tirto.id - Ghazali Ahlam Jazali terpilih sebagai salah satu pemenang unggulan dalam ajang Apple Swift Student Challenge 2026. Pemuda berusia 23 tahun asal Klaten ini meraih penghargaan tersebut berkat aplikasi eksperimental inovatif bernama "They Have Your Fingerprint!".
Tidak sendirian, Ghazali ditemani oleh representasi Indonesia lainnya, Francesco Emmanuel Setiawan. Keduanya berhasil menembus jajaran top 50 pemenang unggulan terbaik Apple Swift Student Challenge 2026.
Kompetisi tahunan yang diinisiasi langsung oleh Apple Inc. ini menjadi wadah bagi para pelajar di seluruh dunia untuk menyalurkan kreativitas digital. Menggunakan bahasa pemrograman Swift, para peserta ditantang menciptakan aplikasi playground yang orisinal dan solutif.
Tahun ini, kurator Apple menyaring ratusan karya dari 37 negara dan wilayah, sebelum akhirnya menetapkan 350 pemenang. Dari ratusan finalis tersebut, dikerucutkan lagi menjadi 50 karya terbaik yang berhak menyandang gelar pemenang unggulan, termasuk karya Ghazali dan Francesco.
Sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian luar biasa ini, para pemenang unggulan diundang untuk berkunjung ke Apple Park di California, Amerika Serikat, untuk menghadiri Worldwide Developers Conference (WWDC) 2026 yang akan digelar Juni mendatang.
Selama tiga hari, Ghazali dan Francesco akan mengikuti rangkaian agenda eksklusif. Mereka tidak hanya berkesempatan menyaksikan sesi Keynote utama secara langsung, tetapi juga berdiskusi intensif dengan para ahli dan teknisi senior Apple, serta terlibat dalam sesi pelatihan berbasis praktik (hands-on labs).
Misi Ghazali Lindungi Privasi Lewat "They Have Your Fingerprint!"
Lahir di Klaten, Jawa Tengah, Ghazali Ahlam Jazali pernah menetap di banyak kota di Indonesia, dari Mojokerto, Yogyakarta, hingga Makassar. Sampai akhirnya, Ghazali pindah ke Surabaya untuk belajar di Apple Developer Academy pada 2025.
Lulusan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dari jurusan Ilmu Komputer ini tertarik menekuni dunia teknologi berkat motivasi dari sang ayah. Didorong oleh rasa semangat setiap kali berhasil memecahkan masalah, Ghazali mulai menjelajahi dunia pemrograman di bangku SMP, dan semakin serius mendalaminya di SMA.
Ghazali mengikuti beberapa kursus bahasa pemrograman secara online sebelum menemukan pengembangan iOS di mana ia dengan cepat memiliki apresiasi kuat terhadap Swift. Ia menyukai bagaimana fitur-fitur Swift mendorong developer untuk memiliki pemikiran terstruktur sebelum implementasi, menghasilkan code yang lebih bersih, lebih mudah dibaca, dan lebih mudah dijaga.
Apple Developer Academy menjadi titik balik yang sangat berarti bagi Ghazali, baik secara pribadi maupun profesional. Dulunya, Ghazali merupakan seorang idealis yang percaya bahwa segalanya harus berjalan tepat sesuai rencana. Namun, program Apple Developer Academy mengajarkannya cara fokus, bersikap realistis, dan memangkas fitur-fitur yang tidak esensial.
Meski ia sudah memiliki keterampilan teknis yang cukup kuat, Academy memberikan Ghazali pelajaran lain seperti ideasi dan desain aplikasi, yang memungkinkannya menjembatani kesenjangan antara ambisi besar dan eksekusi yang terarah.
Pendekatan ini tercermin dalam karya Swift Student Challenge miliknya, yakni "They Have Your Fingerprint!”, yang berhasil memenangkan penghargaan unggulan di ajang Apple Swift Student Challenge 2026.
Aplikasi playground ini mengangkat isu krusial yang sering diabaikan, yaitu privasi. Ghazali menyadari adanya titik buta yang umum terjadi: banyak orang keliru mengira bahwa sekadar menghapus cookies sudah cukup untuk melindungi privasi online mereka, tanpa menyadari bahwa metode pelacakan yang canggih masih beroperasi secara tak kasat mata di balik layar.
Untuk mengungkap hal ini, Ghazali membangun sebuah aplikasi playground edukatif dengan mini-game interaktif yang berpusat pada canvas fingerprinting, sebuah teknik pelacakan canggih yang mengidentifikasi pengguna melalui perbedaan halus dalam cara perangkat mereka merender font, warna, dan emoji.
"They Have Your Fingerprint!” menempatkan pengguna pada perspektif seorang pelacak, agar pengguna ke depannya bisa lebih berhati-hati.
Untuk membuat konsep yang abstrak ini menjadi nyata dan mudah dipahami, informasi disajikan melalui serangkaian dokumen virtual yang dirancang secara khusus, seperti name tag, paspor, kartu penerbangan, tiket, atau dokumen lain yang relevan dengan kehidupan sehari-hari banyak orang.
Seluruh pengalaman ini didasarkan pada keyakinan Ghazali bahwa langkah pertama untuk menyelesaikan masalah apapun adalah menyadari bahwa masalah tersebut memang benar-benar ada.
"Tujuan saya adalah mengambil ancaman privasi yang tak kasat mata seperti canvas fingerprinting, dan membuatnya terlihat agar orang-orang benar-benar dapat memahaminya. Dinobatkan sebagai Pemenang Unggulan Swift Student Challenge adalah kehormatan yang luar biasa karena menunjukkan bahwa Apple tidak hanya menghargai cara kita menulis code, tetapi juga masalah nyata yang coba kita selesaikan," beber Ghazali.
Untuk berikutnya, Ghazali berencana terus menyempurnakan aplikasi "They Have Your Fingerprint!” dengan tujuan merilisnya di App Store.
Masuk tirto.id

































