Ulama Indonesia 1980-an: Kerap Dicekal karena Ceramah Kontroversial

Oleh: Siti Zainatul Umaroh - 4 Mei 2021
Dibaca Normal 4 menit
Ulama-ulama Indonesia pernah digemari publik Negeri Jiran. Pada 1980-an, justru kena cekal gara-gara materi ceramah yang kontroversial.
tirto.id - Pendakwah dari Indonesia sudah sejak dahulu berdakwah di negeri-negeri Melayu. Salah satunya adalah Abdullah Segaf bin Mahdi pada pertengahan 1980-an. Abdullah berasal dari Surabaya dan sempat tinggal di Singapura selama kurun 1986-1987 untuk berdakwah.

Abdullah bisa dibilang cukup terkenal di Singapura. Namun, bukan karena ceramah-ceramah yang menyejukkan. Dia justru dikenal karena narasi ceramahnya yang kerap mengundang keributan.

Publik muslim Singapura mengenalnya sebagai pendakwah yang senang mengada-adakan cerita heboh untuk memikat jemaahnya. Berita Harian (17 April 1988), misalnya, menyebut bahwa Abdullah pernah menyebut Abdul Muthalib, seorang Quraish terhormat di Makkah dan kakek Nabi Muhammad, mampu mendatangkan hujan bahkan sebelum doanya selesai dibaca .

Sekalangan masyarakat bahkan mempercayai Abdullah adalah wali Allah. Ceramah dan sepak terjang Abdullah itu pun membuat berang Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS). Syed Isa Mohd Semait, salah satu pimpinan MUIS kala itu, sampai menyarankan agar Abdullah dicekal.

Tapi, Abdullah tak jera. Setelah itu pun, dia tetap saja membumbui ceramahnya dengan cerita rekaan yang menyeleweng dari sejarah. Narasinya kerap kali tidak bisa diterima karena bertentangan dengan kitab-kitab Muktabar.

MUIS tentu saja makin jengkel dibuatnya. MUIS menganggap, mengada-adakan sesuatu yang tidak ada berarti berbohong. Sedangkan berbohong bukanlah jalan yang semestinya ditempuh oleh seorang pendakwah.

Kasus Abdullah Segaf bin Mahdi itu rupanya bukan kasus tunggal di Singapura. Pada akhir dekade 1970-an, pendakwah Indonesia kerap dicap sebagai penghasut di negeri tetangga. Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS), misalnya, sampai merasa resah dan mengeluarkan fatwa haram bagi pendakwah asal Indonesia. Kerajaan Malaysia dan Brunei sempat pula mengeluarkan larangan berdakwah bagi orang Indonesia di negerinya.

Apa pasal sampai terjadi hal demikian?

Sempat Digemari

Seturut sejarah, Semenanjung Melayu adalah wilayah penting bagi persebaran Islam di Asia Tenggara. Pada abad ke-14, misalnya, muslim Singapura sudah mengenal sekolah Alquran. Para ulama dari negeri-negeri di bawah angin pun sudah biasa berdakwah lintas wilayah sejak mula mekarnya Islam.

Pada abad ke-19, sebagaimana disebut oleh Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulaua Nusantara abad XVII dan XVIII (1994), Singapura menjadi salah satu pusat dakwah Islam penting di Asia Tenggara. Keunggulan letak strategis Singapura menjadikannya sebagai pintu masuk pedagang Eropa, Timur Tengah, dan Australia. Singapura pun menjadi pusat informasi dan komunikasi dakwah Islam.

Telah banyak pendakwah Islam asal Indonesia—dulu Hindia Belanda—yang singgah berdakwah di Singapura, juga Semenanjung Malaya, dan Brunei Darussalam. Semula kedatangan mereka disambut hangat sebagai bentuk mengakrabkan mahabbah sesama umat muslim.

Pada kurun 1920-an, majalah-majalah dari Hindia Belanda juga beredar di Tanah Melayu dan menjadi bacaan orang-orang Melayu terdidik. Begitu pun, kehadiran guru-guru agama dari Indonesia di Singapura adalah kelaziman. Itu semua beriringan dengan menghebatnya gerakan Sarekat Islam di Hindia Belanda.

Hubungan harmonis itu berjalan beberapa lama hingga saat awal kemerdekaan Indonesia. Nama-nama ulama Indonesia, seperti Hamka, Anwar Musadad, Arsyad Talib Lubis, Hasbi Ash-Shiddieqy, Nasruddin Latif, Salleh Suwaidi, Zainal Arifin Datuk, Masdad, dan Fathullah Harun, dikenal luas di negeri seberang. Ceramah agama mereka pun amat digemari oleh orang-orang Melayu (Qalam, Januari 1959).


Khoo Kay Kim dalam makalah “Suasana Politik di Tanah Melayu di Perang Dunia II” (1978) menyebut, banyak pelajar Melayu yang belajar agama ke Indonesia. “Di mana saja ada sekolah agama yang agak besar di Kawasan Semenanjung, di situ ada guru dari Indonesia,” tulis Khoo Kay Kim.

Beberapa tahun menjelang kemerdekaan Federasi Malaya (1957), universitas Islam mulai dibangun di Semenanjung Malaya. Persatuan Pelajar Islam Malaya beberapa kali juga berkunjung ke Indonesia untuk mempelajari kebudayaan dan pendidikan Islam.

