Menuju konten utama

Tertekan Sentimen Fitch, Rupiah Ditutup Loyo ke Rp16.892 per US$

Rupiah terkoreksi sebesar 20 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.872.

Tertekan Sentimen Fitch, Rupiah Ditutup Loyo ke Rp16.892 per US$
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.892 pada perdagangan hari ini, Rabu (4/3/2026). Rupiah terkoreksi sebesar 20 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.872.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar melemahnya nilai rupiah disebabkan dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal melemahnya rupiah, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Meski demikian, peringkat kredit jangka panjang mata uang asing atau Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating/IDR) tetap di level BBB.

"Revisi outlook mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi pengambilan keputusan," sebut Ibrahim dalam keterangannya, Rabu.

"Kondisi itu dinilai dapat menekan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, serta memberi tekanan terhadap ketahanan eksternal," lanjut dia.

Di sisi lain, Ibrahim menyebutkan, Fitch tetap mempertahankan peringkat BBB karena Indonesia dinilai memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Hal itu didukung oleh prospek pertumbuhan jangka menengah, rasio utang pemerintah yang moderat terhadap produk domestik bruto (PDB), serta cadangan eksternal yang masih memadai.

Ibrahim berujar, Fitch memproyeksikan defisit fiskal Indonesia pada 2026 akan berada di kisaran 2,9 persen PDB, lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7 persen. Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif serta peningkatan belanja sosial, termasuk program makan bergizi gratis (MBG).

Sementara itu, Bank Indonesia mengisyaratkan pemantauan ketat terhadap dampak inflasi dari kenaikan harga energi global dan guna menjaga rupiah.

"BI tetap dipasar dengan melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forwade [NDF] di pasar Offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forwade [DNDF] dipasar domestik, disertai dengan pembelian surat berharga [SBN] dipasar sekunder," tutur Ibrahim.

Sementara itu, Ibrahim menyebutkan, faktor eksternal melemahnya rupiah adalah para pedagang mempertimbangkan risiko pasokan di tengah konflik Timur Tengah yang meluas, dimulai pada akhir pekan ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap militer Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Menurut Ibrahim, situasi terus memburuk ketika pasukan Israel dan AS melakukan serangan tambahan terhadap fasilitas yang terkait dengan Iran. Lalu, Iran menanggapi dengan meningkatkan pengerahan militer di Teluk dan mengeluarkan peringatan kepada operator pelayaran global.

Teheran juga menargetkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur air sempit yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global. Otoritas Iran bersumpah akan menyerang kapal apa pun yang melewati selat tersebut.

"Ancaman terhadap Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak mentah dari produsen utama termasuk Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, telah menyuntikkan premi risiko geopolitik yang signifikan ke dalam harga minyak," urai Ibrahim.

"Mereka mencatat laporan yang mengatakan Irak telah mulai menghentikan produksi di ladang Rumaila, ladang terbesar di negara itu, dan di West Qurna 2, dengan 1,2 juta barel per hari dihentikan produksinya," lanjutnya.

Ibrahim berujar, Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan menyediakan pengawalan untuk kapal komersial jika perlu dan menjanjikan dukungan pemerintah untuk menjamin jalur pelayaran yang aman.

"Meskipun eskalasi militer telah menopang harga, tanda-tanda upaya internasional untuk mengamankan jalur pelayaran dapat meredam kenaikan lebih lanjut dalam waktu dekat," ucap Ibrahim.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana