Menuju konten utama

Update Perang Iran: Bagaimana Cara Iran Jatuhkan Pesawat F15-E?

Teknologi yang digunakan Iran untuk menjatuhkan pesawat tempur F15-E milik AS tidak biasa. Simak pemaparannya berikut ini.

Update Perang Iran: Bagaimana Cara Iran Jatuhkan Pesawat F15-E?
Pesawat F-15E Eagle. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Iran telah merobohkan kedigdayaan serangan udara Amerika Serikat (AS) dengan keberhasilannya menembak jatuh jet tempur F15-E Strike Eagle pada Jumat (3/4/2026). Pasalnya, pesawat tempur AS belum pernah kalah selama lebih dari 20 tahun belakangan ini. Bagaimana cara Iran menjatuhkan pesawat tempur itu?

Kejatuhan pesawat F15-E disampaikan melalui pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Jumat lalu. IRGC mengeklaim telah menembak jatuh jet tempur F15-E milik AS di wilayah tengah Iran.

Pejabat AS telah mengonfirmasi bahwa pesawat F-15E Strike Eagle milik mereka ditembak jatuh. Satu pilot berhasil diselamatkan terlebih dahulu. Pilot kedua dapat ditemukan setelah dilakukan pencarian.

“Prajurit pemberani ini berada di belakang garis musuh di pegunungan Iran yang berbahaya, diburu oleh musuh-musuh kita,” tulis Trump di Truth Social menerangkan penemuan pilot kedua, Minggu (5/4/2026).

“Dia mengalami luka-luka, tetapi dia akan baik-baik saja,” tambahnya.

Bagaimana Iran Menarget Pesawat F15-E Milik AS?

Dikutip dari penjelasan NDTV, rekaman yang dirilis Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran menunjukkan pesawat AS ditembak oleh rudal permukaan-ke-udara. Video tersebut tampaknya diambil menggunakan sensor optik dan inframerah (IR), bukan pelacakan radar tradisional.

Gambar termal kontras tinggi yang dirilis media Iran menunjukkan penggunaan sistem pelacakan Elektro-Optik/Inframerah (EO/IR). Dengan sebagian besar sistem rudal radar kemungkinan telah hancur akibat serangan udara presisi AS dan Israel, Iran mengandalkan sensor pasif untuk mendeteksi panas dari mesin pesawat dan gesekan rangka.

Sistem inframerah mengunci pesawat dengan mendeteksi panas dari mesin jet menggunakan pencari termal yang didinginkan, tanpa radar. Operator mengarahkan peluncur hingga pencari mendeteksi panas terkuat dari latar langit yang lebih dingin, kemudian sistem menuntun rudal secara akurat ke target.

Dilansir dari APNews, menurut Brigadir Jenderal Angkatan Udara AS yang pensiun, Houston Cantwell, terakhir kali pesawat tempur AS ditembak jatuh oleh musuh dalam pertempuran adalah A-10 Thunderbolt II saat invasi AS ke Irak pada 2003.

Namun, Cantwell menjelaskan bahwa saat itu AS menghadapi pemberontak yang tidak memiliki kemampuan anti-udara seperti Iran. Fakta bahwa selama ini tidak banyak pesawat AS yang hilang menunjukkan kemampuan pasukannya.

“Fakta bahwa ini belum terjadi sampai sekarang adalah keajaiban mutlak,” kata Cantwell, yang pernah menjalani empat tur pertempuran dan kini menjadi senior resident fellow di Mitchell Institute for Aerospace Studies. “Kami menjalankan misi tempur di sini, mereka ditembaki setiap hari.”

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebutkan bahwa pasukan Amerika telah melaksanakan lebih dari 13.000 misi dalam perang Iran dan menarget lebih dari 12.300 sasaran.

Meski mengalami serangan udara berat dari AS dan Israel, militer Iran yang terdegradasi tetap menjadi lawan tangguh. Serangkaian serangan Iran terhadap Israel dan negara-negara Teluk Arab memicu ketegangan regional dan dampak ekonomi global.

Menurut Behnam Ben Taleblu, Direktur Senior Program Iran di Foundation for Defense of Democracies, terdapat perbedaan antara dominasi udara (air superiority) dan supremasi udara (air supremacy) AS di wilayah udara Iran.

“Sistem pertahanan udara yang dinonaktifkan tidak sama dengan sistem yang dihancurkan. Kita tidak boleh terkejut mereka masih berperang,” ujar Taleblu.

Pesawat AS yang terbang lebih rendah menjadi lebih rentan terhadap rudal Iran. Taleblu menambahkan, kemungkinan F-15 ditembak dengan rudal permukaan-ke-udara, namun besar kemungkinan menggunakan rudal portabel yang diluncurkan dari bahu (shoulder-fired missile). Rudal jenis ini sulit dideteksi dan menunjukkan bahwa Iran “lemah tapi masih mematikan.”

“Ini rezim yang sedang berjuang untuk hidupnya,” katanya.

Mark Cancian, kolonel Marinir AS yang pensiun dan penasihat pertahanan senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), juga menilai bahwa rudal portabel kemungkinan digunakan terhadap pesawat tempur tersebut.

Meski demikian, ia menekankan bahwa perang udara AS terhadap Iran sejauh ini merupakan “keberhasilan besar.”

Sebagai perbandingan, Cancian menyebut bahwa tingkat kerugian pesawat tempur AS saat terbang di atas Jerman pada Perang Dunia II mencapai 3%, yang jika diterapkan pada perang AS-Iran setara dengan sekitar 350 pesawat.

“Tapi ada sisi politik — publik AS terbiasa dengan perang tanpa korban besar. Jadi bagi mereka, setiap kehilangan dianggap tidak dapat diterima,” kata Cancian.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Ilham Choirul Anwar