Thailand: Pusat Diaspora Cina Terbesar di Dunia

Oleh: Tony Firman - 10 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Populasi keturunan Cina di Thailand adalah yang terbesar di Asia maupun dunia. Jumlahnya sekitar tujuh juta jiwa.
tirto.id - Perayaan Imlek di Thailand bisa dipastikan selalu meriah dan penuh antusias setiap tahunnya. Hampir setiap rumah penduduk keturunan Cina menyalakan lilin, dupa, lengkap dengan suara petasan kembang api.

Di Thailand, perayaan Imlek berlangsung selama tiga hari dan memiliki fase masing-masing. The Nation menjelaskan, perayaan hari pertama atau bertepatan dengan malam tahun baru dikenal sebagai Wan Jai, hari ketika orang-orang berbelanja makanan dan bahan-bahan untuk ritual Imlek.

Keesokan harinya atau hari kedua disebut hari akhir tahun atau Wan Wai. Di hari tersebut orang-orang mulai berdoa untuk memohon kebaikan di sepanjang tahun berikutnya sekaligus menghormati para leluhur mereka. Kemudian di hari terakhir atau tahun baru dikenal sebagai Wan Thiew di mana orang-orang keturunan menggunakan baju baru dan mengunjungi para kerabat yang lebih tua.

Meriahnya Imlek di Thailand turut menyedot minat wisatawan untuk datang ke Bangkok dan provinsi-provinsi terdekat lainnya.

Pada perayaan Imlek tahun 2019 ini misalnya, selama libur sepekan dari tanggal 4 hingga 10 Februari, Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) memperkirakan ada lebih dari satu juta kedatangan turis asing ke negeri gajah putih itu. Perkiraan ini naik delapan persen dari tahun sebelumnya seperti dilansir dari Bangkok Post.

Dari satu juta target turis asing, diharapkan ada 330 ribu yang datang dari Republik Rakyat Cina (RRC), naik empat persen dari musim lalu, dan bisa memberikan kontribusi sekitar 10,2 miliar baht, naik 12 persen.

Populasi keturunan Cina di Thailand memang yang terbesar di Asia maupun dunia. Dari sensus tahun 2010 sampai 2014, jumlahnya mencapai sekitar tujuh juta jiwa, disusul Malaysia 6,6 juta jiwa dan Amerika Serikat 4,7 juta jiwa. Hampir semua keturunan Cina di Thailand atau disebut Cina Thai mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Thailand. Mereka berasimilasi dengan baik dan erat. Perkawinan campur, berbahasa Thailand dengan fasih, bergaul dengan orang-orang Thailand, dan juga mewarnai perpolitikan dan perekonomian negara tersebut.

Lantas, mengapa Thailand bisa memiliki begitu banyak komunitas keturunan Cina?

Muasal Keturunan Cina di Gajah Putih

Diperkirakan, orang Cina telah berimigrasi ke Siam (Thailand) setidaknya selama enam abad terakhir. Dalam catatan Global-is-Asian (GIA), sejak zaman Raja Taksin yang memerintah Kerajaan Thonburi antara 1767 sampai 1782, sejumlah besar imigran Cina telah ada dan berkontribusi pada tenaga kerja dan pajak negara. Antara 1825 sampai 1910, populasi Cina di Thailand meningkat tiga kali lipat dari 230 ribu menjadi 792 ribu jiwa.


Namun beberapa sumber sejarah lain meyakini orang Cina sudah datang sejak abad 13, saat Kerajaan Sukhothai, Thailand diperintah oleh Raja Ram Kamheng. Diketahui Raja Ram Kamheng pernah mengunjungi Cina sebanyak dua kali, pada 1294 dan pada 1300. Sekembalinya di kunjungan pertama, Ram membawa sejumlah pengrajin Cina untuk membikin aneka tembikar dan sejenis.

Keturunan Cina yang datang dan menetap di Thailand tidak datang dari satu suku saja. Antonio Rappa dalam “Thailand’s Chinese Population: Teochiu Speakers and Political Identity” (2014) mencatat, ada lima suku besar etnis Cina yang ada di Thailand. Mereka adalah suku penutur bahasa Teochiu sebesar 56 persen atau sekitar 3,64 juta jiwa, Hakka sebesar 16 persen atau 1,3 juta jiwa, kemudian Hainan, Kanton dan Hokkian yang masing-masing membentuk populasi sebesar 11 persen atau 1,56 juta jiwa.

Dari sederet keturunan Cina yang menjadi orang Thailand, suku Teochiu adalah yang paling banyak memegang jabatan strategis dari politik sampai bisnis.

Sejak bermigrasi ke tanah Siam, orang Cina langsung mudah berasimilasi dengan penduduk lokal. Terlebih di sepanjang era pemerintahan Ayutthayan (1357-1767), orang-orang Cina dikelompokkan dan diberi kepala pemimpin atau kapten Cina yang dimasukkan ke dalam struktur jabatan pemerintahan.

