Tren Gowes Memang Menyehatkan, tapi Juga Penuh Risiko & Bahaya

Warga berolahraga saat hari bebas berkendara atau Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Minggu (21/6/2020). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.
Oleh: Aditya Widya Putri - 20 Juli 2020
Dibaca Normal 4 menit
Tren bersepeda di era kelaziman anyar memunculkan para pesepeda dadakan yang bikin jalanan semrawut dan menambah angka kecelakaan.
Era kelaziman baru membawa aktivitas gowes kembali menjadi tren. Seperti mengenang masa kecil, rasa penat akibat pembatasan sosial berbulan-bulan terobati dengan bersepeda menyusuri aspal jalanan.

Tak seperti masa pra-pandemi, sekarang Anda akan mudah menemui para pesepeda mengisi bahu-bahu jalanan di hari-hari biasa. Bahkan saat Car Free Day (CFD) Jakarta dibuka, ruas jalan Sudirman-Thamrin layaknya pagelaran karnaval yang diikuti ratusan pesepeda.

Catatan dari Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia menyebutkan peningkatan pesepeda Jakarta mencapai seribu persen. Naik sekitar 10 kali lipat selama pandemi COVID-19. Kondisi ini dipicu kekhawatiran terhadap transmisi virus di transportasi atau tempat umum.

Akhirnya banyak orang memutuskan membeli sepeda dengan keyakinan bahwa transportasi ini, selain murah dan sehat, juga rendah penularan dibanding aktivitas olahraga luar lain, seperti lari. Yovi Andre merupakan salah satu pesepeda “dadakan” yang baru menjajal olahraga gowes di bulan April ini.

Ia sengaja membeli sepeda balap tipe Odessy 700 x 23C. Kemudian di bulan Mei Yovi menambah koleksi sepeda balap Police Toronto 700C. Keduanya digunakan bergantian setiap hari sebagai transportasi menuju kantor yang berjarak sekitar 5 km. Sementara di akhir pekan ia memilih rute lebih panjang, sekitar 50-60 km.

“Sebelum pandemi, olahraga favorit saya lari, tiap hari lari dan hanya break di hari Senin. Tapi intensitas lari saya turunkan setelah pandemi,” ungkap Yovi ketika diwawancarai Tirto.

Aktivitas fisik dalam tingkat moderat memang membantu membentuk sistem imun di dalam tubuh. Namun olahraga dengan intensitas berat justru berpotensi meningkatkan risiko cidera, gangguan penyakit, dan infeksi karena imunitas tubuh jadi melemah.

Pilihan Yovi mengganti jenis olahraga tampaknya sudah tepat. Bersepeda selain membuat tubuh aktif bergerak juga lebih mudah mengontrol protokol kesehatan tetap terpenuhi, terutama soal menjaga jarak. Tapi itu dengan catatan volume pesepeda berbanding lurus dengan luas jalanan.

Yang terjadi saat ini, saking hype-nya aktivitas bersepeda, di hari-hari tertentu malah bikin kerumunan massa. Lihat saja gelaran CFD Jakarta beberapa waktu lalu. Meski aktivitasnya di ruang terbuka, jika dilakukan dengan intensitas waktu lama dan banyak orang maka risiko penularan virus tetap saja tinggi.

“Untuk menghindari keramaian saya biasanya gowes pagi-pagi, melintasi Sudirman, keluar ke arah Kota Tua,” Yovi mengungkapkan trik bersepedanya selama ini. Alih-alih pulang, ia berkeliling pelabuhan Batavia sembari menunggu CFD bubar.


Pesepeda Dadakan

Tren gowes kemudian memunculkan pesepeda-pesepeda dadakan. Yovi juga tak menampik hal tersebut. Ia mengakui bahwa banyak peminat cabang olahraga lain berbelok haluan, juga masyarakat umum. Sebenarnya gaya hidup ini bersifat positif. Jika menjadi kebiasaan anyar, tren bersepeda berpeluang mengurangi tingkat polusi udara.

Selain itu tingkat kesehatan masyarakat Indonesia bisa jadi meningkat. Efek turunannya akan mengurangi beban kesehatan secara nasional karena beberapa penyakit katastropik seperti gangguan jantung, ginjal, dan stroke—yang memakan biaya tertinggi pada BPJS—juga dipicu oleh kurangnya aktivitas fisik.

Hanya saja di sisi lain para pesepeda dadakan ini dituding menjadi penyumbang naiknya angka kecelakaan dan ketidakpatuhan berlalu lintas. Anda tentu masih ingat kasus kelompok pesepeda Bromton yang nyelonong masuk ke sebuah kafe di Semarang, Jawa Tengah pada pertengahan Juni lalu. Atau yang terbaru sekelompok pesepeda menerobos lampu merah di Tegal, Jawa Tengah.

“Merah coy, merah, merah,” demikian pengendara lain di sekitar meneriaki kelompok ini. Meski diberondong teriakan klakson, mereka tak acuh dan tetap santai mengayuh sepeda menyeberangi jalan raya.

