Menuju konten utama

Tirto-Bank Jago Ajak Mahasiswa Undip Belajar Kesehatan Finansial

Melalui kelas yang digelar Tirto dan Bank Jago, mahasiswa Undip memperoleh materi terkait kesehatan finansial, pengembangan skill, hingga jurnalisme data.  

Tirto-Bank Jago Ajak Mahasiswa Undip Belajar Kesehatan Finansial
Suasana Kelas Tirto Semarang 2026 bersama Bank Jago. FOTO/tirto.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Mahasiswa FISIP Universitas Diponegoro (Undip) diajak belajar tentang kesehatan finansial sekaligus jurnalisme data lewat program Kelas Tirto 2026. Acara yang digelar Tirto bersama Bank Jago ini berlangsung di kampus Undip, Semarang, pada Kamis (21/5/2026).

Sustainability Program Activation Specialist Bank Jago, Andhina Aryani CFP, mengatakan mahasiswa perlu mulai memikirkan kesehatan finansial sejak dini. Menurutnya, rencana setelah lulus kuliah selalu punya konsekuensi biaya yang harus disiapkan dari sekarang.

“Teman-teman bisa mengatur maunya yang mana gitu ya. Tapi untuk bisa memilih, harus ada konsekuensinya kan? Karena semuanya butuh duit,” kata Andhina di depan mahasiswa.

Ia mencontohkan, mahasiswa yang ingin langsung kerja perlu menyiapkan biaya interview, transportasi, hingga pakaian kerja. Begitu juga yang ingin lanjut kuliah, berbisnis, atau mengambil gap year.

Menurut Andhina, banyak mahasiswa baru sadar pentingnya uang saat kesempatan datang. Padahal, kebutuhan seperti tes IELTS, biaya wisuda, modal usaha, hingga dana hidup saat merantau seharusnya mulai dipersiapkan sejak kuliah.

Ia lalu mengenalkan konsep pengelolaan keuangan sederhana untuk mahasiswa. Mulai dari membagi uang bulanan untuk kebutuhan hidup, hiburan, sampai tabungan masa depan.

“Nomor satu tuh langsung diamankan dulu uangnya yang memang harus ditagihkan gitu. Baru yang kedua tuh [untuk yang] fun gitu ya, senang-senangnya,” katanya.

Andhina menyarankan mahasiswa menyisihkan minimal 10 persen pemasukan untuk tabungan dan dana darurat. Ia menyarankan target menabung dibuat bertahap agar terasa lebih realistis.

“Kalau teman-teman setiap bulannya dapat Rp1,5 atau Rp2 juta dari orang tuanya, minimal banget Rp100 ribu atau Rp200 ribu itu udah harus ditabung duluan,” ujarnya.

Investasi Skill

Kelas Tirto Semarang 2026

Pemenang Quiz Kelas Tirto Semarang 2026 bersama Bank Jago. FOTO/tirto.id

Selain soal uang, Andhina menekankan pentingnya investasi kemampuan dan pengalaman selama masa kuliah. Menurutnya, mahasiswa tidak harus buru-buru fokus investasi finansial kalau memang pemasukan masih terbatas.

“Kalau misalnya belum ada duitnya tuh saya menyarankan bahwa investasi itu lebih baik dari leher ke atas gitu ya. Jadi investasi skill,” katanya.

Ia mendorong mahasiswa aktif ikut komunitas, kepanitiaan, organisasi, sampai membangun portofolio sejak dini. Pengalaman itu nantinya bisa menjadi modal saat mencari kerja.

Andhina juga mengingatkan pentingnya memperluas jaringan di luar kampus. Sebab, banyak peluang kerja dan proyek justru datang dari relasi komunitas.

“Banyak sekali informasi lokal itu bisa jadi tidak ada di sosial media, tapi kita tuh dapatnya dari orang-orang yang kita kenal dari komunitas,” katanya.

Dalam sesi tanya jawab, Andhina menanggapi keresahan mahasiswa soal target finansial berdasarkan umur. Ia menilai standar semacam itu sering dibentuk influencer media sosial dan tidak selalu relevan untuk semua orang.

Menurut dia, kondisi tiap orang berbeda-beda. "Ada yang start-nya dari nol, ada yang start-nya dari plus, ada yang start-nya dari minus,” ujarnya.

Meski begitu, ia menilai mahasiswa tetap perlu mulai membangun kebiasaan mengelola aset dan mengevaluasi kondisi keuangan secara rutin.

“Biasanya kita tuh di akhir tahun itu ngecek, apakah aset kita bertambah atau berkurang,” kata Andhina.

Dalam forum yang sama, mahasiswa juga mendapatkan pengenalan soal pengembangan skill dan kesiapan kerja lewat simulasi serta diskusi interaktif bersama tim Tirto dan Bank Jago.

Belajar Jurnalisme Data

Setelah talkshow literasi finansial, mahasiswa Undip mengikuti workshop jurnalisme data bersama Pemimpin Redaksi Tirto.id, Rachmadin Ismail.

Mengawali pemaparannya, Rachmadin menerangkan pentingnya penggunaan data dalam jurnalisme maupun kehidupan sehari-hari. Menurutnya, data bukan cuma alat pendukung berita, tetapi juga menjadi dasar argumentasi yang lebih aman dan sehat di ruang publik.

“Saya merasa data itu juga memberikan security. Jadi kalau kita berbicara pakai data itu relatif aman,” katanya.

Rachmadin mencontohkan banyak orang tersandung masalah hukum karena asal beropini tanpa dasar yang jelas. Sebaliknya, kritik berbasis data dinilai lebih kuat dan sulit dibantah.

“Jadi menurut saya kenapa orang harus berargumen pakai data, beropini pakai data, melamar kerja pakai data, berbisnis pakai data, satu dia aman punya dalilnya,” ujarnya.

