dikenakan pasal berlapis.

Lin Che Wei dianggap melanggar Pasal 2 juncto Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara empat tersangka lainnya dijerat Pasal 54 ayat (1) huruf a dan ayat (2) huruf a, huruf b, huruf e dan huruf f Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014, Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 129 Tahun 2022 juncto Nomor 170 Tahun 2022; dan Ketentuan Bab II Huruf A angka (1) huruf b, juncto Bab II huruf C angka 4 huruf c Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Nomor 02/DAGLU/PER/1/2022.

Jaksa Agung ST Burhanuddin berujar perusahaan ekspor ini tidak memenuhi DPO namun tetap diberikan persetujuan ekspor. "Atas perbuatan tersebut diindikasikan dapat menimbulkan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara,” ujar dia, Selasa, 19 April 2022 lalu.



Baca juga artikel terkait KASUS EKSPOR MINYAK GORENG atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Fahreza Rizky

DarkLight