tirto.id - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 2,8 persen secara tahunan (yoy) pada semester I-2026. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tergerus menjadi Rp1,92 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,97 triliun.
Penurunan profitabilitas tersebut dipicu oleh melesatnya harga pokok penjualan (HPP) akibat tingginya biaya bahan baku impor serta tekanan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Investor Relations Kalbe Farma, Alexandra Winstan, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dan dinamika pasokan bahan baku secara langsung menekan marjin keuntungan perusahaan, baik pada tingkat kotor maupun bersih.
"Margin laba kotor menurun akibat kenaikan harga bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah, serta perubahan barang... Margin laba bersih juga mengalami penurunan seiring meningkatnya harga pokok penjualan, biaya operasional, serta beban non-operasional," ujar Alexandra dalam Public Expose, Jumat (11/9/2026).
Berdasarkan laporan kinerja keuangan semester I-2026, marjin laba kotor (gross profit margin/GPM) KLBF terkoreksi dari 41 persen pada semester I-2025 menjadi 37,6 persen pada semester I-2026.
Laba kotor tercatat naik tipis dari Rp7 triliun menjadi Rp7,31 triliun, tetapi peningkatannya tidak mampu mengimbangi laju kenaikan HPP dan beban operasional.
Di tengah tekanan marjin, emiten farmasi terbesar di Indonesia ini masih mencatatkan pertumbuhan penjualan bersih yang positif. Penjualan konsolidasi KLBF tumbuh 14 persen yoy menjadi Rp19,47 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp17,07 triliun.
Menghadapi tantangan geopolitik, perang dagang, dan penurunan daya beli konsumen domestik, manajemen KLBF menyiapkan sejumlah langkah mitigasi operasional. Strategi tersebut meliputi pengamanan ketersediaan bahan baku, diversifikasi mata uang impor, serta optimalisasi efisiensi biaya pemasaran dan operasional.
"Sebagai strategi investasi untuk redefinisi atau reposisi pasar, kami tetap menjaga disiplin dalam pengelolaan operasional. Fokus kami pada efektivitas pemasaran, pengendalian biaya, dan optimalisasi kegiatan operasional," kata Alexandra menambahkan.
Perseroan juga mencatatkan penurunan rasio beban operasional terhadap penjualan dari 26,7 persen pada semester I-2025 menjadi 24,9 persen pada semester I-2026. Komposisi ini terdiri dari beban penjualan sebesar 19,8 persen, beban umum dan administrasi 3,8 persen, serta beban riset dan pengembangan (R&D) sebesar 1,2 persen.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































