tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat pernyataan pada Rabu (11/3/2026) bahwa Amerika telah memenangkan peperangan melawan Iran. Namun, pernyataan itu tampak berkebalikan dengan fakta di lapangan. Berikut alasan mengapa AS belum bisa dianggap menang dalam Perang Iran.
Pernyataan Trump tentang kemenangan AS terhadap Iran dinyatakan di hadapan para pendukungnya di sebuah pabrik pengemasan di Hebron, Kentucky, AS.
"Anda Tahu, Anda biasanya pantan mengklaim kemenangan terlalu dini," ujar Trump, dikutip dari NBC. "Kita menang. Di jam pertama saja, pertempuran telah usai."
Sejauh ini, serangan AS-Israel ke Iran memang telah menciptakan kerusakan yang parah bagi Teheran. Per Jumat (13/3/2026), Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menyebut bahwa setidaknya 1.348 warga sipil Iran telah terbunuh akibat serangan AS-Israel.
Akan tetapi, banyak pihak menilai bahwa pengumuman kemenangan Trump adalah langkah yang prematur. Meski Iran dinilai terus melemah seiring waktu, namun dampak konflik terus meluas di kawasan Teluk, membuat kerugian atas perang bisa jadi lebih besar dari keuntungan yang didapat.
7 Alasan Trump Belum Menang di Perang Iran
Sejak diserangan oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu, Iran dilaporkan mengalami dampak kerusakan yang masif. Kemampuan militer Iran dilaporkan terus menurun setiap kali serangan dilancarkan ke Teheran.
Kemampuan Iran untuk melakukan ancaman ke luar wilayah mereka diperkirakan telah secara signifikan berkurang akibat rentetan serangan AS dan Israel. Kemampuan Iran untuk memproduksi misil dan drone juga dilaporkan terus menurun.
Per Jumat, pertempuran masih berlangsung di Teluk, namun jumlah serangan misil Iran ke negara sekutu AS di Teluk dilaporkan telah melambat dalam beberapa hari terakhir.
Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat AS pantas menyatakan kemenangan secara meyakinkan dalam Perang Iran yang masih berlangsung. Dampak pertempuran di Teluk mungkin lebih besar ketimbang yang dibayangkan Trump.
Seturut CNN, berikut tujuh alasan mengapa Trump belum bisa mengklaim kemenangan dalam Perang Iran.
1. Tantangan Politik dan Militer Semakin Besar
Sejauh ini, Trump biasa mengungkap segala sesuatu dengan hiperbola. Pernyataan publik yang ia rilis kerap kali melebih-lebihkan sesuatu.
Dalam hal klaim kemenangan AS dalam Perang Iran pada Rabu, kebiasaan Trump itu tampaknya kembali ia lakukan.
Analisis situasi di lapangan justru menunjukkan bahwa AS belum mencapai kemenangan. Situasi yang muncul pasca serangan 28 Februari justru jadi makin pelik, baik bagi AS maupun komunitas internasional.
2. Krisis di Selat Hormuz Menguat
Kendati Trump menyatakan kemenangan AS atas Iran, namun konflik yang pemerintahannya mulai telah menguatkan krisis di Selat Hormuz. Hal ini kemudian berdampak pada kenaikan harga minyak dunia yang juga turut berdampak pada AS.
Para analis menilai bahwa satu-satunya jalan keluar dalam krisis Selat Hormuz adalah penyelesaian politik, bukan militer. Meski begitu, Trump telah menyatakan bahwa ia hanya akan menjalankan upaya diplomasi jika Teheran mau menyerah tanpa syarat, sebuah permintaan yang telah ditolak Iran.
"Ancaman dari Iran adalah masalah politik yang membutuhkan penyelesaian politik. Infrastruktur rudal balistik serta program nuklir Iran adalah hal-hal yang menuntut solusi jalur politik. Hal yang sama berlaku untuk krisis ini," papar Jennifer Kavanagh, direktur analisis militer Defense Priorities.
"Tidak ada solusi militer di sini, karena kalaupun Anda berhasil membukanya sekarang, siapa yang bisa menjamin jalur itu akan terus terbuka?" katanya.
3. Iran Kembali Memiliki Pemimpin Tertinggi
Terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan pada 28 Februari juga sulit disebut sebagai kemenangan AS secara taktis.