Saking cairnya hubungan pendatang Cina dengan penduduk lokal, G. William Skinner dalam "Chinese Assimilation and Thai Politics" (1957) mencatat pada abad ke-19 beberapa anak dan hampir semua cucu migran Cina mencapai tingkat asimilasi yang lengkap dengan masyarakat Thailand. Bahkan keturunan Cina generasi keempat hampir tidak terdengar, bukan karena lenyap tetapi karena mereka sukses menjadi orang Thailand.

Selain faktor kebijakan pemerintah yang merangkul dan memberdayakan mereka, ada banyak faktor lain yang membuat proses asimilasi berjalan cepat dan alamiah. Secara umum, ada banyak kesamaan antara Thailand dan Cina. Makanan, misalkan, mereka sama-sama mengonsumsi nasi, ikan, dan daging babi.

Lalu asimilasi juga makin alamiah karena perkawinan campur. Pada awal abad 20, wanita Cina hampir tidak ikut bermigrasi ke Thailand. Karenanya, migran Cina di Thailand menikahi wanita lokal. Perkawinan ini yang kemudian melahirkan apa yang disebut luk-jin, anak yang lahir dari ayah Cina dan ibu Thailand.

Selain itu, menurut Skinner, asimilasi sebelum abad ke-20 juga didukung oleh tidak adanya sentimen nasionalis antara migran Cina dengan penduduk Thailand.

Pasang Surut Hubungan

Meski begitu, hubungan komunitas Cina dengan orang Thailand bukannya tidak pernah bergejolak. Setelah menikmati masa-masa hubungan harmonis beberapa abad, ketegangan antara penduduk Cina dengan pemerintah kerajaan terjadi pada masa pemerintahan Raja Rama VI (memerintah dari 1910-1925)

Kenneth Perry Landon dalam "The Problem of the Chinese in Thailand" (2014) menyebut, pada tahun pertama pemerintahan Raja Rama VI, penduduk Cina dikenai pajak tinggi dari yang semula per tahunnya 1,5 bath melonjak menjadi tujuh bath. Akibatnya, terjadi ketegangan yang berujung mogok massal pada 1911. Mereka menutup pertokoan, dan berhenti menjalankan bisnis lainnya. Thailand mengalami kelumpuhan.


Dalam waktu nyaris bersamaan, nasionalisme Cina meningkat karena kemenangan kaum revolusioner Cina lewat koalisi gerakan Sun Yat-sen yang menggulingkan Dinasti Qing dan melahirkan Republik Cina. Kemenangan ini didengar oleh perantau Cina di Thailand dan mereka ikut gembira serta membangkitkan rasa nasionalisme dalam diri mereka.

Di tengah gejolak politik itu, Raja Rama VI malah turut menghembuskan sentimen anti-Cina ketika dia menyebarkan tulisannya di surat kabar berbahasa Thailand pada 1914. Dengan menggunakan nama pena Asavabahu, ia menyebut perantau Cina di Thailand sebagai “orang Yahudi di Timur” yang mementingkan diri sendiri ketimbang orang lain.

Infografik Etnis cina di Thailand
Infografik Etnis cina di Thailand



Sejak itu, pandangan sebagian besar orang Thailand terhadap orang Cina berubah. Ditambah, di era tersebut terdapat kesenjangan ekonomi yang menyebabkan sebagian orang Thailand kerap mengeskpresikan keadaan dengan menghina orang Cina.

Pada periode ini, perempuan Cina mulai banyak yang bermigrasi ke Thailand dalam jumlah yang jauh lebih besar pasca ambruknya Dinasti Qing. Karena ini pula, sesama perantau Cina saling menikah dan membentuk komunitas kebangsaan sendiri, dan orang Thailand memandang mereka sebagai orang asing.

Bahkan setelah abad 20, sentimen anti-Cina ini masih berjalan. Para nasionalis garis keras pernah merumuskan kebijakan Thaification yang bertujuan menyeragamkan kebudayaan dan identitas Thailand. Chee Kiong Tong dan Kwok B. Chan dalam Alternate Identities: The Chinese of Contemporary Thailand (2001) pernah menguraikan, bentuk-bentuk kebijakan Thaification selanjutnya adalah mengurangi pendatang Cina, hingga melarang sekolah-sekolah Cina.

Ini terjadi ketika rezim junta militer yang dipimpin Plaek Phibunsongkhram menguasai Thailand (1938-1944, dan 1948-1957). Ironisnya, Plaek adalah cucu dari seorang imigran asal Cina. Karena kebijakan Plaek ini, sebagian besar warga keturunan Cina di Thailand kehilangan identitas etnis mereka, termasuk nama-nama Cina.

Pernah dengar kondisi yang sama terjadi di Indonesia?

Baca juga artikel terkait ETNIS TIONGHOA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Tony Firman
Editor: Nuran Wibisono