Beberapa kecelakaan hingga menimbulkan korban jiwa juga dipicu kelalaian pesepeda. Misalnya seperti kejadian di Sukorejo yang menewaskan seorang pesepeda lantaran tidak memakai pelindung kepala. Banyak orang menganggap bersepeda merupakan olahraga ringan, sehingga mereka menyepelekan peralatan keselamatan seperti helm, sepatu, sarung tangan, dan pelindung mata.

“Selain itu protokol kesehatan juga harus dilaksanakan. Sepeda, khususnya di bagian yang tersentuh manusia langsung seperti stang, jok, frame wajib disemprot disinfektan,” ungkap Supriyadi, salah satu penggagas kegiatan gowes di kawasan Tangerang Selatan.

Pemilik jasa sewa sepeda Pondok Sepeda ini ikut menyambut antusiasme aktivitas gowes masyarakat. Hanya saja untuk meminimalisasi kecelakaan dan kesemerawutan di jalan, ia meminta pemerintah lebih aktif memberi sosialisasi soal keselamatan bersepeda, di samping kesadaran saling menghargai dan mematuhi aturan lalu lintas antar pengguna jalan.

Memang tak bisa dikesampingkan juga bahwa fasilitas bersepeda di negara kita belum terlampau mumpuni. Belum banyak jalur khusus yang diperuntukkan untuk sepeda. Jikapun tersedia, jalur sepeda ini kerap diisi pengguna motor atau mobil. Alhasil para pesepeda tetap harus terselip di sana-sini di antara ramainya mobil dan motor.

“Pada dasarnya tata aturan bersepeda cukup sederhana dan mudah di ikuti. Tapi kalau pesepedanya tidak patuh, sama saja. Jadi harus ada peran aktif dan kesadaran semua pihak,” kata Supriyadi.



Sesuaikan Penggunaan Masker

Semakin banyaknya pengguna sepeda di Indonesia selama fase kelaziman anyar ini mau tak mau membuat pemerintah putar akal membuat aturan keselamatan bagi pesepeda. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi membeberkan empat poin penting yang mungkin akan diketok sebagai protokol keamanan.

Pertama, kecuali sepeda yang dilengkapi tempat duduk, pesepeda dilarang mengangkut penumpang atau berboncengan. Memang sering kali sepeda dioperasikan dengan tidak tepat: mengangkut penumpang di sadel, stang, atau pijakan roda belakang.

Kedua, pengguna dilarang mengoperasikan perangkat seluler ketika sedang bersepeda. Ketiga, tidak boleh menggunakan payung kecuali pedagang asongan. Terakhir larangan untuk tidak berjalan berdampingan, apalagi sampai mengganggu lajur kendaraan lain.

Kabarnya Polda Metro Jaya juga tengah menyiapkan aturan tilang sepeda. Ancaman hukuman yang dipakai adalah Pasal 299 UU lalin dan angkutan jalan dengan sanksi denda Rp100 ribu hingga ancaman kurungan penjara 15 hari.

Aturan keselamatan sudah ada titik terang, lalu bagaimana dengan perlindungan kesehatan?

Bulan lalu santer berita yang menyatakan dua orang pesepeda di Semarang meninggal akibat memakai masker dan akhirnya kehabisan napas. Kejadian ini kemudian memicu sebagian orang menanggalkan masker mereka saat bersepeda. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bahkan ikut meminta warganya tidak menggunakan masker ketika berolahraga.

Isu lain kematian akibat berolahraga menggunakan masker di Indonesia dipicu rekam gambar yang beredar luas di media sosial. Video tersebut menayangkan seseorang yang meninggal akibat berlari menggunakan masker. Meski kebenarannya diragukan, kejadian serupa memang pernah terjadi di Cina.

Menanggapi polemik penggunaan masker saat olahraga, Michael Triangto, dokter spesialis kedokteran olahraga bersuara. Ia mengatakan sebelum berolahraga setiap individu harus paham betul kondisi tubuh, riwayat kesehatan, dan jenis masker yang digunakan.

“Kalau mau berolahraga di luar rumah harus tetap pakai masker agar mematuhi aturan,” katanya.

Pilih jenis masker yang sesuai, tak perlu masker medis seperti N95 karena lebih sesak. Yang terpenting tetap menjaga jarak aman saat berolahraga di luar ruangan. Kejadian di Cina diakibatkan penggunaan masker N95 oleh pelari. Padahal masker jenis ini khusus diperuntukkan bagi tenaga kesehatan yang berisiko langsung dengan pasien.

“Jika mulai sesak, tidak nyaman, dan sakit kepala, hentikan latihan,” tegasnya.

Riwayat kesehatan juga perlu dijadikan tolak ukur memilih jenis olahraga yang cocok. Jangan lupa tujuan utama berolahraga, yakni untuk mendapat kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut cukup lakukan olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang.

Semakin berat intensitas olahraga maka potensi cidera, gangguan penyakit, dan infeksi justru akan meningkat. Michael meyakini dalam volume ringan hingga sedang, penggunaan masker tidak akan mengganggu kesehatan.

Tapi lebih baik lagi jika tetap melakukan olahraga di rumah untuk meminimalisasi kontak dengan orang lain. Dalam kondisi seperti ini agaknya penggunaan sepeda statis lebih masuk akal dibanding mengambil risiko terpapar virus akibat berjubel gowes di jalanan.

Baca juga artikel terkait SEPEDA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight