Menuju konten utama

Ujian Sekolah di Madinah, Aysylla Kini Menatap Baitullah

Kisah inspiratif Aysylla, jemaah haji 15 tahun asal Malang yang jalani ujian sekolah daring di Madinah demi mengejar kelulusan sebelum puncak haji.

Ujian Sekolah di Madinah, Aysylla Kini Menatap Baitullah
Aysilla Naila Sari (15), jemaah haji asal Malang, Jawa Timur ini, kini sudah tiba di Makkah bersiap menunggu puncak haji. Foto/Tim Media Center Haji (MCH) 2026.

tirto.id - Aysylla Naila Sari (15 tahun) sempat bimbang saat namanya masuk dalam daftar calon jemaah haji yang diberangkatkan tahun ini dari Kabupaten Malang. Bukan karena tidak mau menunaikan rukun Islam kelima, tapi waktu keberangkatan bersamaan dengan ujian sekolah.

Ays, begitu ia dipanggil, awalnya masih mempertimbangkan bagaimana dengan ujian sekolahnya. Meskipun ujian online pakai HP, tapi perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi membuat Ays ragu.

Namun akhirnya Ays bisa bernapas lega setelah pihak sekolah mengizinkan untuk ujian online dari Madinah. "Soalnya kalau mau susulan itu, susulannya, kan, sampai di Indonesia 6 Juni, sedangkan 9 Juni-nya itu sudah wisuda. Jadi kan enggak bisa kalau susulan di Indonesia," kata Ays saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di Sektor 1 Wilayah Syishah, Makkah.

Kini siswi kelas 9 MTsN 1 Kota Malang itu sudah menginjakkan kaki di Makkah, setelah menempuh tujuh hari di Madinah yang penuh dengan dinamika. Wajahnya semringah usai beban besar telah ia lalui di kota nabi.

Di bawah bayang-bayang kemegahan Masjid Nabawi kalau itu, Ays tidak hanya disibukkan dengan lantunan zikir. Namun, ia harus bergelut dengan sinyal dan layar ponsel demi menuntaskan soal-soal ujian kelulusan sekolahnya.

Madinah menjadi saksi bisu bagaimana seorang anak nelayan asal pesisir Tambakrejo, Kabupaten Malang, memperjuangkan masa depannya di sela-sela ibadah.

Saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH), Ays tengah beristirahat di Hotel Marjan Al Salam, Sektor 1, Syishah, Makkah. Hotel yang menjadi “rumah” barunya di tanah haram ini menjadi titik temu setelah rangkaian ujian yang melelahkan itu akhirnya tuntas dikerjakan semasa ia bermukim di Madinah.

“Kemarin waktu di Madinah, selama lima hari saya benar-benar fokus bagi waktu buat ujian online. Karena jadwalnya memang pas barengan dengan keberangkatan haji tahun ini,” kata Ays sambil tersenyum lega.

Perjalanan spiritual Ays pada musim haji 2026 ini seolah menjadi skenario langit yang penuh kejutan. Ia tergabung dalam Kloter 16 Embarkasi Surabaya (SUB) yang sempat mengalami ketegangan saat pesawat Saudi Arabian Airlines SV-5323 harus mendarat darurat di Bandara Kualanamu (KNO), Medan. Drama teknis itu membuatnya hanya memiliki waktu tujuh hari di Madinah, berkurang dari jadwal semula yang seharusnya sembilan hari.

Keterbatasan waktu itu justru memaksanya untuk lebih disiplin. Di kamar hotelnya di Madinah, ia duduk bersimpuh menghadapi aplikasi CBT (Computer Based Test).

Baginya, menunda ujian berarti merelakan momen wisudanya di Tanah Air pada 9 Juni mendatang. Maka, pilihan untuk ujian daring dari Tanah Suci adalah satu-satunya jembatan menuju kelulusan.

Daftar Haji Sejak Balita

Pada 2012, sang ayah yang berprofesi sebagai nelayan di pesisir selatan Jawa itu telah mendaftarkan Ays untuk berhaji. Saat itu, Ays hanyalah balita berusia 1 tahun 8 bulan yang belum mengerti mengapa namanya masuk dalam daftar tunggu selama 14 tahun.

“Bapak dan Ibu sudah haji tahun 2006. Mereka ingin saya dan kakak-kakak bisa berangkat saat masih muda, biar kuat fisiknya,” kenang Ays.

Keyakinan sang ayah yang membanting tulang di laut Malang Selatan itu kini membuahkan hasil, putri bungsunya berdiri tegak di Makkah sebagai hajjah muda yang cerdas.

Kini, setelah melintasi “ujian” ganda di Madinah—baik ujian sekolah maupun ujian kesabaran saat pesawat terkendala—Ays bersiap untuk puncak haji atau Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

Menempati Hotel Marjan Al Salam di wilayah Syisah yang strategis, ia mulai merajut fokus untuk rangkaian ibadah di Armuzna.

Bagi Ays, setiap butir keringat yang jatuh di Makkah adalah penghormatan untuk perjuangan ayahnya di laut lepas.

Ia membuktikan bahwa doa-doa yang dilarungkan dari bibir pantai Tambakrejo telah sampai ke depan pintu baitullah, membawa seorang remaja yang membawa pena di satu tangan dan tasbih di tangan lainnya.

Baca juga artikel terkait JEMAAH HAJI atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Siti Fatimah