Rachmadin juga menjelaskan penggunaan data tidak melulu berbentuk tabel atau angka rumit. Data bisa diolah menjadi video, visualisasi, hingga storytelling yang dekat dengan keseharian anak muda.

Ia mencontohkan bagaimana Tirto menggunakan data untuk melacak pola buzzer politik, fenomena konser musik, harga pangan, hingga perilaku Gen Z soal kepemilikan rumah.

Menurutnya, inti jurnalisme data terletak di tiga hal, yakni pengumpulan data, menentukan angle, lalu mengolahnya menjadi cerita yang mudah dipahami publik.

Dia juga menjelaskan bagaimana proses jurnalisme data di Tirto berjalan dari awal sampai menjadi artikel atau konten visual. Menurut dia, sumber data biasanya dibagi menjadi dua, yakni data primer dan data sekunder.

Namun, tantangan terbesar justru sering muncul setelah data terkumpul. Sebab data mentah biasanya masih berantakan dan perlu dibersihkan lebih dulu sebelum diolah menjadi cerita.

Rachmadin mengatakan proses cleaning data sekarang jauh lebih mudah karena terbantu teknologi AI. Jika dulu jurnalis harus memilah data satu per satu secara manual, kini proses itu bisa dipercepat.

“Kalau dulu kan kita masih harus filter di spreadsheet dan segala macam,” katanya.

AI kini dapat dipakai untuk membantu merapikan dokumen, mencari pola, membandingkan data lintas periode, sampai membuat tabel awal untuk kebutuhan riset.

Meski begitu, Rachmadin menegaskan AI hanya alat bantu. Menurutnya, unsur terpenting tetap ada pada kreativitas dan storytelling dari pembuat konten atau jurnalis itu sendiri.

Kelas Tirto Semarang 2026

Pemaparan materi Jurnalisme Data oleh Pemimpin Redaksi tirto.id Rachmadin Ismail. FOTO/tirto.id

Visual dan Cerita

Selain data, Rachmadin menilai visual juga menjadi elemen penting dalam jurnalisme di era digital. Ia mengatakan artikel dengan visual yang kuat cenderung lebih menarik perhatian pembaca dibanding tulisan polos tanpa ilustrasi.

“Konten yang tidak dibarengi dengan visual yang baik itu tidak terlalu appealing buat orang untuk baca,” katanya.

Ia menjelaskan proses kreatif visual di Tirto biasanya dimulai dari menentukan kata kunci dan tema utama dari sebuah tulisan. Setelah itu, tim akan mencari simbol atau konsep visual yang paling relevan dengan cerita.

Kadang visual dibuat secara literal, misalnya berita soal beras menggunakan ilustrasi beras. Namun, ada juga pendekatan simbolik atau lateral supaya pesan lebih terasa tanpa harus terlalu eksplisit.

Di sisi lain, Rachmadin mengingatkan, kemampuan dasar membuat konten sebenarnya tetap berawal dari menulis. Menurut dia, baik video, film, podcast, maupun konten media sosial semuanya tetap membutuhkan naskah dan struktur cerita yang kuat.

Kali Kedua ke Undip

Kelas Tirto Semarang 2026

Sesi Worksho Jurnalisme Data Kelas Tirto Semarang 2026. FOTO/tirto.id

Pelatihan di FISIP Undip tahun ini jadi kunjungan kedua Tirto. Sebelumnya, pada 2024 lalu, Tirto datang bersama TikTok untuk mengajak mahasiswa ikut melawan disinformasi terkait Pemilu.

Menurut Rachmadin, alasan Tirto kembali datang ke Undip karena melihat antusiasme mahasiswa cukup tinggi. Tahun ini, Tirto ingin memperluas kolaborasi lewat pelatihan konten berbasis data agar ruang digital bisa lebih sehat.

“Kami berharap seperti tahun lalu kami mengajak teman-teman untuk ikut memberantas disinformasi. Sekarang kita ingin juga teman-teman untuk berpartisipasi dalam rangka membuat ruang digital yang sehat dengan pendekatan konten berbasis data,” jelasnya.

Ia menilai pendekatan berbasis data penting dipahami bukan hanya oleh mahasiswa dari jurusan komunikasi, tapi juga bidang keilmuan lainnya. Kreator konten pun perlu untuk menerapkan pendekatan tersebut. Sebab, media sosial sekarang sudah jadi ruang utama penyebaran informasi sekaligus tempat hoaks berkembang cepat.

Rachmadin menyoroti perubahan besar di dunia media digital. Media mainstream saat ini tidak lagi memegang kendali penuh atas distribusi informasi karena peran itu sudah banyak diambil oleh media sosial dan kreator konten.

“Nah, kami akhirnya sekarang mengambil posisi di belakang. Kami lebih banyak men-support teman-teman new media,” katanya.

Sementara itu, Dekan FISIP Undip, Teguh Yuwono menilai mahasiswa beruntung bisa belajar langsung dari praktisi yang sehari-hari berkecimpung di dunia media digital dan finansial.

“Pada pagi hari ini kita mendapatkan kesempatan yang luar biasa, mendapatkan sesuatu yang kategorinya ini mewah,” kata Teguh.

Ia mengatakan tak semua mahasiswa punya kesempatan belajar langsung dari orang yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidangnya. Karena itu, kehadiran Tirto dan Bank Jago dinilai penting untuk membuka wawasan mahasiswa soal dunia digital saat ini.

“Tirto ini salah satu media digital. Tentunya kita bisa mendengarkan langsung dari beliau bahwa what we are moving now to the concept of digital communication, digital life, digital money,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait KELAS TIRTO atau tulisan lainnya dari Baihaqi Annizar

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Addi M Idhom