Terlalu Tampan: Berhasil Jual Muka dan Gimik, Sayang Kedodoran

Oleh: Faisal Irfani - 3 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Bagaimana keunggulan fisik seseorang justru mendatangkan banyak malapetaka?
tirto.id - Wajah rupawan tak selalu mendatangkan keuntungan. Ia hanya bikin seseorang terisolasi dari lingkungan sosialnya, mempertanyakan jati dirinya sebagai manusia, serta rentan merusak jalinan pertemanan yang sudah dibangun. Singkat kata, kegantengan kerap menjelam ironi.

Inilah yang kira-kira menjadi premis Terlalu Tampan, film terbaru keluaran Visinema Pictures yang disutradarai Sabrina Rochelle Kalangie. Sebagaimana judulnya, Terlalu Tampan mengeksplorasi keunggulan fisik manusia dari sudut pandang yang lain. Yang hendak ditekankan: bagaimana jika ketampanan itu pada akhirnya justru bikin malapetaka?

Alkisah, terdapat anak muda bernama Mas Kulin (Ari Irham) yang diberkahi (atau entah dikutuk, karena keduanya, dalam film ini, bedanya tipis) kegantengan tiada tanding. Ia hampir sempurna; rambutnya berombak, hidungnya mancung, matanya bersinar, dan kulitnya putih bak bengkuang. Di usianya yang masih menginjak masa puber, Mas Kulin sudah seperti bintang drama Korea yang banyak digandrungi para wanita.


Kegantengan Mas Kulin merupakan warisan turun temurun keluarganya. Ayahnya, Pak Archewe (Marcelino Lefrandt), pernah jadi playboy sewaktu muda, sebelum akhirnya bertobat dan menikah dengan Bu Suk (Iis Dahlia). Sementara kakak Mas Kulin, Mas Okis (Tarra Budiman), juga sami mawon. Wajah tampannya membuat dirinya punya banyak penggemar yang militan, baik di dunia nyata maupun maya.

Tumbuh dengan wajah ganteng nyatanya tak selalu bikin Mas Kulin bahagia. Seiring waktu, Mas Kulin mulai terus-menerus mempertanyakan kegantengan yang ada pada dirinya. Ia merasa kegantengan itu telah merebut kebebasannya sebagai anak muda. Ia, misalnya, tak leluasa keluar rumah sebab akan ada banyak orang yang memburunya untuk sekadar foto bersama atau melihat secara lebih dekat senyum yang merekah dari bibirnya. Walhasil, hidup Mas Kulin, selama belasan tahun, dihabiskan di rumah. Ia takut memperlihatkan wajahnya, ia takut menyaksikan dunia.

Hingga akhirnya, setelah masuk perangkap buatan anggota keluarga yang lain, Mas Kulin bersedia keluar rumah. Menjelang ujian nasional, ia memutuskan untuk pindah sekolah di SMA khusus laki-laki. Dari sini, hidup Mas Kulin seketika berputar dengan begitu cepat seperti halnya roller coaster.

Menarik tapi Gagal Fokus

Kisah dalam Terlalu Tampan diadaptasi dari komik daring dengan judul sama bikinan Muhammad Ahmes Avisiena Helvin dan Savenia Melinda yang beredar melalui layanan Line Webtoon. Komik ini pertama kali dirilis pada Maret 2017 dan sudah dibaca sebanyak lebih dari sembilan juta kali. Total, terdapat 100 episode yang bisa dinikmati dalam bahasa Inggris, Mandarin, hingga Thailand.

Jualan dalam komik Terlalu Tampan ialah gaya bertutur yang lekat dengan manga, lengkap dengan pelbagai adegan-adegan yang diharapkan mampu membuat pembaca tertawa. Faktor inilah yang kemudian mendorong Visinema untuk tetap mempertahankan ciri khas tersebut dalam medium film.

Upaya Visinema bisa dibilang cukup berhasil. Sepanjang durasi film berjalan, banyak gimik menarik. Sebagian besar gimik yang muncul membuat Terlalu Tampan menjadi lebih semarak. Misalnya saat trio onar bernama 3 Tak yang dipimpin Sidi (Dhimas Danang) diperkenalkan kepada penonton. Meski berstatus sebagai sekumpulan tukang risak di SMA Horridson, tempat Mas Kulin menimba ilmu, mereka diperkenalkan dengan penuh lelucon, yang sama sekali tidak memperlihatkan wajah-wajah kengerian seorang perisak.


Gimik ini pula yang membikin adegan kunjungan Mas Kulin ke sekolah khusus perempuan guna mengantarkan proposal ajakan prom night terlihat begitu dramatis. Adegan Mas Kulin ketika membuka helmnya, yang lantas membuat murid-murid perempuan di sana mabuk kepayang, divisualisasikan seperti ledakan bom atom.

Keberadaan gimik yang beragam itu sejalan dengan latarbelakang cerita dalam Terlalu Tampan: kehidupan anak-anak SMA. Keputusan Sabrina, selaku sutradara dan penulis naskah, untuk menyertakan gimik-gimik ini kiranya tepat belaka. Dengan gimik yang ada, Sabrina berhasil menggambarkan dinamika muda-mudi yang penuh letupan gairah dan kekonyolan-kekonyolan yang mengundang gelak tawa. Gimik, dalam Terlalu Tampan, tak ubahnya bumbu penyedap yang membikin sebuah masakan kian mantap untuk disajikan.

Infografik misbar Terlalu Tampan
Infografik misbar Terlalu Tampan. tirto.id/Fuad


Sayangnya, kehadiran gimik tersebut tak mampu menutup lubang yang menganga akibat jalan cerita yang tak fokus. Sabrina seperti kehilangan ritme dalam usahanya meramu plot. Ketidakmampuan ini bisa disimak menjelang film berakhir manakala cerita mengenai Kibo (Calvin Jeremy), sahabat Mas Kulin, yang naksir Rere (Rachel Amanda) lebih banyak mengambil panggung. Bahkan, saking besarnya porsi yang diambil, narasi utama yang berpijak pada sosok Mas Kulin terlihat seperti cerita sampingan yang melengkapi relasi asmara Kibo-Rere.


Selain itu, lagi-lagi, sebagaimana penyakit film Indonesia pada umumnya, konflik utama dalam Terlalu Tampan tak jauh-jauh dari urusan cinta yang kelewat klise. Tak ada pembaharuan dan upaya eksplorasi dari Sabrina untuk mengolah konflik agar nampak segar. Alih-alih menjual barang dagangan yang baru, Sabrina justru mengambil barang lama yang hasilnya sudah bisa ditebak.

Ruang untuk mengembangkan konflik sebenarnya tersedia begitu luas. Sabrina, contohnya, dapat menempatkan Mas Kulin dan Kibo dalam petualangan untuk mencari penyebab mengapa kegantengan Mas Kulin menjadi seperti kutukan. Atau bisa juga Sabrina memaksimalkan karakter-karakter yang berpotensi menambah kompleks cerita dalam Terlalu Tampan namun sekadar dijadikan tempelan semata macam Amanda (Nikita Willy) maupun Sidi.

Kesempatan-kesempatan tersebut nyatanya tak dijajaki secara serius dalam Terlalu Tampan. Alur film ini hanya bermuara pada sesuatu yang, sekali lagi, basi. Setelah melewati 30 sampai 45 menit pertama dengan antusias, tiba-tiba perasaan saya dipenuhi kebosanan yang teramat. Terlalu Tampan memang cukup menjual, tapi ia tak cukup esensial.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Film)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono