Menuju konten utama

UN Women: Pembangunan Infrastruktur Harus Perhatikan Perempuan

Representasi UN Women untuk Indonesia Jamshed Kazi mendesak pemerintah untuk menggunakan perspektif perempuan dalam melakukan pembangunan.

UN Women: Pembangunan Infrastruktur Harus Perhatikan Perempuan
Ilustrasi HL Indepth Pelecehan Seksual Menanggapi Korban. tirto.id/Nadya

tirto.id - Representasi UN Women untuk Indonesia Jamshed Kazi menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur, seperti ruang publik atau transportasi publik, perlu mempertimbangkan bentuk-bentuk keamanan perempuan sebagai dasar rancangannya.

"Penting untuk mengkoneksikan urban planning dengan cara bagaimana perempuan merasa aman untuk mengaksesnya," kata Jamshed dalam acara UN Women di M Bloc, Jakarta Selatan, pada Selasa (10/12/2019).

Jamshed pun menjelaskan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki pandangan berbeda ihwal pembangunan infrastruktur.

"Jika kamu menanyakan ke perempuan apa yang paling penting dalam pembangunan transportasi dari titik A ke titik B, jawabannya akan berbeda dengan laki-laki," ujar Jamshed.

Jamshed menjelaskan, jika pembangunan menggunakan perspektif perempuan, maka jawaban yang menjadi poin terpenting adalah keamanan. Berbeda dengan laki-laki yang umumnya ingin transportasi tercepat dan termurah.

"Kalau pertanyaan ini tidak diajukan, maka pembangunan akan tetap menjadi sesuatu yang mengancam bagi perempuan," tegas Jamshed.

Di Indonesia, ungkap Jamshed, pembangunan yang memberi ruang aman bagi perempuan, khususnya dari pelecehan seksual, masih perlu ditingkatkan. Terlebih, angka pelecehan yang tercatat pun masih tinggi. Selain itu, Jamshed menambahkan kebijakan yang ada di Indonesia belum mampu melindungi perempuan dari pelecehan seksual.

Jamshed mencontohkan aturan yang diterapkan pemerintah Perancis, di situ orang yang melakukan pelecehan seksual di transportasi umum bisa langsung mendapatkan sanksi berupa denda.

"Jika ini dilakukan di Indonesia, maka pemasukannya bisa sangat tinggi untuk pembangunan," sindirnya.

Berdasarkan hasil survei Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) dalam hasil Survei Pelecehan Seksual di Ruang Publik terdapat sebanyak 46.80 persen responden mengaku pernah mengalami pelecehan seksual di transportasi umum. Data tersebut diambil dari 62.224 responden.

Transportasi umum (15.77 persen) menjadi Iokasi kedua tertinggi terjadinya pelecehan, setelah jalanan umum (28.22 persen). Moda transportasi umum yang dilaporkan terjadi pelecehan antara Iain adalah bus (35.80 persen), angkot (29.49 persen), KRL( 18.14 persen). ojek online (4.79 persen), dan ojek konvensional (4.27 persen).

Bentuknya cukup beragam, yakni siulan atau suitan (5392 orang), suara kecupan, komentar atas tubuh (3628), main mata (3325), diraba atau dicekam (1826), komentar rasis (1753), didekati dengan agresif dan terus-menerus (1445), digesek dengan alat kelamin (1411), diikuti atau dikuntit (1215), gestur vulgar (1209), suara kecupan (1001), dipertontonkan masturbasi publik (964), dihadang (623), diperlihatkan kelamin (35), difoto secara diam-diam (11), serta diintip (7).

Baca juga artikel terkait TRANSPORTASI PUBLIK atau tulisan lainnya dari Fadiyah Alaidrus

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Fadiyah Alaidrus
Penulis: Fadiyah Alaidrus
Editor: Widia Primastika