Menuju konten utama

Usai Defisit 3 Bulan, APBN April 2025 Surplus Rp4,3 Triliun

Surplus APBN April 2025 didorong oleh pendapatan negara yang telah mencapai Rp27 persen dari target, yakni senilai Rp810,5 triliun

Usai Defisit 3 Bulan, APBN April 2025 Surplus Rp4,3 Triliun
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berjalan usai mengikuti rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (20/3/2025). Rapat tersebut membahas penerimaan negara. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Setelah mengalami defisit selama tiga bulan beruntun sejak Januari-Maret, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 akhirnya mencatatkan surplus sebesar Rp4,3 triliun. Sejalan dengan kondisi tersebut, keseimbangan primer juga positif Rp173,9 triliun dan posisi kas negara surplus Rp283,6 triliun dari Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA).

“Total kas negara di atas Rp600 triliun. Realisasi penerimaan terus menunjukkan tren penguatan,” ujar Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Masa Persidangan III Tahun Sidang 2024-2025, di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (20/5/2025).

Surplus APBN April 2025 tersebut didorong oleh pendapatan negara yang telah mencapai 27 persen dari target, yakni senilai Rp810,5 triliun. Sayangnya, dia tak merinci berapa kontribusi penerimaan perpajakan dan hibah terhadap total pendapatan negara.

“Penerimaan terus menunjukkan penguatan, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus menunjukkan adanya tren penguatan, meskipun dihadapkan pada berbagai guncangan,” klaim Bendahara Negara itu.

Sementara itu, sampai April 2025, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp806,2 triliun atau 22,3 persen dari target APBN.

“Hal ini menunjukkan di tengah masa transisi APBN 2025 tetap mampu berfungsi optimal di dalam menunjang pelaksanaan program prioritas pemerintah yang dirasakan oleh rakyat,” lanjut Ani, sapaan Sri Mulyani.

Kendati realisasi APBN 2025 telah berbalik arah dan mencatatkan surplus, namun APBN tetap akan dijaga sebagai instrumen peredam guncangan (shock absorber), menjaga stabilitas ekonomi, melindungi masyarakat, dan menopang daya beli masyarakat serta mendorong dunia usaha.

Dengan gejolak yang sangat tinggi dan dinamis serta tantangan struktural yang masih dihadapi di dalam negeri, kebijakan fiskal untuk tahun 2026 akan diarahkan untuk mewujudkan kedaulatan pangan, energi, dan ekonomi. Menurut Ani, upaya ini dilakukan untuk mewujudkan Indonesia yang tangguh, mandiri dan sejahtera.

“Kebijakan fiskal 2026 digunakan secara efektif dan selektif, meredam berbagai gejolak dan guncangan, namun terus dapat mendukung dan responsif terhadap prioritas agenda pembangunan jangka menengah panjang,” tegas Ani.

Sementara itu, untuk memperkuat perekonomian domestik di tahun depan, langkah-langkah yang akan dilakukan dan sedang terus dilakukan, meliputi peningkatan stabilisasi ekonomi, baik melalui diplomasi perdagangan, peningkatan investasi melalui negosiasi, deregulasi, dan perluasan pasar ekspor, termasuk sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan domestik. Kemudian, pemerintah juga akan terus berupaya memperkuat pertumbuhan dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pada saat yang sama, perlindungan terhadap dunia usaha dan daya beli masyarakat akan dilakukan melalui pemberian insentif fiskal untuk berbagai program perlindungan dan juga memperkuat perlindungan sosial. Selanjutnya, APBN juga akan tetap dijaga agar tetap terus sehat, kredibel, dan berkelanjutan.

“Dengan terus meningkatkan penerimaan negara baik dari pajak, bea cukai dan PNBP. Menjaga defisit dan hutang secara hati-hati dan prudent, meningkatkan efisiensi dan kualitas belanja negara, serta terus menjaga fiskal buffer dan fleksibilitas APBN. Di samping itu, peningkatan pengelolaan aset dan kekayaan negara termasuk BUMN dan Danantara terus dilakukan,” tukas Ani.

Baca juga artikel terkait APBN SURPLUS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra