tirto.id - Gempa bumi dengan magnitudo lebih dari 7 mengguncang Jepang pada Senin (20/4/2026). Peringatan tsunami sempat diaktifkan otoritas setempat di sejumlah wilayah di utara. Berikut update terbaru pada wilayah terdampak dan status tsunami terkini.
Sebelumnya, Badan Meteorologi Jepang melaporkan terjadinya gempa berkekuatan magnitudo 7,5 pada Senin siang waktu Indonesia. Per Senin malam waktu Indonesia, Badan Meteorologi Jepang merevisi pencatatan kekuatan gempa, dari magnitudo 7,5 jadi 7,7.
Seturut NHK, Badan Meteorologi Jepang juga telah mengklasifikasikan gempa tersebut sebagai "gempa bumi kelas 3", yakni kategori cukup intens hingga membuat manusia sulit untuk berdiri tegak di permukaan dan cukup kuat untuk menjatuhkan perabot. Getaran ini dirasakan di Kota Wakuya di Prefektur Miyagi dan Kota Yokote di Prefektur Akita.
Gempa ini berpusat di lepas pantai Sanriku, Samudra Pasifik dengan kedalaman 10 km. Pemerintah Jepang sempat mengaktifkan peringatan gelombang tsunami setinggi 3 meter pasca-gempa terjadi.
Peringatan terjadinya gelombang tsunami itu semula ditujukan kepada warga di Prefektur Iwate, Hokkaido, dan Aomori pada Senin sore. Peringatan tersebut kini telah dicabut.
Meski begitu, peringatan tsunami masih berlaku di beberapa bagian Hokkaido, Aomori, Iwate, Miyagi, dan Fukushima. Namun, ketinggian gelombang tsunami berkisar pada 1 meter, tidak lagi 3 meter.
Seiring peringatan tersebut, sejumlah wilayah dilaporkan telah dihantam gelombang tsunami dengan ketinggian gelombang kurang dari 1 meter.
Pelabuhan Kuji di Prefektur Iwate dilaporkan dihantam gelombang tsunami setinggi 80 sentimeter. Tsunami setinggi 40 sentimeter juga dilaporkan terjadi di Pelabuhan Miyako di Prefektur Iwate dan Pelabuhan Hachinohe di Prefektur Aomori.
Imbas gempa dan peringatan tsunami hari ini, Pemerintah Jepang telah memerintahkan 171.957 penduduk di Hokkaido, Aomori, Iwate, Miyagi, dan Fukushima untuk mengevakuasi diri. Pemerintah setempat juga mengumumkan pembentukan gugus tugas darurat.
Gempa ini dilaporkan tidak menyebabkan aktivitas penerbangan terganggu, namun sejumlah jalur kereta cepat dari Tokyo ke wilayah utara dihentikan. Kereta yang sempat berhenti beroperasi sebagai langkah preventif itu adalah Yamagata Shinkansen dan Akita Shinkansen.
Sementara itu, gempa juga sempat meningkatkan kekhawatiran potensi kerusakan fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah utara Jepang. Namun, tak ada anomali yang dilaporkan terjadi di fasilitas nuklir Fukushima, Aomori, dan Miyagi.
Peringatan Gempa Jepang Lebih Besar
Peringatan tsunami setinggi 3 meter telah dibatalkan otoritas Jepang seiring situasi terkini yang berlangsung. Namun, pihak berwenang tetap memperingatkan warga untuk tetap waspada dan siap mengungsi karena potensi gempa susulan yang lebih besar.
Seturut The Japan Times, Kantor Kabinet dan Badan Meteorologi Jepang telah menyatakan bahwa status siaga gempa akan tetap berlangsung hingga 27 April mendatang. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi risiko terjadinya gempa susulan.
Sejak 2022 lalu, Jepang telah memberlakukan kebijakan penanganan gempa khusus. Jika terjadi gempa berkekuatan 7 skala Richter di lepas pantai Iwate dan Hokkaido, pihak berwenang diharuskan untuk mempertimbangkan pengaktifan peringatan potensi gempa susulan yang lebih besar.
Kebijakan itu dibuat Jepang setelah berkaca pada peristiwa gempa Tohoku 2011 lalu. Kala itu, terjadi gempa dengan magnitudo 7,3 dan diikuti gempa susulan dengan magnitudo 9,1 pada dua hari setelahnya.
Oleh karenanya, Pemerintah Jepang kini tetap mempertahankan status siaga di sejumlah wilayah terdampak gempa. Hal itu dilakukan meskipun potensi terjadinya gempa dahsyat dengan magnitudo 8 atau lebih tinggi kini hanya sekitar 1 persen.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaechi menyatakan bahwa masyarakat kini telah diperbolehkan melanjutkan aktivitas sehari-hari, namun tetap harus bersiaga untuk evakuasi kapan saja diperlukan.
"Sangat penting, terutama di daerah pesisir, untuk segera mengungsi jika Anda merasakan getaran atau jika peringatan tsunami dikeluarkan," katanya.
Pemerintah Jepang dalam konferensi pers pada Senin juga mendorong penduduk untuk mengonfirmasi ulang rencana dan jalur evakuasi, serta cara berkomunikasi dengan keluarga jika situasi darurat kembali terjadi.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