Meskipun pejabat AS menepis bahwa operasi Epic Fury memiliki tujuan untuk menggulingkan rezim Iran, namun kematian Ali Khamenei telah membuat Perang Iran berjalan dengan bingkai bahwa AS ingin melakukan pergantian rezim Iran secara paksa.
Dalam bingkai tersebut, terpilihnya pemimpin tertinggi Iran yang baru justru meruntuhkan klaim kemenangan Trump. Terlebih, Mojtaba Khamenei, anak Ali Khamenei yang kini menggantikan mendiang ayahnya, dikenal sebagai sosok yang lebih keras terhadap pengaruh Eropa dan AS.
4. Saat AS Berhenti Perang, Belum Tentu Israel Mau
Semula, pemerintahan Trump melakukan serangan ke Teheran bersama Israel. Kedua negara ini hingga kini jadi sekutu yang menggempur Iran sejak 28 Februari.
Sejak awal, Perang Iran dimaksudkan AS sebagai operasi bersama Israel. Namun, belakangan terungkap adanya perbedaan tujuan strategis antara dua sekutu itu terhadap Iran.
Serangan Israel terhadap fasilitas energi Iran pada Sabtu (7/3/2026) telah ditanggapi secara sinis oleh Trump, yang lebih ingin minyak Iran diselamatkan ketimbang dihancurkan. Perbedaan tersebut kemudian memunculkan spekulasi tentang bagaimana kerja sama AS-Israel akan berlangsung.
Pada Minggu (8/3), Trump menyebut bahwa kapan perang akan berakhir bakal menjadi keputusan bersama antara dirinya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Akan tetapi, dengan perbedaan yang belakangan muncul, ada potensi bahwa Israel akan terus menyerang Iran, bahkan ketika AS menyatakan bahwa operasi telah dihentikan.
5. Penyelesaian Nuklir Iran Belum Tuntas
Berulang kali dalam pernyataan publiknya, Trump menyebut bahwa serangan AS ke Iran dilakukan demi menghentikan program nuklir Iran. Namun, kini solusi persoalan nuklir Iran justru samar.
Cadangan uranium Iran yang telah diperkaya hingga kini masih tersembunyi. Selama cadangan itu masih ada, ambisi Washington untuk mencegah pengayaan uranium Iran tak akan tercapai.
Belakangan pemerintahan Trump disebut tengah menimbang pengerahan pasukan darat untuk merebut atau bahkan menghancurkan cadangan uranium tersebut. Namun, hal ini perlu pengerahan pasukan dalam skala besar dengan risiko yang sangat tinggi.
6. Perpolitikan Iran Masih Berjalan
Salah satu hal yang terus digelorakan Trump dalam pernyataan publiknya adalah seruan bagi rakyat Iran untuk memulai pemberontakan dan menginisiasi pergantian rezim teokrasi di sana.
Retorika macam "waktu kebebasan kalian sudah di depan mata" rajin diungkap Trump ketika mengomentari situasi di Iran. Namun, sejauh ini belum tampak tanda nyata pemberontakan bakal terjadi.
Terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru juga menunjukkan bahwa sistem politik teokrasi Iran masih berjalan.
7. Situasi Politik di Amerika Serikat Tidak Menentu
Kemenangan juga sulit diklaim secara meyakinkan oleh Trump jika melihat situasi politik dalam negeri AS. Seiring pertempuran yang masih berlangsung, penilaian publik atas perang juga terus bergolak.
Kenaikan harga minyak di tengah anggaran yang tercekik justru bisa jadi bumerang bagi Trump dan Partai Republik yang ia representasikan.
Terlebih, militer AS baru saja merilis laporan keuangan selama enam hari pertama Perang Iran. Biaya yang digunakan AS selama enam hari tersebut mencapai USD11,3 miliar.
Mendekati pemilu sela, Partai Republik justru berpotensi kelihangan banyak suara. Pun, ancaman bom nuklir Iran yang jadi landasan operasi Epic Fury, sebenarnya belum nyata ketika AS memulai perang pada 28 Februari lalu.
Di saat yang sama, Partai Demokrat AS telah melakukan sejumlah upaya untuk mempertanyakan legalitas serangan AS ke Iran melalui parlemen.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































