Menuju konten utama

Tertahan di Qatar, Wamen HAM: Suasana Mirip saat Wabah COVID-19

Akibat kondisi ini, Kementerian HAM berencana membatalkan partisipasi langsung di Sidang Dewan HAM PBB pekan ini.

Tertahan di Qatar, Wamen HAM: Suasana Mirip saat Wabah COVID-19
Wamen HAM, Mugiyanto, tertahan tertahan di Doha, Qatar, sejak Sabtu (28/2/2026) sore dalam perjalannya menuju ke Jenewa, Swiss untuk menghadiri Sidang Dewan HAM PBB. Foto/Dok. Istimewa.

tirto.id - Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Mugiyanto, masih tertahan di Doha, Qatar, sejak Sabtu (28/2/2026) sore dalam perjalannya menuju ke Jenewa, Swiss, untuk menghadiri Sidang Dewan HAM PBB. Situasi ini merupakan imbas eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan koalisi Amerika Serikat (AS)-Israel.

Dia mengaku sempat antre selama 8 jam untuk menunggu status penerbangan dan mendengar suara dentuman. Katanya, hingga saat ini, dia masih berada di Wisma Indonesia di Doha.

"Dentuman-dentuman terakhir di Doha kami dengar kemarin jam 08.00 pagi. Setelah itu tidak ada sampai jam 07.30 tadi. Kami optimistis ruang udara akan dibuka. Tetapi jam 08.00 tadi ada dentuman," kata Mugiyanto kepada Tirto, Senin (2/3/2026).

Berdasarkan perhitungan waktu, menuruti Mugiyanto, dentuman terakhir terdengar di Doha pada pukul 12.00 WIB hari ini. Iran memang melancarkan serangan balasan atas serangan AS-Israel, salah satunya ke pangkalan AS di Qatar.

Mugiyanto yang masih tertahan di Wisma Indonesia mengaku tidak diizinkan untuk ke luar rumah, sama seperti warga Qatar lainnya. Kata Mugiyanto, suasananya mirip seperti saat wabah COVID-19 melanda.

"Gak bisa ke luar rumah, seperti saat pandemi Covid," ujar Mugiyanto.

Mugiyanto mengatakan hingga saat ini belum ada informasi soal penerbangan Doha-Jenewa dari Bandara Internasional Hamad Doha.

"Masih belum ada (informasi)" turut Mugiyanto.

Dia juga menjelaskan lini masa perjalanannya hingga tertahan di Doha. Katanya, pada Sabtu (28/2/2026) pukul 09.05 waktu Doha, pesawat yang ditumpanginya take off dari Bandara Doha menuju Jenewa.

Setelah beberapa waktu berputar di udara, pesawat kembali ke Doha pukul 11.15. Setelah mengantre selama sekitar 8 jam, para penumpang termasuk Mugiyanto diminta untuk mencari penginapan karena kondisi penerbangan yang tidak memungkinkan.

"Lalu, kami dijemput Dubes RI Pak Guruh," ucap Mugiyanto.

Hingga saat ini, Mugiyanto dan rombongan masih menunggu arahan dari Dubes Indonesia untuk Qatar, Syahda Guruh Langkah Samudera, yang terus berkoordinasi dengan otoritas Qatar dan Indonesia.

Sebagai informasi, Mugiyanto berangkat ke Jenewa untuk mengikuti Sidang ke-61 Dewan HAM PBB. Dia menyebut di tengah ketidakpastian penerbangan akibat konflik militer di Timur Tengah ini, Kementerian HAM merencanakan untuk membatalkan partisipasi langsung di Sidang Dewan HAM PBB pekan ini.

Bahkan, kata Mugiyanto, jika keamanan masih terus tidak memungkinkan, maka partisipasi Indonesia di Sidang ke-61 Dewan HAM akan sepenuhnya dilakukan oleh perwakilan tetap Indonesia di Jenewa.

Lebih lanjut, dia menuturkan bahwa pemerintah Qatar telah memberlakukan status darurat nasional. Warga diimbau untuk tetap berada di rumah, menunda segala bentuk perjalanan, serta menjauhi kawasan militer.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - Flash News
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Fadrik Aziz Firdausi