Majalah Qalam (Januari 1957) menyebut, mahasiswa Malaya mengunjungi universitas di Jakarta dan bertemu beberapa tokoh penting, di antaranya Menteri Agama Haji Ilyas, Mohammad Natsir dari Masjumi, juga tokoh-tokoh dari PSII, NU, Muhammadiyah, dan partai Islam lain.

Pendakwah Indonesia Berulah

Banyak pendakwah Islam dari Indonesia, terutama dari Nahdlatul Ulama (NU), yang rutin berdakwah di Malaya. Masdad dan Fathullah Harun, misalnya, adalah dua pendakwah yang paling sering bersafari dakwah ke sana. Semula, keduanya selalu membawa pesan-pesan persatuan di antara umat Islam. Namun, belakangan mereka dikritik karena sering mengungkit perkara khilafiah.

Pada mula dekade 1980-an, banyak pendakwah Indonesia yang majelisnya di negeri seberang dibatalkan. Pemerintah Singapura, misalnya, terang-terangan keberatan dengan sepak terjang beberapa pendakwah dari Indonesia.

Seturut pemberitaan Berita Harian (28 Juli 1979), Pemerintah Singapura sampai perlu mengawasi para pendakwah yang materi ceramahnya dianggap menjurus perpecahan dan isu saling mengkafirkan.

MUIS pun mengemukakan pandangannya, ”Kalau sekiranya penceramah agama dari Indonesia itu datang ke Singapura hanya untuk menghidupakan tafarruq dan tanāzu (perpecahan dan persengketaan) maka lebih baik mereka jangan lagi datang ke sana.”

Lembaga yang mengurusi peribadatan dan kebudayaan Islam Singapura itu juga mengingatkan bahwa konten ceramah politik harus dibatasi menjelang suasana Pemilihan Raya Singapura. Pasalnya, pergolakan politik terkait isu masyarakat Melayu-Islam memang rentan memantik konflik di Singapura.

Syed Hussein Alatas dalam bukunya Kita dengan Islam, Tumbuh Tiada Berbuah (1979) melukiskan bahwa Islam itu laiknya sistem kehidupan bagi orang Melayu. Tak hanya soal agama, Islam juga mengatur berbagai aspek, seperti ekonomi, administrasi, sains dan pengetahuan, kehidupan keluarga, dan politik.

Jadi, tidak mengherankan jika setiap beberapa materi dakwah Islam kerap mendapat sorotan otoritas, terlebih yang jelas-jelas menyimpang.

Infografik Pendakwah Indonesia di Singapura
Infografik Pendakwah Indonesia di Singapura. tirto.id/Rangga



Ceramah Kontroversial

Setelah melepaskan diri dari Federasi Malaysia pada 1965, Singapura memiliki pekerjaan rumah besar untuk memperbaiki perpecahan masyarakat dalam negeri. Karena itu, Pemerintah Singapura amat sensitif pada isu-isu yang rentan menimbulkan konflik horisontal, seperti masalah perbedaan paham keagamaan.

Maka wajarlah Pemerintah Singapura hanya meloloskan beberapa pendakwah asal Indonesia yang mengajarkan ukhuwah Islamiyah. Materi dan gaya ceramah ala Abdullah Segaf bin Mahdi adalah contoh yang bakal kena cekal Pemerintah Singapura.

Usai bikin berang MUIS, Abdullah tetap tak jera. Abdullah lagi-lagi membuat gempar saat menyebut Nabi Nuh adalah nabi kedua. Padahal, nabi kedua dalam keyakinan Islam adalah Nabi Idris.

Abdullah beralasan bahwa seturut suatu sumber israeeliaat atau kisah-kisah yang diriwayatkan dari orang-orang Yahudi, kerasulan Nabi Nuh telah diundurkan selama 480 tahun.

Abdullah beberapa kali juga tersandung kasus karena kegemarannya merekayasa bunyi hadis atau menyatakan suatu ungkapan tertentu sebagai hadis. Dalam satu ceramah, dia bahkan pernah menukar dan menambah ayat-ayat Alquran sekehendak hatinya. Dia tentu saja mendapat larangan ceramah karena kesalahan-kesalahan fatal itu.

Tak hanya di Singapura, Abdullah juga pernah berulah di Malaysia. Harian Bernama (25 April 1988) memberitakan, Abdullah pernah mengarang cerita bahwa di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril sempat berpapasan dengan manusia biasa. Padahal, tidak ada satu pun makhluk yang dapat melakukan perjalanan ke Sidratul Muntaha selain Muhammad.

Gara-gara materi ceramah yang menyimpang itu, dia dicekal di Malaka dan Johor Baharu.

Usai kasus itu, pendakwah dari National University of Singapore Husain Muthalib menggagas semacam seleksi kelayakan akademis bagi para pendakwah Islam. Mereka juga dituntut menguasai bahasa Inggris. Sejak itulah, kursus-kursus bagi para pendakwah mulai marak di Singapura.

Pada awal dekade 1990-an, banyak sekolah dakwah bermunculan di Singapura dan Malaysia (Bernama, 23 desember 1994). Makin jarang pula terlihat pendakwah dari Indonesia yang berani mengangkat tema-tema kontroversial.

Baca juga artikel terkait CERAMAH KONTROVERSIAL atau tulisan menarik lainnya Siti Zainatul Umaroh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Siti Zainatul Umaroh
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight