tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim telah menghancurkan fasilitas militer di Pulau Kharg, Iran. Serangan itu sengaja tidak menargetkan infrastruktur minyak di pulau tersebut.
Namun, Trump mengancam, jika Iran terus mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, AS tidak segan untuk menghancurkan terminal minyak tersebut.
"Namun, jika Iran, atau siapa pun, melakukan sesuatu untuk mengganggu Pelayaran Bebas dan Keamanan di Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkan kembali keputusan ini [menghancurkan terminal minyak di Pulau Kharg," tulis Trump di media sosialnya, dikutip dari Reuters, Sabtu (14/3/2026).
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menilai, ancaman Trump tersebut dapat memicu kekacauan pasokan minyak yang makin parah.
Harga minyak dunia berfluktuasi tajam merespons pernyataan Trump mengenai durasi konflik di Selat Hormuz, jalur krusial bagi seperlima pasokan minyak global. Meskipun sebelumnya sempat menyatakan perang hanya akan berlangsung beberapa minggu, pada hari Jumat (13/3), Trump menolak memberikan proyeksi waktu berakhirnya konfrontasi tersebut.

Pulau Kharg terletak sekitar 26 kilometer dari daratan Iran dan 483 kilometer di barat laut Selat Hormuz. Hingga saat ini, Iran dilaporkan masih terus mengekspor minyak mentah, sementara produsen lain di kawasan Teluk mulai menghentikan pengiriman karena faktor keamanan.
Berdasarkan citra satelit dari TankerTrackers.com, beberapa kapal tanker raksasa terpantau sedang memuat minyak di Pulau Kharg pada Rabu lalu. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari hingga pertengahan pekan ini, ekspor minyak Iran diperkirakan mencapai 1,1 juta hingga 1,5 juta barel per hari.
Sementara itu mengutip dari Aljazeera, Kementerian Perminyakan Iran menyebut fasilitas di Pulau Kharg berfungsi sebagai pusat saraf vital bagi sektor minyak. Terminal tersebut menerima minyak mentah dari tiga ladang lepas pantai utama – Aboozar, Forouzan, dan Dorood – yang kemudian diangkut melalui jaringan pipa bawah laut yang kompleks ke fasilitas pengolahan di darat sebelum disimpan atau dikirim ke pasar global.
Meskipun menghadapi sanksi internasional selama bertahun-tahun yang secara berkala menghambat produksi, Iran telah secara agresif memperluas infrastruktur pulau tersebut.
Pada Mei 2025, S&P Global Commodity Insights melaporkan bahwa Teheran menambah kapasitas penyimpanan terminal sebesar dua juta barel dengan merehabilitasi tangki 25 dan 26, yang masing-masing mampu menampung satu juta barel.
Secara historis, kapasitas pemuatan terminal-terminal yang terus ditingkatkan ini telah mencapai angka maksimum yang mencengangkan yaitu tujuh juta barel per hari, meskipun ekspor nasional saat ini berkisar sekitar 1,6 juta barel per hari, di samping mengelola produksi untuk pasar domestik.
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id


































